Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Oktober 2020 | 03.48 WIB

”Penunggu” Tunjukkan Eksistensi Jelang Senja di Rumdin Sekda Gresik

TAK ADA YANG MENEMPATI: Ruang tengah rumah utama yang tersambung dapur. Kanan dan kiri adalah kamar tidur utama. (Allex Qomarulla/Jawa Pos) - Image

TAK ADA YANG MENEMPATI: Ruang tengah rumah utama yang tersambung dapur. Kanan dan kiri adalah kamar tidur utama. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Rumah dinas yang terletak di sekitar Alun-Alun Gresik itu sebenarnya masih bagus. Halamannya asri. Bangunannya pun terawat dengan baik. Sangat layak untuk ditempati. Andai saja, tak ada cerita tentang Noni Belanda dan Pak Tua yang tak kasatmata di rumah tersebut.

---

Dari luar, tak ada yang aneh dengan rumah di Jalan Raden Santri tersebut. Namun, cobalah masuk. Auranya entah kenapa terasa mencekam. Di bagian depan rumah, terlihat tiga buah pintu tinggi besar. Khas arsitektur rumah yang berdiri pada zaman penjajahan Belanda.

Pengunjung yang ingin masuk tidak melewati pintu utama, tetapi lewat pintu samping. Melewati lorong yang langsung menuju dapur. Jika sudah masuk, baru terlihat ada dua bagian dari bangunan itu. Bagian pertama adalah rumah utama, bagian kedua adalah rumah tambahan untuk pengurus rumah. Yakni, Winarsih atau Bu Sih.

Menurut Bu Sih, sudah 10 tahun rumah tersebut tak ditempati. Beberapa orang mengaku kerap diganggu makhluk yang tak kasatmata. Biasanya selepas asar hingga menjelang magrib, penunggu gedung itu menunjukkan eksistensinya. ”Ada laki-laki berjenggot sedada dan beserban. Ada perempuan cantik seperti noni Belanda. Di sini saya tinggal sendiri. Kalau siang saja, baru ada teman, Adi,” katanya.

Beberapa tahun lalu, ada bagian gedung yang direnovasi. Tepatnya di bagian rumah belakang. Di situ ada empat kamar yang memanjang. Mungkin dulu digunakan untuk ruang pelayanan karena pada 1960-an, rumah tersebut dimanfaatkan sebagai kantor Kecamatan Gresik. Baru pada 1990-an, bangunan satu lantai itu dijadikan rumah dinas (rumdin).

Setelah asar, pekerja tiba-tiba bertanya kepada Adi. ”Siapa itu, temannya cantik banget?” ujar Bu Sih menirukan pertanyaan para tukang. Bukan satu orang saja yang melihat keberadaan perempuan cantik tersebut. Adi pun bingung. ”Lho siapa? Di sini perempuan hanya Bu Sih,” begitu jawab Adi. Kontan saja para tukang ketakutan.

Soal pengalaman menyeramkan, Bu Sih mengaku sudah kenyang. Saat malam, dia sering mendengar suara perempuan dari belakang rumah. Di antara rumah belakang dan rumah utama, ada pintu kecil untuk menuju sumur. Nah, di sebelah sumur itu, ada makam Raden Santri Sayyid Ali Murtadlo. Keduanya hanya dipisahkan tembok tipis. Kata Bu Sih, sering muncul sosok lelaki tua beserban dengan jenggot panjang dari arah sumur.

Pernah suatu sore, Bu Sih sedang bersih-bersih di halaman belakang. Tepat di depan rumah belakang dan di belakang dapur. Bau minyak beraroma mint tiba-tiba menyengat. Dicari sumber bau itu, tapi tidak ketemu. Lama-kelamaan, hidung hingga mata Bu Sih panas. ”Seperti disiram minyak,” kata perempuan yang menjaga rumah tersebut sejak 2011 itu.

Pada hari lain, saat sedang menyapu di dapur, tiba-tiba Bu Sih dipeluk kencang. Ingin berontak, tapi tidak bisa lepas. Dilihat, ada sosok yang berambut gimbal. Wajahnya tertutupi. Setelah Bu Sih berusaha, akhirnya cengkeraman itu terlepas. Namun, sosok itu juga hilang. Dulu dia pernah mencoba tidur di kamar utama di rumah induk. Saat sedang nyenyak tidur, pinggang Bu Sih ditekan cukup keras. Bu Sih menjerit kesakitan. Namun, setelah dia membuka mata, tidak ada apa pun.

Dulu rumdin itu juga menjadi tempat persinggahan warga Bawean. Bu Sih bercerita, sebelum ditempati, mereka melakukan sejenis ritual. Mereka membakar sesuatu, lalu membawanya keliling ke setiap ruangan yang ada. Bu Sih tidak tahu apa yang dibakar. Tetapi, baunya wangi. ”Ini sampai karpetnya bolong-bolong,” kata perempuan asli Malang itu.

Meski sempat menjadi rumah singgah, Bu Sih sebagai penjaga rumdin itu tidak pernah mendapat cerita dari orang Bawean. ”Kalaupun mereka melihat sesuatu atau merasa diganggu, saya tidak tahu karena mereka tidak cerita,” imbuh Bu Sih. Biasanya, orang Bawean tinggal di rumdin Sekda itu juga tidak lama. Tiga sampai tujuh hari saja. Setelah urusan di Gresik selesai, mereka lantas kembali ke Bawean.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=KktEAdTG6GU&ab_channel=JawaPos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore