
Ilustrasi HIV/AIDS. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com – HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan karena menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Tapi, penyakit itu dapat dikendalikan dengan pengobatan antiretroviral therapy (ARV), memperbaiki gizi, rutin olahraga, dan istirahat yang cukup.
Dokter spesialis dalam subspesialis infeksi dan penyakit tropis Prof dr Nasronudin SpPD FINASIM-KPTI mengatakan, masyarakat tidak perlu terlalu takut dengan penyakit dan pasien HIV/AIDS.
Sebab, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat diobati hingga sembuh. Caranya adalah dengan pengobatan secara komprehensif atau paripurna.
”Penyakit ini disebabkan oleh virus dan sebenarnya virus itu berlaku kaidah self limited disease. Artinya, virus itu bisa dibunuh oleh sistem kekebalan tubuh sendiri sepanjang pasien menjalani pola hidup yang sehat,” katanya kemarin (22/10).
Menurut dia, prinsip pengobatan pasien HIV/AIDS adalah dengan pemberian obat antivirus atau ARV. Ada tiga macam obat yang dikonsumsi. Obat pertama berfungsi membunuh virus yang berada di aliran darah.
Yang kedua untuk membunuh virus yang masuk ke dalam sel. Ketiga mematikan virus yang berada di dalam sel. ”Sesuai anjuran WHO, begitu orang terindikasi HIV/AIDS, ARV bisa langsung diberikan,” jelas Nasronudin.
Pengobatan Lainnya
Selain mengonsumsi obat ARV, pengobatan berikutnya adalah dengan memperbaiki gizi atau nutrisi. Sebab, kata Nasronudin, virus itu menyerang kekebalan tubuh. Jadi, ketika kekebalan tubuh menurun, virus akan leluasa menyebar dan berkembang biak. ”Nutrisi ini harus memenuhi 4 sehat 5 sempurna,” katanya
Pengidap HIV/AIDS harus beristirahat yang cukup. Caranya, tidur nyenyak minimal tujuh jam dalam sehari agar metabolisme tubuh tidak berlebihan atau hipermetabolisme. Sebab, hipermetabolisme bisa membuat tubuh pasien kering. (Selengkapnya baca grafis).
Deteksi Dini di Puskesmas
Puskesmas juga mendeteksi penyakit HIV/AIDS melalui penyakit-penyakit infeksi sekunder. Di antaranya, pemeriksaan bagi calon pengantin (catin). ”Selain itu, juga pemeriksaan pada ibu hamil (bumil),” tutur Kepala Puskesmas Sidosermo dr Arista Agung Santoso.
Arista mengatakan, pemeriksaan HIV/AIDS juga dilakukan pada pasien dengan penyakit tertentu. Misalnya, pasien yang terdeteksi infeksi menular seksual (IMS). ”Kami rujuk untuk pemeriksaan laboratorium HIV/AIDS. Karena ada kesamaan risiko penularan,” ujarnya.
Pj HIV Puskesmas Tenggilis Mejoyo dr Izzah Al Nabilah menuturkan, langkah preventif HIV/AIDS dilakukan dengan sosialisasi dan pendekatan ke masyarakat. ”Kami ada program konseling dan edukasi,” katanya
Ada pula program skrining untuk kelompok berisiko HIV/AIDS. Sasarannya pekerja seks komersial (PSK), orang yang sering berganti pasangan, orang yang terinfeksi menular seksual lain, pengguna narkoba suntik, orang yang sering melakukan tindik atau tato, serta ibu hamil dan nakes.
Puskesmas Tenggilis Mejoyo juga menggelar program mobile voluntary counseling and testing (VCT) enam bulan sekali. Mobile VCT menyasar tempat-tempat hiburan. (ayu/dya/gal/c6/aph)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
