
GARAP KEMEJA: Muhammad Abid idho sedang merapikan seragam yang selesai dijahit di rumah jahit miliknya di kawasan Jalan Urip Sumoharjo beberapa waktu lalu. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com – Kegiatan belajar-mengajar (KBM) tahun ajaran 2022–2023 sudah berlangsung sepekan. Tapi, sampai sekarang siswa kelas VII belum mengenakan seragam resmi. Peserta didik masih mengenakan seragam lama dari sekolah dasar (SD) masing-masing.
Fenomena itu terjadi di semua SMP negeri se-Surabaya. Para kepala sekolah takut untuk mengadakan seragam. Hingga kini mereka masih menunggu aturan tertulis dari Dispendik Surabaya.
Wakil Kepala SMPN 4 Surabaya M. Puja Anwar mengatakan, sebanyak 256 siswa baru masih mengenakan seragam SD. Itu menjadi opsi karena sejauh ini belum ada pengadaan seragam di sekolah. ’’Silakan pakai seragam SD. Bebas yang penting rapi,’’ kata Puja.
Sampai sekarang, pihak sekolah belum memutuskan apakah akan ada pengadaan seragam lewat koperasi atau tidak. Semua lembaga masih menunggu instruksi Dispendik Surabaya. Tapi, untuk sementara, orang tua disarankan membeli sendiri-sendiri di luar. Terutama seragam putih-biru dan pramuka. Serta, badge yang menunjukkan identitas sekolah dan nama siswa. ’’Orang tua bisa membeli sendiri-sendiri di luar,’’ imbuhnya.
Sekolah juga belum memesan seragam untuk siswa dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Puja mengatakan masih mengukur seragam bagi siswa kelas VII. Di SMPN 4 Surabaya, total ada 23 siswa yang diterima melalui jalur mitra warga.
Meski begitu, sambung Puja, ada sejumlah siswa MBR yang juga masuk lewat jalur zonasi, prestasi, dan inklusi. Semuanya mendapat intervensi berupa seragam dan perlengkapan sekolah gratis dari pemkot. ’’Tapi, (seragam, Red) masih diukur,’’ tuturnya.
SMPN 3 Surabaya juga demikian. Sejauh ini sekolah yang terletak di Jalan Praban itu masih menunggu petunjuk dari dispendik. Itu terkait dengan penyediaan seragam melalui koperasi sekolah. ’’Tapi, saya pastikan tidak ada paksaan membeli seragam di koperasi sekolah. Kami bebaskan untuk beli di luar,’’ kata Humas SMPN 3 Surabaya M. Lutfi.
Dia menyampaikan, hampir semua siswa memang masih memakai seragam SD. Tapi, sudah ada beberapa siswa yang mendapat seragam. Itu merupakan seragam lama milik siswa kelas VIII dan kelas IX. Sebab, sekolah menggalang seragam lama milik siswa yang saat ini naik ke kelas VIII dan kelas IX.
Biasanya ada siswa yang secara sukarela menyumbangkan seragam lama untuk diberikan ke siswa baru. ’’Pola ini kami lakukan tiap tahun untuk melatih kedermawanan anak. Sebagian (seragam, Red) sudah diberikan ke siswa baru,’’ tutur Lutfi.
Mengapa siswa baru belum punya seragam resmi? Koordinator Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Effendi Rantau menjelaskan, pihaknya belum berani melangkah. Sekolah tidak bisa serta-merta menyiapkan seragam baru. Masih menunggu izin dan aturan dari Dispendik Surabaya.
Itu terkait legalitas apakah koperasi sekolah bisa menjual seragam atau tidak. Jika tidak diizinkan, wali murid harus membeli seragam di luar sekolah. Atau, sebaliknya. Jika diperbolehkan, sekolah siap menyediakan seragam dan perlengkapan siswa lainnya. ’’Petunjuk dispendik belum keluar sejauh ini. Kami menunggu saja,’’ kata Effendi.
Meski belum ada aturan tertulis, pihaknya mempersilakan wali murid membeli seragam di luar. Tapi, itu terbatas untuk seragam putih-biru dan pramuka. Sedangkan seragam batik dan olahraga harus dibeli melalui sekolah. Sebab, dua seragam itu punya ciri khas sesuai dengan nama sekolah masing-masing. ’’Kalau batik dan olahraga kan ada kekhasan sekolah. Sekolah yang pesan. Dijual di koperasi,’’ jelas Effendi.
Sementara itu, seragam siswa MBR belum dipesan. Setiap sekolah, kata Effendi, masih mendata profil siswa untuk mengetahui ukuran badan setiap anak. Di sisi lain, lembaga juga masih menunggu pencairan anggaran.
MENGAPA SISWA BARU BELUM PUNYA SERAGAM?
- Dispendik mengeluarkan aturan tertulis terkait seragam.
- Sekolah takut melanggar aturan jika pengadaan lewat koperasi.
- Orang tua dipersilakan membeli seragam di luar sekolah.
- Kecuali, seragam batik dan olahraga harus dibeli di sekolah karena ada ciri khas masing-masing lembaga.
Siswa MBR
- Seragam siswa belum dipesan.
- Anggaran bosda belum dicairkan.
- Anggaran turun Agustus-September.
- Sekolah masih mendata profil siswa.
Sumber: MKKS SMP Negeri

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
