
Ilustrasi menemani anak belajar. (Medical News Today)
JawaPos.com – Penambahan pendidikan karakter dan penghapusan PR menimbulkan tanggapan beragam dari masyarakat. Meski demikian, Pemkot Surabaya yakin bahwa konsep belajar tersebut akan memberikan dampak positif bagi anak. Orang tua pun diminta ikut andil bertanggung jawab mendidik karakter anak.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memahami adanya kekhawatiran saat program itu berjalan. Misalnya, anak akan lepas kontrol. Yang biasanya di rumah belajar malah akan banyak bermain.
Namun, dia mengatakan bahwa strategi itu sudah menjadi ketetapan yang apik. Sebab, pembelajaran tersebut bisa lebih seimbang. Anak bisa menuntaskan akademiknya di sekolah, lalu karakter yang dimiliki bisa disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.
”Ya, biarkan saja sudah (kalau memang ada yang kontra, Red). Kami kerjanya kan sesuai. Sebenarnya, orang-orang saat ini belum tahu, ngertinya PR tidak ada. Tapi, sebenarnya PR itu masih ada, tapi PR soal karakter,’’ paparnya.
Dia pun meminta agar pendidikan anak tidak hanya diserahkan sepenuhnya ke sekolah dan anak. Sebab, itu menjadi tanggung jawab bersama. Kalau hanya diberi PR, artinya tanggung jawab orang tua dilimpahkan ke guru.
”PR itu tugas sekolah yang diselesaikan di sekolah. Tetapi ketika pulang dan mendidik karakter, ya orang tua dong. Anak mau jadi apa kalau hanya PR?” ujar Eri.
Dia mengajak orang tua agar tidak berpikir anak selalu dijejali PR saja. Dibutuhkan aktivitas lain yang bisa mengembangkan kemampuan dan potensi anak. Juga interaksi sosial mereka.
”Jangan sampai anak ini pikirane PR tok, setelah itu mereka menjadi individualistis. Tetapi, bagaimana caranya agar anak ini bisa menyelesaikan PR bersama-sama. Kalau orang tua takut anaknya tidak pinter, lha ya dampingono anake,’’ katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, pihaknya telah siap menjalankan program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS). Konsep tersebut terus dimatangkan agar bisa berjalan secara berkelanjutan dan jangka panjang. Agar anak-anak tidak dibuat bingung karena perubahan kebijakan.
”Sosialisasi ke orang tua pasti juga kami lakukan. Agar tidak terjadi salah paham. Jadi, tetap ada PR, tapi bentuknya beda dan tidak memberatkan siswa,’’ paparnya.
Menurut dia, pendidikan akademis itu harus diselesaikan di sekolah. Selebihnya, pembentukan karakter anak-anak sesuai dengan minat mereka. ”Ibaratnya servis motor. Kalau belum selesai diperbaiki tapi dibawa pulang, pasti akan muncul masalah baru,’’ ujarnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
