
Photo
JawaPos.com- Agustusan selalu menjadi salah satu momen kegembiraan. Membahagiakan. Warga atau komunitas saling berlomba mengekpresikannya. Melalui warna-warni kegiatan. Tidak terkecuali Komunitas Golek Jalur Seneng (GJS), penghobi motor trail Gresik.
Minggu (14/8) kemarin, puluhan anggota Komunitas GJS menerabas jalur off-road di Bukit ’’Hollywood’’. Sebuah area imitasi dari Hollywood Sign. Markah tanah dan salah satu ikon kultural terkenal Amerika Serikat. Lokasi tepatnya di Los Angeles, California. Peniruan itu cukup beralasan. Ada beberapa kemiripian. Paling tidak sama-sama berbukitan.
Hollywood Sign berdiri di Mount Lee di kawasan Hollywood Hills Pegunungan Santa Monica. Adapun Bukit ’’Hollywood’’ berada di Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas. Mudah terlihat kala pengguna jalan betada di dekat Masjid Agung Gresik (MAG), Jalan dr Wahidin Sudirohusodo.
Karena momen Agustusan, para anggota Komunitas GJS pun mengenakan kostum dominan merah-putih. Juga, membawa bendera negara Indonesia itu. Berhelm, bersepatu dan peralatan nge-trail lainnya. ‘’Apakah semua anggota sudah lengkap dan siap berangkat?’’ kata dr Asluchul Alif, koordinator GJS, kepada rekan-rekannya.
Para anggota pun menjawab siap. Sambil saling mengepalkan tanganya. ’’Siap! GJS, sehat, sehat, sehat dan bahagia,’’ ujarnya. Mereka lalu mengecek masing-masing motornya. Ada beragam jenis motor trail. Termasuk harganya. Dari mulai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Yang utama, tentu bukan masalah jenis dan harga motor itu. Kesamaan dan manfaat dari komunitas hobi itulah penggeraknya.
Sore itu, hujan belum mereda. Gerimis kecil masih menetes. Mendung tipis berpeluk mesra dengan sinar matahari. Sesaat kemudian, mesin-mesin motor trail menderu. Seperti tak sabar melintasi medan menantang. Di bebukitan Hollywood tiruan. Menjadi satu bukti mendung tak selalu murung. ’’Go…!’’.
Satu persatu motor anggota GJS itupun melesat. Menyusuri lintasan. Penuh jalanan setapak. Menuju puncak bukit Hollywood. Terkadang bebatuan, terkadang ilalang, terkadang tanah berkapur. Sedikit licin karena tersaput hujan. Sesekali roda motor harus berputar ekstra demi melewatinya. Namun, justru itu menjadi satu tantangan. Memacu adrenalin, mengeluarkan hormon kegembiraan.
Menurut Haji Romin, salah seorang anggota tertua, komunitasnya baru terlahir empat tahun terakhir. Anggotanya sudah sekitar 50 orang. Mereka dari beragam kalangan dan profesi. Mulai dokter, pengusaha, jurnalis hingga ASN Usia anggota juga beragam. Bahkan, ada juga yang masih anak-anak. ’’Sejak berdiri, sudah banyak rute yang kami ditaklukkan. Terutama di wilayah hutan dan perbukitan di Jawa Timur,’’ ungkapnya.
Tapi, lanjut dia, bukan penaklukan itu tujuannya. Yang lebih utama tidak lain spirit kebersamaan dan kegembiraan antaranggota. ‘’Saya sendiri hobi ngetrail ini sejak lulus SMA. Jadi, salah satu hiburan saya seperti ini. Meski capek, tetapi kepuasannya luar biasa. Banyak manfaat dengan mengikuti komunitas hobi positif seperti ini. Ketemu saudara-saudara, silaturahmi, saling gojlokan, wah rasanya seperti tidak punya utang,’’ ujar bapak satu anak yang memang humoris ini.
Anggota GJS lain Supardi Hardy menambahkan, memang ada banyak manfaaat dengan berkomunitas dalam satu hobi. Sebut saja, memperluas akses ke berbagai resource. ’’Mulanya kita tidak saling kenal. Dengan bergabung, maka dapat akses kita menjadi bertambah luas. Kualitas diri pun meningkat. Sebab, teman-teman kan dari beragam latar belakang. Jadi, kita bisa saling support satu sama lain,’’ ungkapnya.
