Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Maret 2021 | 03.38 WIB

Soal Pelecehan, Dokter Androlog Sayangkan Perempuan Selalu Disalahkan

Peti mati diproduksi Pemkot Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com - Image

Peti mati diproduksi Pemkot Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com

JawaPos.com–Kasus dugaan pelecehan seksual kepala sekolah kepada siswi SMK di Surabaya mulai masuk tahap pengembangan Polrestabes Surabaya. Sebelumnya, R, 18, melaporkan kepala sekolahnya, AF, 53 atas dugaan pelecehan seksual.

Dokter Onassis, spesialis andrologi RS Bhayangkara Polda Jatim dan RS Siloam Surabaya, mengingatkan orang tua dan remaja untuk kembali menekankan awareness untuk mencegah tindak pelecehan seksual. Dia menekankan pentingnya untuk meminta tolong dalam kondisi tertentu.

”Anak-anak dan remaja harus diajarkan mencari pertolongan. Bagaimana keluarga inti menjadi orang terdekat. Jangan sampai dia nggak punya kepercayaan ke keluarga,” tutur Onassis pada Sabtu (13/3).

Onassis menyoroti budaya kepemilikan power atau kekuatan pihak yang melakukan pelecehan. Merujuk pada kasus AF dan R, dia menilai AF memiliki power sebagai kepala sekolah. Sehingga bisa saja melakukan pelecehan.

”Sepanjang budaya laki-laki merasa bisa melakukan apapun ke perempuan, pasti hal ini akan terus terjadi. Yang terjadi sama tersangka, kebanyakan karena ketidakmatangan psikologis secara seksual. Mencari pelampiasan kepada lawan jenis yang powerless (tidak memiliki kekuatan),” ujar Onassis.

Soal kasus AF dan R, Onassis menilai, sering kali orang berusia matang mencari ajang pembuktian diri melalui tindak pelecehan. ”Mereka berpikir kalau sama yang lebih muda, rangsangan dan ereksi lebih baik. Kalau orang ini secara psikis seksualnya tercukupi, biasanya mereka nggak mungkin melakukan pelecehan,” papar Onassis.

Untuk trauma healing korban, Onassis mengingatkan, dokter dan psikolog harus dilibatkan. Kemudian, korban bisa dijauhkan dari lingkungan yang memberi trauma. Misalnya, bila pelecehan terjadi sekolah, pindahkan ke tempat jauh.

”Beban mental berat. Empati masyarakat kurang. Imej masyarakat memojokkan korban pemerkosaan, pelecehan sebagai orang yang salah karena mengumbar tubuh untuk digunakan orang. Lebih baik dijauhkan,” terang Onassis.

Di sisi lain, Onassis khawatir bila pelecehan benar-benar terjadi pada R, tidak ada hal yang dapat menjadi pembuktian. Sebab, visum tidak begitu berpengaruh. Mengingat peristiwa tersebut sudah terjadi setahun lalu.

”Visum adalah surat dari dokter tentang kondisi seseorang. Visum bisa. Tapi laporannya nggak ada yang mendukung yang bisa mengarah kepada dugaan polisi. Harusnya begini, korban menjalani visum, bisa dilihat ada robekan di selaput daranya tidak? Ada bekas penganiayaan fisik nggak? Ada sperma nggak? Ada pendarahan nggak di sana? Atau bahkan, ada rambut kemaluan yang tertinggal nggak? Itu harusnya bisa bila langsung dilakukan. Tapi kan ini sudah 1 tahun yang lalu,” ucap Onassis.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/XMG7iQNqMgE

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore