
Ilustrasi bullying
Perundungan bisa mengakibatkan korbannya menyendiri, depresi, hingga ketakutan. Mereka harus segera mendapatkan perhatian. Tujuannya, kelak mereka tidak berbalik arah menjadi pelaku bullying.
---
Dendam Wisnu Oky Nugroho kepada Sudjono masih menyala. Gara-garanya, saat SD, Wisnu pernah diludahi Sudjono. Wisnu akhirnya melampiaskan kekesalannya dengan menghajar teman masa kecilnya itu hingga bibir Sudjono mendapatkan empat jahitan.
Kasus penganiayaan yang bermula dari perundungan itu disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. ”Terdakwa Wisnu berkata kalau saat SD dulu saksi Sudjono pernah meludahi terdakwa dan mengenai mukanya,’’ tutur jaksa penuntut umum Iriyanto dalam surat dakwaannya.
Wisnu meyakini bahwa Sudjono pernah meludahi dan memelototinya. Namun, selama ini dia belum berani membalasnya. ”Saya masih ingat sampai sekarang. Dia waktu saya masih SD pernah memelototi dan meludahi saya. Memang dia ini orangnya,” ujar Wisnu kepada majelis hakim dalam persidangan.
Dokter spesialis kejiwaan Yunias Setiawati mengatakan, korban perundungan harus mendapatkan perhatian sejak dini. Jika tidak, mereka bisa menjadi pelaku apabila tidak segera disembuhkan.
”Korban bisa melampiaskannya ke juniornya,” ucap Yunias. Menurut Yunias, pasiennya yang menjadi korban perundungan cenderung menutupi pengalaman buruknya itu.
Anak dan remaja tersebut baru berani bercerita pada pertemuan keempat dan kelima ketika mereka sudah menganggap dokter sebagai temannya.
Korban perundungan biasanya mengalami perubahan perilaku. Mereka lebih suka menyendiri, tidak mau masuk sekolah, nilainya menjadi buruk, depresi, cemas, ketakutan, hingga susah tidur.
”Di-bully secara terus-menerus akan merusak otak. Tumbuh kembang anak menjadi kurang baik,” kata Yunias.
Untuk mencegah kasus perundungan pada anak, kata Yunias, diperlukan peran orang tua dan orang-orang terdekat. ”Sejak awal perlu komunikasi yang efektif dalam keluarga. Anak dilibatkan dalam menyampaikan pendapatnya sehingga mereka bisa terbuka kepada orang tua,” jelasnya.
Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto menuturkan, perilaku perundungan bisa disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya lingkungan tempat tinggal pelaku. ”Jadi, dipengaruhi kebiasaan di sekitarnya,” jelasnya.
Aksi perundungan biasanya dilakukan pelaku sebagai pelampiasan. Ditambah adanya kesempatan. Misalnya, korban tidak memberikan perlawanan. ”Bullying bisa dilakukan terus-menerus,” kata Dirmanto.
Praktik perundungan terkadang tidak hanya melibatkan satu pelaku. Namun, satu kelompok. ”Bisa karena kompetisi antarsiswa yang terlalu tinggi atau adanya sistem senioritas,” ungkap Dirmanto.
Menurut Dirmanto, perundungan umumnya terjadi di sekolah yang sistem pengawasannya terhadap siswa rendah. Dengan begitu, pelakunya merasa leluasa untuk beraksi. Kepolisian sadar akan bahaya bullying di sekolah. Oleh karena itu, di berbagai kesempatan sosialisasi sering diselipkan edukasi terkait dengan pencegahan perundungan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
