Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 November 2020 | 00.48 WIB

Pemkot Surabaya Siapkan Empat Jurus Hadapi Resesi Ekonomi

Pemandangan di kawasan Ketabangkali dengan adanya patung Suro dan Boyo yang berwarna-warni menambah keindahan sudut kota Surabaya kemarin malam. (Dite Surendra/Jawa Pos) - Image

Pemandangan di kawasan Ketabangkali dengan adanya patung Suro dan Boyo yang berwarna-warni menambah keindahan sudut kota Surabaya kemarin malam. (Dite Surendra/Jawa Pos)

JawaPos.com - Perekonomian nasional diterpa badai resesi. Dari perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal ketiga, persentasenya minus 3,49 persen. Situasi itu dikhawatirkan merambah Kota Pahlawan. Namun, pemkot sudah melakukan langkah antisipasi.

Sejumlah solusi telah dirancang. Langkah itu dilakukan untuk melindungi perekonomian warga Surabaya agar tidak terjerembap ke jurang penurunan ekonomi.

Kepala Bagian Perekonomian Pemkot Surabaya Agus Heby Djuniantoro menuturkan bahwa Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah merancang strategi. Tujuannya melindungi perekonomian Surabaya. Tercatat ada empat poin penting yang dijabarkan.

Pertama, memastikan ketersediaan bahan pokok. Caranya adalah dengan melakukan pengawasan. Petugas turun mengecek ketersediaan bahan pangan di seluruh pasar. ”Ketika ada yang kurang, harus segera ditambah,” paparnya.

Bahan pokok harus dijaga. Sebab, jika ketersediaan menipis, bahkan tidak ada di pasaran, warga bisa terdampak. Harga komoditas itu pun melambung. Untuk memastikan ketersediaan bahan pokok, Risma berdiskusi dengan distributor. Dia meminta pelaku pasar tersebut terus mencukupi bahan pangan. Ketika ada kendala, segera disampaikan.

Contohnya, kendala pengiriman. Pemkot bakal membantu dengan mengerahkan alat transportasi. Yakni, truk satpol PP dan linmas. Langkah darurat itu pernah dilakukan pada 2011. ”Kami akan bantu distributor,” jelasnya.

Ketika bahan pangan melambung tinggi, pemkot menggelar operasi pasar. Kegiatan tersebut berlangsung di sejumlah titik. Tujuannya, harga bisa kembali normal.

Upaya kedua adalah dengan ketahanan pangan. Warga diminta mencukupi kebutuhan hidupnya. Yakni, dengan bercocok tanam. Misalnya, warga yang memiliki tanah pekarangan. Lahan itu bisa ditanami umbi-umbian hingga sayuran. Pemkot sudah memberikan contoh. Di balai kota, pemkot menanam jagung, sorgum, serta padi. Hasilnya dibagikan kepada warga.

Cara lain dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Yakni, memanfaatkan aset pemkot untuk dijadikan lahan produktif. Contohnya, di Kelurahan Jeruk, Lakarsantri. Pemkot memiliki aset seluas 7,6 hektare. Lahan tersebut merupakan bekas tanah kas desa (BTKD). Kini tanah itu disulap menjadi lahan produktif. Ditanami ketela rambat, sayuran, serta buah-buahan. ”Sudah beberapa kali panen. Hasilnya langsung dibagikan kepada warga. Gratis,” terangnya.

Ketiga, pemberian bantuan sosial (bansos). Pandemi korona memukul perekonomian warga. Alhasil, pemerintah pusat, pemprov, dan pemkot turun memberikan bantuan. Di antaranya, bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan sosial beras (BSB).

Heby menuturkan, pemkot terus melakukan pengecekan. Data penerima dipelototi. Tujuannya, bantuan itu tersalurkan dengan benar. ”Yang menerima memang warga yang membutuhkan,” ucapnya.

Yang tidak kalah penting adalah perhatian pada UMKM. Dalam masa pandemi, tidak sedikit warga yang banting setir dengan menjadi pelaku usaha kecil.

Kepala Bagian Humas Febriadhitya Prajatara mengatakan, pemkot mengeluarkan kebijakan. Seluruh UMKM baru didata. Contohnya, warung makan dan warung kopi.

Langkah itu memiliki dua tujuan. Pertama, memastikan pemilik UMKM warga Surabaya. Setelah didata, pemkot memberikan perhatian. Bentuknya bisa berupa pelatihan dan pemberian modal.


Tujuan kedua melindungi warga Surabaya. Febri, sapaan akrab Febriadhitya Prajatara, mengatakan bahwa pandemi berdampak pada kondisi perusahaan. Sejumlah pabrik mengurangi jumlah pegawai. Dikhawatirkan, warga dari luar kota mendirikan usaha baru di metropolis.

Menurut Febri, penambahan usaha baru tersebut membuat warga Surabaya tersingkir. Oleh sebab itu, pemkot meminta seluruh camat melakukan pendataan. UMKM yang bukan milik warga Surabaya tidak diberi izin. ”Kami berupaya melindungi warga Surabaya,” tegasnya. 

---

RESEP PEMKOT MENANGKAL RESESI

Memastikan ketersediaan bahan pokok

  • Pemkot mengadakan pertemuan dengan distributor untuk mengecek ketersediaan bahan pangan.

  • Distributor dimudahkan dengan cara memberikan bantuan pengiriman bahan pangan.

  • Turun ke pasar untuk mengecek harga dan ketersediaan bahan pokok.


Meningkatkan ketahanan pangan

  • Pemkot membuka lahan pangan di Kelurahan Jeruk, Lakarsantri.

  • Pemkot meminta warga menanam bahan pangan di pekarangan.

  • Pemkot memberikan contoh penanaman bahan pangan di balai kota.


Pemberian bantuan sosial

  • Pemkot terus menyalurkan bantuan sosial bagi warga terdampak pandemi korona.

  • Penyaluran bansos itu dicek. Penerima bantuan harus yang benar-benar membutuhkan.


Perlindungan kepada UMKM Surabaya

  • Pemkot mendata UMKM.

  • Bantuan pelatihan dan modal diberikan.

  • UMKM yang bukan milik warga Surabaya tidak diberi izin.


Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=KynWJd49Mps&ab_channel=jawapostvofficial

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore