
Photo
JawaPos.com- Senin (31/1) ini, sejatinya hari bahagia bagi Asnan. Sebab, waktunya pasaran Pahing. Setiap Pahing, suasana Pasar Sidayu, Gresik, selalu ramai. Lebih ramai dari hari biasa. Makin banyak pengunjung datang. Itu artinya peluang juga bagi Asnan. Dia bisa membawa rezeki lebih besar untuk keluarganya.
Namun, mendung pilu tengah menggelayut. Bukan hanya dialami Asnan, melainkan juga ratusan pedagang Pasar Sidayu lainnya. Mereka telah kehilangan stan dan lapak. Minggu pagi (30/1), Pasar Pahing itu ludes. Tiba-tiba terbakar. Kerugian diperkirakan miliaran rupiah.
Mengapa Pasar Sidayu sampai kebakaran? Betulkah karena korsleting? Atau mungkin ada penyebab lain? Pertanyaan itu juga pasti terselip di benak mereka. Yang jelas, tidak lama setelah Pasar Sidayu tersebut kebakaran, sejumlah pihak hanya dapat menduga karena hubungan pendek arus listrik.
Untuk memastikannya adalah kewenangan polisi. Dan, Kapolres Gresik AKBP M. Nur Azis saat dihubungi JawaPos.com pada Minggu sore (30/1), siap untuk memberikan atensi lebih pada kasus kebakaran Pasar Sidayu itu.
Sebelumnya, Pasar Sidayu diberitakan kebakaran hebat. Kejadiannya sekitar pukul 04.10 WIB. Nyaris bersamaan dengan kumandang azan Subuh. Lidah api cepat menyambar stan dan lapak-lapak pasar. Warga dan pedagang hanya bisa menatap. Kobaran api terlihat begitu besar. Sementara, para petugas pemadam berjibaku. Menjinakkan si jago merah. Dari hari masih gulita hingga sinar matahari menerobos terang.
Usia Pasar Pahing Sidayu tersebut sangatlah lama. Bahkan, seusia Sidayu saat berstatus kadipaten atau menjadi kabupaten sendiri. Belum bergabung menjadi salah satu nama kecamatan di Kabupaten Gresik. Kala itu, Sidayu dipimpin adipati. Satu di antara adipati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh atau Raden Suryo Adiningrat (1817 M), putra dari Sayid Abdurahman.
Menurut Eko Jarwanto, penulis buku Sidajoe: Dari Kadipaten Menjadi Kawedanan, sejak dulu Pasar Sidayu memang sudah ada. Tapi, saat itu lokasinya tidak berasa di timur alun-alun seperti sekarang. ‘’Dulu, lokasinya bisa di selatan alun-alun atau barat agak pojok,’’ katanya dihubungi Minggu (30/1).
Dari riset pustaka dan investigasi yang telah dilakukan Eko, pada 1866 M, di sisi timur Alun-alun Sidayu masih berupa gedung-gedung atau kantor pemerintahan milik asisten residen. Karena itu, tidak mungkin Pasar Sidayu berada di sisi rumah para pejabat kadipaten tersebut. ‘’Pasar Sidayu berada di sebuah lahan kosong. Pedagang berjualan di tanah lapang di sisi selatan atau pojok barat alun-alun,’’ kata guru sekolah di Bungah, Gresik, itu.
Pasar Sidayu memang sudah berusia ratusan tahun. Lokasinya dari dulu berada di sekitar alun-alun. ‘’Pasar yang ada di timur alun-alun sekarang itu pindahan ketika awal tahun 1900 M. Kalau pendopo atau rumah bupati ada di sisi utaranya pas alun-alun. Sekarang jadi sekolah dan Koramil,’’ papar alumnus sejarah Unesa itu.
Di masa Kanjeng Sepuh, Sidayu mengalami masa keemasan. Selain dipercaya menjadi aulia, dia juga pemimpin kadipaten Sidayu. Di beberapa catatan sejarah, di masa Kanjeng Sepuh itu perdagangan juga begitu maju. Dulu, orang Tionghoa pun banyak membuka usaha di wilayah tersebut. Hal itu terjadi lantaran Kanjeng Sepuh juga tokoh yang sangat toleran. Termasuk dengan para pedagang Tionghoa. Mereka boleh berusaha, tapi dilarang memelihara anjing.
Ada satu cerita menarik seperti dilansir dari sebuah blog Perkumpulan Kanjeng Sepuh. Selain menjadi seorang adipati, Kanjeng Sepuh merupakan pakar taktik. Banyak jasa Kanjeng Sepuh dalam menenteramkan rakyatnya. Melindungi mereka dari berbagai teror selama masa penjajahan.
Keberanian Kanjeng Sepuh dalam hal menentang kebijakan Belanda tentang pajak, misalnya. Sang Adipati berani mengusulkan nama sebuah pasar di Surabaya dengan nama Kabean, yang berarti buat seluruh. Maksudnya, saat itu Kanjeng Sepuh menolak diskriminasi dan kenaikan pajak yang dikehendaki Belanda. Sebab, waktu itu Belanda memiliki iktikad untuk membeda-bedakan pedagang dalam menaikkan pajak. Pasar ini kemudian dikenal dengan nama Pasar Pabean.
Kanjeng Sepuh juga dekat dengan rakyat. Saat malam, diam-diam dia rajin berkeliling ke seluruh wilayah kadipaten, yang meliputi Sidayu, Lamongan, Babat, hingga Jombang. Tujuannya, melihat keseharian dan masalah warganya. Dulu, di wilayah Sidayu, tidak jarang terjadi banjir. Namun, berkat kehebatan Kanjeng Sepuh, akhirnya bisa mengatur irigasi sehingga bisa menghilangkan banjir tahunan. Irigasi itu pun berhasil membuat petani bisa panen tiga kali dalam setahun.
Karena itu, di mata warga Sidayu maupun keturunannya, hingga kini nama Kanjeng Sepuh tetap harum. Setiap malam Jumat Pahing, makam Kanjeng Sepuh selalu ramai diziarahi. Para peziarah banyak datang dari berbagai daerah. Tradisi itu banyak membawa pengaruh terhadap mobilisasi ekonomi masyarakat Sidayu. Selain membeludaknya pengunjung Pasar Pahing, magnet ini pula bisa membangun pasar tiban yang dapat menggerakkan roda perekonomian.
Kini, Pasar Pahing Sidayu telah terbakar. Dan, cerita pilu tentang pasar kebakaran, bukanlah hal baru. Sudah kerap terjadi di banyak tempat. Baik itu murni terbakar atau dibakar seperti terjadi di Bukittinggi, Sumbar, pada November 2021. Lalu, setelah itu ada proyek revitalisasi atau pembangunan pasar baru.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
