Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 November 2024 | 13.06 WIB

Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah Minta Saluran Air Harus Terkoneksi

Salah satu proyek saluran air di Surabaya. (Antara) - Image

Salah satu proyek saluran air di Surabaya. (Antara)

JawaPos.com–Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah mengingatkan pemkot agar seluruh saluran air di Surabaya berfungsi dengan baik saat musim hujan. Baik itu saluran utama di tengah kota hingga saluran sekunder hingga tersier di kampung-kampung harus terhubung atau terkoneksi.

Dia mengatakan, interkoneksi saluran itu harus berfungsi maksimal. Sebab, semua berharap saat kota diguyur hujan deras dalam waktu lama tidak meninggalkan masalah genangan.

”Limpahan air hujan itu mengalir melalui saluran gorong-gorong hingga terbuang di laut,” ujar Laila Mufidah seperti dilansir dari Antara.

Pimpinan DPRD itu meminta dinas terkait yakni Dinas Bina Marga dan Pematusan untuk mengecek fungsi saluran.

”Semua saluran harus terkoneksi dan berfungsi dengan baik. Air datang langsung mengalir,” kata Laila Mufidah.

Politikus perempuan itu percaya bahwa dinas teknis itu akan melakukan tugasnya dengan baik. Namun, pengawasan dan cek di lapangan itu sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa semua sistem saluran mampu mengatasi banjir di Surabaya berjalan dengan baik.

Laila percaya bahwa Pemkot sudah melakukan apapun untuk mengantisipasi banjir tahunan selama musim hujan. Semua punya tanggung jawab yang sama agar kota ini tidak terus-terusan menjadi langganan banjir.

 Apalagi ada wilayah yang disebut menjadi wilayah langganan banjir. Dia menegaskan, semua harus dicarikan solusi menyeluruh. Selama ini Pemkot Surabaya dinilai sudah melakukan upaya serius. Mulai dari normalisasi saluran, membuat saluran baru, hingga proyek box culvert. Begitu juga pengadaan rumah pompa juga sudah disiapkan hingga mencapai ratusan rumah pompa.

”Semua menantikan manfaat proyek saluran penanganan banjir yang saat ini menjadi salah satu fokus Surabaya. Semoga hujan kali ini banjir Surabaya bisa terkurangi,” tandas Laila.

Menurut dia, Surabaya bebas banjir seratus persen jelas tidak mungkin. Selain memang secara geografis berada di dataran rendah, perkembangan kota berkonsekuensi pada berkurangnya lahan terbuka untuk permukiman dan industri. Akibatnya resapan air berkurang.

Yang bisa dilakukan adalah memastikan proyek penanganan banjir dengan pembuatan saluran air, box culvert, gorong-gorong, koneksi saluran, bozem, hingga rumah pompa harus optimal. Keberadaan ini harus memberi rasa nyaman warga dari ancaman banjir.

”Ingat, warga Surabaya terutama yang setiap tahun wilayahnya menjadi langganan banjir menanti manfaat proyek penanganan banjir tersebut. Benarkah tahun ini mereka bebas dari genangan,” ucap Laila.

Dia menambahkan, soal banjir, ada tiga hal pokok yang mengikutinya. Mulai dari luas titik banjir, ketinggian, hingga lama genangan. Laila menyebut jika tahun ini wilayah banjir bisa dikurangi dan tidak meluas, artinya projek penanganan banjir berjalan efektif.

Begitu juga ketinggian genangan air di salah satu wilayah langganan banjir jika bisa dipangkas artinya projek berhasil. Tapi jika sebaliknya malah lebih dan memindah titik banjir, proyek penanganan banjir belum berjalan efektif.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore