
PERNAH JADI KEBANGGAAN: Situasi Taman Remaja Surabaya. Warga sekitar suka karena bisa mendapatkan hiburan murah meriah. (Dite Surendra/Jawa Pos)
Bagi Khusnul Yakin, Taman Remaja Surabaya (TRS) menorehkan memori mengerikan. Dulu keponakannya, Riki, kerap bermain di sana. Suatu hari, Riki tak pulang hingga tengah malam. Rupanya, dia asyik bermain ayunan. Riki bilang, dirinya bermain bersama teman bertubuh besar dan berwarna hijau.
---
Tentu saja Khusnul Yakin dan anggota keluarga lainnya yang mendengar penuturannya langsung merinding. Bocah tersebut tak menjelaskan siapa nama temannya itu. ’’Saya tidak tahu sosok apa itu, bisa jadi buto atau yang lain,’’ kata Yakin sambil mengernyitkan dahi.
Dulu TRS menjadi taman hiburan kebanggaan warga Surabaya. Warga yang ingin hiburan murah kerap mendatangi area yang memiliki sekitar 20 wahana permainan tersebut. Panggung yang tak pernah sepi dari pentas melejitkan pamor tempat rekreasi di Jalan Kusuma Bangsa tersebut.
Di balik riang dan tawa pengunjung, ternyata taman hiburan yang berdiri sejak 20 Februari 1971 itu menyimpan sederet kisah yang membuat siapa pun merinding. Tempat itu menyatu dengan dunia lain.
Lokasi TRS yang berbatasan dengan perkampungan Ambengan Batu juga memberikan sederet kenangan mistis bagi warga. Terutama yang tempat tinggal mereka berbatasan langsung dengan tembok taman. Salah satunya rumah Budi Pramono, warga Ambengan Batu. Tembok dan dapur miliknya berbatasan langsung dengan pagar TRS.
Suara keramaian dan bunyi musik dari radio kerap memecah keheningan malam di rumah Budi. Seakan-akan TRS kembali hidup setelah tutup. Suara riuh orang berbicara dan bercengkerama. Budi menggambarkannya seperti sebuah pasar malam. Sama seperti saat TRS beroperasi normal. ’’Ada suara musik dari radio juga. Yang dengar bukan saya saja. Ibu saya juga demikian,’’ ujar Budi.
Waktu masih beroperasi dulu, Budi juga pernah punya pengalaman menakutkan. Kala itu dia menjajal monorail. Salah satu wahana yang menawarkan berkeliling TRS dengan sebuah kereta listrik. ’’Pas jalan saya melihat ada anak perempuan berdiri di tengah rel. Kalau anak biasa, jelas tidak mungkin. Apalagi saat kereta melintas, ditabrak dan tembus,’’ kenangnya.
Menurut dia, yang paling sering ada kejadian adalah pengalaman pengunjung saat menjajal wahana rumah hantu. Kejadian itu bukan sekali atau dua kali saja. Pengunjung berteriak ketakutan. Bahkan, ada yang sampai melompat saat kereta berjalan.
Di dalam rumah hantu itu, konon penampakan hantu nyata sering terjadi. Bukan boneka buatan yang sengaja dipasang. Atau petugas taman yang menyamar menjadi hantu. Melainkan sosok seram seperti genderuwo yang menampakkan diri. ’’Memang dari cerita yang saya dengar di depan rumah hantu itu ada yang menjaga juga. Sosok orang tua selalu berdiri di mulut wahana itu,’’ kata Ketua RT 6, Ambengan Batu, Tri Satrio Laksono.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
