Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 September 2023 | 20.58 WIB

Dokter Spesialis Kejiwaan: Tak Segera Ditangani, Korban Bullying Bisa Jadi Pelaku

Ilustrasi bullying - Image

Ilustrasi bullying

Perundungan bisa mengakibatkan korbannya menyendiri, depresi, hingga ketakutan. Mereka harus segera mendapatkan perhatian. Tujuannya, kelak mereka tidak berbalik arah menjadi pelaku bullying.

---

Dendam Wisnu Oky Nugroho kepada Sudjono masih menyala. Gara-garanya, saat SD, Wisnu pernah diludahi Sudjono. Wisnu akhirnya melampiaskan kekesalannya dengan menghajar teman masa kecilnya itu hingga bibir Sudjono mendapatkan empat jahitan.

Kasus penganiayaan yang bermula dari perundungan itu disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. ”Terdakwa Wisnu berkata kalau saat SD dulu saksi Sudjono pernah meludahi terdakwa dan mengenai mukanya,’’ tutur jaksa penuntut umum Iriyanto dalam surat dakwaannya.

Wisnu meyakini bahwa Sudjono pernah meludahi dan memelototinya. Namun, selama ini dia belum berani membalasnya. ”Saya masih ingat sampai sekarang. Dia waktu saya masih SD pernah memelototi dan meludahi saya. Memang dia ini orangnya,” ujar Wisnu kepada majelis hakim dalam persidangan.

Dokter spesialis kejiwaan Yunias Setiawati mengatakan, korban perundungan harus mendapatkan perhatian sejak dini. Jika tidak, mereka bisa menjadi pelaku apabila tidak segera disembuhkan.

”Korban bisa melampiaskannya ke juniornya,” ucap Yunias. Menurut Yunias, pasiennya yang menjadi korban perundungan cenderung menutupi pengalaman buruknya itu.

Anak dan remaja tersebut baru berani bercerita pada pertemuan keempat dan kelima ketika mereka sudah menganggap dokter sebagai temannya.

Korban perundungan biasanya mengalami perubahan perilaku. Mereka lebih suka menyendiri, tidak mau masuk sekolah, nilainya menjadi buruk, depresi, cemas, ketakutan, hingga susah tidur.

”Di-bully secara terus-menerus akan merusak otak. Tumbuh kembang anak menjadi kurang baik,” kata Yunias.

Untuk mencegah kasus perundungan pada anak, kata Yunias, diperlukan peran orang tua dan orang-orang terdekat. ”Sejak awal perlu komunikasi yang efektif dalam keluarga. Anak dilibatkan dalam menyampaikan pendapatnya sehingga mereka bisa terbuka kepada orang tua,” jelasnya.

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto menuturkan, perilaku perundungan bisa disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya lingkungan tempat tinggal pelaku. ”Jadi, dipengaruhi kebiasaan di sekitarnya,” jelasnya.

Aksi perundungan biasanya dilakukan pelaku sebagai pelampiasan. Ditambah adanya kesempatan. Misalnya, korban tidak memberikan perlawanan. ”Bullying bisa dilakukan terus-menerus,” kata Dirmanto.

Praktik perundungan terkadang tidak hanya melibatkan satu pelaku. Namun, satu kelompok. ”Bisa karena kompetisi antarsiswa yang terlalu tinggi atau adanya sistem senioritas,” ungkap Dirmanto.

Menurut Dirmanto, perundungan umumnya terjadi di sekolah yang sistem pengawasannya terhadap siswa rendah. Dengan begitu, pelakunya merasa leluasa untuk beraksi. Kepolisian sadar akan bahaya bullying di sekolah. Oleh karena itu, di berbagai kesempatan sosialisasi sering diselipkan edukasi terkait dengan pencegahan perundungan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore