JawaPos.com – Proses panjang dan penuh tantangan akhirnya membuahkan hasil. Azizah Syafa Arabella dan Azzahra Syifa Adelia, bayi kembar siam asal Ngawi yang lahir dengan kondisi dempet pada panggul (pygopagus), berhasil dipisahkan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan siap dipulangkan dalam kondisi stabil.
Direktur RSUD Dr. Soetomo, Prof. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengungkapkan bahwa kasus ini merupakan salah satu operasi dengan tingkat kesulitan yang tinggi. "Dempetan melibatkan panggul, tulang belakang, dan saraf vital, yang membuat proses pemisahan harus dilakukan dengan perencanaan sangat matang," ujarnya saat melepas kepulangan bayi, Senin (13/1).
Operasi dilakukan pada 4 November 2024, dimulai pukul 08.20 pagi dan selesai pada 02.30 dini hari keesokan harinya. Proses ini memakan waktu 18 jam 10 menit, melibatkan 126 tenaga medis lintas disiplin, termasuk ahli bedah anak, ortopedi, neonatologi, dan anestesiologi.
Adapun, tahapan operasi meliputi:
1. Pembiusan dan persiapan: Dilakukan dengan cermat untuk memastikan kedua bayi stabil selama operasi.
2. Pemisahan jaringan lunak: Bagian ini melibatkan pemisahan otot, pembuluh darah, dan organ yang berbagi fungsi.
3. Rekonstruksi tulang panggul dan saraf: Tahapan paling kritis karena menyangkut saraf yang mengontrol fungsi tubuh bagian bawah.
4. Pembuatan stoma: Dibutuhkan karena keduanya hanya memiliki satu anus, sehingga dibuat saluran pembuangan sementara.
5. Penutupan luka: Melibatkan ahli bedah plastik untuk memastikan luka tertutup sempurna dan meminimalkan risiko infeksi.
“Dempetan saraf tulang belakang menjadi tantangan terbesar. Jika tidak hati-hati, ini bisa menyebabkan kelumpuhan atau komplikasi lain. Namun, dengan koordinasi yang baik, semua berjalan lancar,” jelas dr. Wurry Ayuningtyas, Sp.A, spesialis anak yang terlibat dalam tim operasi.
Pascaoperasi, kedua bayi menjalani perawatan intensif selama tiga bulan di ruang NICU. Azizah menjalani tiga operasi tambahan untuk memperbaiki luka bekas separasi, sedangkan Azzahra menjalani dua operasi. Saat ini, luka keduanya terus membaik, dan mereka dinyatakan aman untuk rawat jalan.
Prof. Cita menambahkan, “Keduanya akan terus dipantau, terutama pertumbuhan fisik dan fungsi organ. Kami siap memberikan konsultasi kapan pun diperlukan.”
Sejak 1975, RSUD Dr. Soetomo telah menangani 126 kasus kembar siam dengan 5 operasi yang masih menunggu. Keberhasilan ini menegaskan reputasi rumah sakit sebagai pusat rujukan nasional, terutama untuk wilayah Indonesia bagian timur. Dengan peralatan canggih dan tenaga medis berpengalaman, RSUD Dr. Soetomo terus menjadi harapan bagi kasus-kasus medis kompleks seperti ini.