JawaPos.com – Tim laboran dan dosen dari Program Studi Teknik Mesin dan Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) kembali menorehkan prestasi. Mereka menciptakan alat bantu pengelasan gesek berputar (Rotary Friction Welding atau RFW) yang inovatif dan multifungsi. Berkat temuan ini, tim berhasil menyabet penghargaan terbaik pertama kategori rekayasa teknologi dalam ajang Karya Inovasi Laboran 2024 yang digelar oleh Kemendikbudristek.
Ketua tim, Thomas Widyadmoko menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari kebutuhan mendesak untuk memiliki alat pengelasan solid state seperti RFW di laboratorium. Namun, harga mesin khusus RFW yang mencapai Rp 1 miliar menjadi kendala utama.
"Kami mencoba memanfaatkan mesin bubut lama di laboratorium dan mengubahnya menjadi alat yang mampu menjalankan fungsi RFW. Dengan alat bantu ini, mesin bubut tidak hanya berfungsi untuk proses bubut tetapi juga bisa digunakan untuk pengelasan gesek," ujar Thomas kepada Jawa Pos, Jumat (6/12).
Alat bantu ini terdiri dari tiga komponen utama:
1. Sistem Penjepit dan Penekan
Berfungsi untuk menahan benda kerja selama proses pengelasan.
2. Pompa Hidrolik dan Sistem Hidrolik Untuk menghasilkan tekanan yang dibutuhkan dalam dua tahap proses: friction (gesekan) dan forcing (penekanan).
3. Panel Kontrol
Digunakan untuk mengatur tekanan dan waktu dalam proses pengelasan.
Keunggulan alat ini terletak pada desainnya yang kompatibel dengan berbagai mesin bubut manual. Selain itu, biaya produksinya sekitar Rp 50 juta jauh lebih terjangkau dibandingkan mesin RFW di pasaran. “Proses pengelasannya juga sangat cepat, hanya memakan waktu 8 detik, sementara alat lain bisa membutuhkan waktu hingga 2 menit,” tambah Thomas.
Alat ini juga mudah dipasang dan dibongkar sehingga fleksibel untuk berbagai penelitian. Bahkan, alat ini sudah digunakan oleh mahasiswa Ubaya dan juga mahasiswa pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) untuk tugas akhir. Hasilnya mendapat respons positif karena kualitas sambungan yang kuat dan presisi.
Inovasi ini tidak hanya mendukung penelitian mahasiswa dan dosen, tetapi juga membuka peluang besar bagi UMKM dan industri lokal. "Komponen seperti poros roda mobil atau konektor elektronik yang memerlukan sambungan antara material aluminium dan tembaga dapat dibuat lebih hemat menggunakan alat ini," jelas Misdi, anggota tim laboran.
Meski waktu pengerjaan alat ini relatif singkat, hanya 1,5 bulan dari tenggat tiga bulan, prosesnya tidak tanpa tantangan. "Kesulitan utama adalah menyelaraskan sumbu dua benda kerja agar pengelasan benar-benar presisi," ungkap Misdi. Tim memerlukan dua hari dengan lima kali percobaan untuk menyempurnakan alat tersebut.
Tim yang terdiri dari Thomas, Misdi, dan Prihartono telah bekerja bersama sejak 1993. Kekompakan mereka menjadi faktor kunci dalam menyelesaikan proyek ini. "Kami saling memahami satu sama lain, sehingga apa pun pekerjaan yang kami hadapi bisa terselesaikan dengan baik," imbuh Thomas.
Ke depannya, tim berencana untuk mengembangkan versi otomatis dari alat bantu ini agar lebih efisien. Mereka juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai industri untuk mereplikasi alat ini. “Harapan kami, alat ini bisa terus berkembang dan menjadi solusi teknologi tepat guna untuk mendukung penelitian dan kebutuhan industri,” pungkasnya.