Selain itu, lanjut Hardi, dengan berkomunitas juga tentu dapat emperkaya cara pandang. Dikatakan, kurangnya interaksi sosial dapat membuat seseorang melihat segala sesuatu dari satu perspektif saja. Karena itu, terkadang kesulitan mendapatkan ide-ide segar untuk mengembangkan diri. ’’Dengan berkomunitas, kita akan menemui perspektif lain dari anggota, yang tentu dapat memperkaya cara pandang,’’ paparnya.
Dengan berkomunitas, tentu juga berkesempatan luas mendapatkan mentor sesuai latar belakang anggota. Dengan begitu dapat mengasah skill menjadi lebih baik lagi. Sebab, hubungan antar personal dalam komunitas tentu terbangun lebih rekat. ’’Manfaat penting lain menambah semangat, melepaskan stres, di tengah rutinitas sehari-hari. Kalau ngetril begini, kita semua losss, nggak pakai rewel,’’ ucap pengusaha peternak ayam petelor itu.
Masa Depan Bukit ’’Hollywood’’
Bukit Hollywood di wilayah kota itu tidak lain eks tambang PT Semen Gresik atau kini berubah menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Area itu ditambang sejak 1957 silam. Lalu, per 1997 lalu, sudah tidak lagi ditambang. Sebab, lokasi pengambilan bahan baku oleh salah satu BUMN itu sudah berpindah ke wilayah Tuban, Jawa Timur.
Sejak itu, praktis tidak ada aktivitas usaha. Wilayah perbukitan itu pun seolah mati suri. Tidak ada upaya ’’make over’’. Misalnya, resmi menjadi satu destinasi wisata. Memolesnya lebih eksotik lagu. Untuk dapat menarik banyak wisatawan. Padahal, lokasinya strategis dan terbilang teramat potensial. Kalaupun ada pengunjung, hanya sambil lalu.
Sejatinya, sudah sangat lama Pemkab Gresik ingin mengelola Bukit Hollywood tersebut. Bahkan, bupati pernah mengantarkan surat langsung ke Jakarta. Ingin menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata. Salah satunya menjadi taman indah dan menambah ruang terbuka hijau. Namun, sejauh ini ikhtiar itu masih bertepuk sebelah tangan.
Tak pelak, bukit potensial itu praktis tidak terawat. Dibiarkan saja apa adanya. Semak meranggas atau pepohonan mati. Meski terkadang ada aktifitas reboisasi dari sejumlah pegiat lingkungan, namun selepas itu seolah tidak peduli.
‘’Nah, beberapa teman-teman Komunitas GJS memilih jalur Bukit Hollywood, sekaligus menjadi sign. Termasuk pada momentum Agustusan atau HUT Kemerderkaan RI. Kita ingin ikut mengingatkan kepada PT Semen Indonesia atau pemerintah untuk menjadikan aset potensial ini lebih banyak membawa manfaat,’’ kata Alif, panggilan Asluchul Alif.
Selama ini, Bukit Hollywood memang tidak benar-benar mati. Beberapa kali pun pernah menjadi ajang resmi kejuaraan off-road. Pada 2016, misalnya. Dilaksanakan, seri perdana Kejuaraan Offroad Jatim Open, yang dipromotori oleh National Offroad Xtreme Challenge (NOXC), bekerjasama dengan Indonesia Offroad Federation (IOF) dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jatim.
Sebetulnya, sangat bisa dimanfaatkan jauh lebih besar lagi. Bahkan, dapat menambah pendapatan daerah. Tentu dengan melakukan inovasi-inovasi. Baik itu menjadikan destinasi wisata atau sejenisnya. ‘
’Teramat sangat sayang jika hanya dibiarkan seperti sekarang ini. Apalagi berada di perkotaan. Semoga ada segera perhatian langsung dari Kementerian BUMN untuk memanfaatkan asetnya menjadi bernilai lebih, di momen Kemerdakaan ini,’’ pungkasnya.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
