
Penerapan pembelajaran hybrid di salah satu SMP di Surabaya. Dipta Wahyu/JawaPos
JawaPos.com - Satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka terus bertambah. Di luar 79 sekolah penggerak, sebanyak 237 SMP negeri dan swasta mendaftar secara mandiri. Dengan begitu, total ada 316 SMP yang menerapkan kurikulum pembelajaran berbasis proyek mulai tahun ajaran 2022–2023.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh menyampaikan, jumlah itu diprediksi masih bisa bertambah. Sebab, semua sekolah bisa mendaftar mandiri melalui Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbudristek.
’’Bergantung kesiapan lembaga. Sekolah bisa daftar mandiri,’’ kata Yusuf, Selasa (3/5).
Menurut dia, memang tidak ada target khusus bagi lembaga untuk menerapkan Kurikulum Merdeka. Tapi, cepat atau lambat semua satuan pendidikan harus mengimplementasikan kurikulum yang dicetuskan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim tersebut.
Akan lebih baik jika sekolah menerapkannya mulai tahun ini. Dengan begitu, persiapan bisa lebih maksimal. ’’Tahun ini atau tahun depan sama saja. Lebih cepat lebih baik karena pasti harus menerapkan (Kurikulum Merdeka, Red),’’ papar Yusuf.
Sebelumnya, 79 sekolah negeri dan swasta yang berstatus sekolah penggerak secara otomatis ditetapkan untuk menerapkan Kurikulum Merdeka. Perinciannya, 40 lembaga PAUD dan TK, 23 jenjang SD, dan 16 SMP. Untuk SMP negeri, misalnya, ada enam lembaga. Yaitu, SMPN 33, SMPN 62, SMPN 17, SMPN 9, SMPN 52, dan SMPN 51 Surabaya.
Yusuf menjelaskan, penerapan dilakukan bertahap. Di jenjang SD, penerapan awal hanya diperuntukkan kelas I, III, dan V. Tahun berikutnya diikuti kelas II, IV, dan VI. Dalam dua tahun, penerapan Kurikulum Merdeka di satu lembaga sekolah bisa tuntas.
Sementara itu, di jenjang SMP tahun pertama diterapkan untuk siswa kelas VII dan VIII. ’’Tidak serentak. Ada tahapannya,’’ ujar Yusuf.
Salah satu lembaga yang mendaftar secara mandiri adalah SMPN 30. Kepala SMPN 30 Surabaya Effendi Rantau menyampaikan, pihaknya sudah mendaftar melalui Ditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek. Pendaftaran dilakukan karena tidak ada batasan jumlah sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka. ’’Kami daftar mandiri,’’ kata Effendi.
Kurikulum Merdeka adalah metode baru yang diberlakukan Kemendikbudristek. Kurikulum tersebut dianggap memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya, kurikulum yang diajarkan lebih sederhana dan mendalam. Kurikulum Merdeka akan fokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik sesuai fasenya.
Kurikulum Merdeka juga fokus membentuk tumbuh kembang anak. Pembelajaran lebih banyak pada terapan yang menyenangkan. Dengan pola itu, siswa akan didorong lebih banyak berinteraksi di sekolah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
