Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 November 2022 | 22.48 WIB

Wali Kota Eri Cahyadi: Banyak PR Bikin Anak Jadi Individualistis

Ilustrasi menemani anak belajar. (Medical News Today) - Image

Ilustrasi menemani anak belajar. (Medical News Today)

JawaPos.com – Penambahan pendidikan karakter dan penghapusan PR menimbulkan tanggapan beragam dari masyarakat. Meski demikian, Pemkot Surabaya yakin bahwa konsep belajar tersebut akan memberikan dampak positif bagi anak. Orang tua pun diminta ikut andil bertanggung jawab mendidik karakter anak.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memahami adanya kekhawatiran saat program itu berjalan. Misalnya, anak akan lepas kontrol. Yang biasanya di rumah belajar malah akan banyak bermain.

Namun, dia mengatakan bahwa strategi itu sudah menjadi ketetapan yang apik. Sebab, pembelajaran tersebut bisa lebih seimbang. Anak bisa menuntaskan akademiknya di sekolah, lalu karakter yang dimiliki bisa disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.

”Ya, biarkan saja sudah (kalau memang ada yang kontra, Red). Kami kerjanya kan sesuai. Sebenarnya, orang-orang saat ini belum tahu, ngertinya PR tidak ada. Tapi, sebenarnya PR itu masih ada, tapi PR soal karakter,’’ paparnya.

Dia pun meminta agar pendidikan anak tidak hanya diserahkan sepenuhnya ke sekolah dan anak. Sebab, itu menjadi tanggung jawab bersama. Kalau hanya diberi PR, artinya tanggung jawab orang tua dilimpahkan ke guru.

”PR itu tugas sekolah yang diselesaikan di sekolah. Tetapi ketika pulang dan mendidik karakter, ya orang tua dong. Anak mau jadi apa kalau hanya PR?” ujar Eri.

Dia mengajak orang tua agar tidak berpikir anak selalu dijejali PR saja. Dibutuhkan aktivitas lain yang bisa mengembangkan kemampuan dan potensi anak. Juga interaksi sosial mereka.

”Jangan sampai anak ini pikirane PR tok, setelah itu mereka menjadi individualistis. Tetapi, bagaimana caranya agar anak ini bisa menyelesaikan PR bersama-sama. Kalau orang tua takut anaknya tidak pinter, lha ya dampingono anake,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, pihaknya telah siap menjalankan program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS). Konsep tersebut terus dimatangkan agar bisa berjalan secara berkelanjutan dan jangka panjang. Agar anak-anak tidak dibuat bingung karena perubahan kebijakan.

”Sosialisasi ke orang tua pasti juga kami lakukan. Agar tidak terjadi salah paham. Jadi, tetap ada PR, tapi bentuknya beda dan tidak memberatkan siswa,’’ paparnya.

Menurut dia, pendidikan akademis itu harus diselesaikan di sekolah. Selebihnya, pembentukan karakter anak-anak sesuai dengan minat mereka. ”Ibaratnya servis motor. Kalau belum selesai diperbaiki tapi dibawa pulang, pasti akan muncul masalah baru,’’ ujarnya.

Sejumlah Sekolah Sudah Terapkan Pendidikan Karakter


PERESMIAN Program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS) direncanakan pada Kamis (10/11). Kebijakan yang menekankan pendidikan karakter itu ternyata telah diterapkan lebih dulu oleh sejumlah sekolah. Misalnya, yang dilakukan SDN Jemur Wonosari 1 dalam rangka uji coba kebijakan anyar tersebut kemarin (7/11).

Kepala SDN Jemur Wonosari 1 Husaini Effendi menyatakan, rancangan pembelajaran dilakukan oleh setiap sekolah asalkan tetap mengacu arahan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya. Implementasi dilakukan di setiap jenjang kelas dengan menyesuaikan pemahaman murid. Pihaknya pun telah selesai melaporkan rancangan itu kepada dispendik.

”Tim pengawas juga menilai program kami sudah sesuai. Batas akhir waktu pengumpulan draf Rabu (9/11),’’ katanya.

Berbagai program yang dibuat berfokus untuk meningkatkan karakter serta kreativitas siswa. Mulai literasi, numerasi, pramuka, hingga permainan tradisional. Penerapannya pun tak melulu dilakukan secara formal. Misalnya, di kelas V yang mempelajari anatomi organ tubuh dengan permainan merangkai menggunakan manekin. ”Siswa lebih mudah mencerna dan aktif. Namun, intisari pembelajaran tetap terjaga dan tidak hilang,’’ terangnya.

Wali murid juga menyambut baik program SAS setelah sosialisasi yang dilakukan sekolah. Termasuk kebijakan meniadakan PR akademik bagi siswa. Namun, pihaknya tetap memberikan PR pendidikan karakter seperti keterlibatan murid di lingkungan rumah. Sebab, masih ada wali murid yang khawatir kebijakan itu akan membuat anak mereka keterusan bermain.

”Hasil kegiatan mereka akan tercatat di laporan pembelajaran. Kami juga mengimbau wali murid untuk berperan serta dalam pengawasan karena program ini lebih banyak dampak positifnya,’’ papar dia.

Terpisah, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Surabaya Erwin Darmogo menyatakan siap menerapkan SAS dan sedang menunggu sosialisasi dispendik lebih lanjut. Menurut dia, pendidikan karakter diterapkan sejak lama seperti kegiatan salat Duha bersama oleh SMP swasta berbasis Islam.

Erwin menilai, sebaiknya PR tidak dihapuskan sepenuhnya karena dikhawatirkan membuat murid bermain gadget. Dia menyarankan agar PR tetap ada, namun dengan intensitas yang diturunkan dan tak memberatkan.

TARIK-ULUR SEKOLAH TANPA PR

- Masih ada pro dan kontra soal peniadaan PR dan pendidikan karakter anak.

- Banyak orang tua yang merasa selama ini kegiatan belajar anak sangat melelahkan.

- Di sisi lain, ada yang berpendapat PR bagus untuk memastikan anak tetap belajar dan bertanggung jawab.

- Dispendik memastikan evaluasi akan dilakukan rutin agar program bisa berjalan dalam jangka panjang.

- Orang tua ingin peniadaan PR dan pendidikan karakter diimbangi dengan penyediaan fasilitas aktivitas anak yang lebih banyak.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore