Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 November 2023 | 20.10 WIB

Takut Merugi, Pedagang di Surabaya Kurangi Stok Cabai Rawit dan Siasati Pakai Cabai Kering

BAHAN POKOK: Salah seorang pedagang Pasar Soponyono Susiyah menakar cabai merah dagangannya (1/11). Harga bahan pokok di pasaran terus naik karena dipicu gagal panen. - Image

BAHAN POKOK: Salah seorang pedagang Pasar Soponyono Susiyah menakar cabai merah dagangannya (1/11). Harga bahan pokok di pasaran terus naik karena dipicu gagal panen.

JawaPos.com – Naik turunnya harga cabai rawit di Surabaya membuat pedagang resah. Mereka tidak berani menyetok cabai rawit terlalu banyak. Sebab, apabila harga kembali naik, mereka khawatir cabai tidak laku dibeli dan mengakibatkan kerugian hingga jutaan rupiah.

Harga cabai rawit di Pasar Keputran sempat turun Rp 55 ribu per kilogram. Tepatnya saat pukul 04.00. Aura Syailendra Bagaskara, salah seorang pembeli, mengatakan bahwa subuh kemarin (1/11) harganya turun dibandingkan Selasa lalu.

Saat itu, dia kulakan harga cabai rawit Rp 60 ribu per kg. Sementara itu, Rabu pagi turun jadi Rp 55 ribu per kg. ”Harganya memang tidak pasti, naik turun,” ucapnya.

Siang harga cabai rawit di Pasar Keputran naik lagi Rp 60 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat pedagang enggan menyetok cabai rawit dalam jumlah banyak. Topo misalnya.

Pedagang cabai itu kini hanya memiliki stok cabai rawit 1 kuintal per hari. Padahal, sebelumnya dalam sehari dia bisa memiliki cadangan hingga 3 kuintal. ”Stok ini untuk jaga-jaga kalau cabai langka di pasaran,” ucapnya.

Menyetok cabai terkadang juga bisa memicu risiko. Misalnya, harga cabai tiba-tiba anjlok. Alhasil, cabai yang dibeli saat harga masih tinggi dijual kepada pembeli dengan harga yang turun.

Topo juga sengaja mengurangi penjualan cabai rawit. Bila sebelumnya per hari bisa 2–3 ton, sekarang hanya 1 ton. Tujuannya mengantisipasi kerugian jika sewaktu-waktu harga berubah. ”Harga naik, keuntungannya malah sedikit,” ucapnya.

Dari pantauan Jawa Pos, harga cabai rawit di Pasar Wonokromo sudah turun. Per kilogramnya kemarin Rp 60 ribu. Padahal, Selasa masih di angka Rp 66 ribu–70 ribu per kilogram. Menurut pedagang, harga cabai akan naik signifikan saat musim hujan. Mengingat banyak tanaman cabai yang busuk karena hujan.

Di Pasar Soponyono, Rungkut, sepekan terakhir harga cabai rawit masih tinggi. Setiap hari harganya naik Rp 1.000–2.000 per kilogram. Salah seorang pedagang Pasar Soponyono Mei Wulandari menyiasati kenaikan harga itu dengan mengurangi jumlah kulakan.

”Kulakku sekarang hanya setengah kilogram, biasanya sih 2–3 kilogram,” ujarnya.

Pada Mei, dia kulakan cabai itu di Pasar Mangga Dua Selasa (31/10) malam. Harga cabai rawit per kilogram Rp 67 ribu. Sehingga, harga belinya berada di kisaran Rp 70 ribu–90 ribu per kilogram.

”Ya bagaimana lagi, yang lain juga segitu harganya, jadi 1 ons Rp 9.000-an, naik Rp 2.000,’’ ungkapnya. Menurut dia, kenaikan harga cabai rawit kali ini tidak seperti biasanya. Jika sebelumnya saat harga naik, cabai tetap dibeli. ”Sekarang malah enggak,” imbuhnya.

Tak hanya cabai rawit, cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan. Biasanya setengah kilogram dijual Rp 10 ribu kini menjadi Rp 15 ribu. Tak sebatas bahan pokok dan penting (bapokting), tapi empon-empon atau rempah-rempah juga naik.

”Sekilo yang empon-empon itu Rp 17–18 ribu, biasanya murah lo,” ucap Mei. Untuk sayuran, Mei menyebut wortel lokal dan super naik. Untuk wortel super 1 kilogramnya mencapai Rp 17 ribu, selisih Rp 5.000 dengan wortel lokal.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore