Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 September 2020 | 03.48 WIB

Berbincang dengan Noni Belanda di Makam Peneleh

DIBERI PENANDA: Anggota komunitas Prana Indigo Nusantara menunjukkan makam Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat di Makam Belanda Peneleh. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

DIBERI PENANDA: Anggota komunitas Prana Indigo Nusantara menunjukkan makam Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat di Makam Belanda Peneleh. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Makam Belanda Peneleh dikenal sebagai pekuburan kuno dengan nisan-nisannya yang artistik dan unik. Selain riwayat berdirinya makam, kisah-kisah horornya jadi rasan-rasan plus membuat masyarakat penasaran.

---

Pekan lalu, Komunitas Prana Indigo Nusantara datang ke kompleks makam tersebut untuk wisata heritage sambil mengetes kemampuan mereka: berbincang dengan para arwah. Karena itu, ketika memasuki pintu gerbang Makam Belanda Peneleh, tanpa dikomando, mereka langsung menyebar ke area makam seluas 4,5 hektare tersebut. Ada yang memotret keunikan nisan. Ada pula yang coba mengartikan tulisan secara sepotong-potong.

’’Di sini (Makam Belanda Peneleh, Red) saya merasa nyaman. Sambutannya hangat,” celetuk pembimbing Komunitas Prana Indigo Nusantara Ayu Prameswari saat keliling area makam. Perempuan yang akrab disapa Gaby itu menyebut bahwa seluruh penghuni ramah. Mereka sama sekali tak terlihat kejam. ’’Banyak (arwah, Red) yang ingin mengobrol. Namun belum bisa dilayani karena keterbatasan waktu,” tambah Gaby.

Pencinta traveling itu mengaku sempat berdialog dengan salah satu arwah noni Belanda. Namanya Ane. Berdasar cerita Gaby, Ane lama tinggal di Surabaya. Gadis itu merupakan anak salah seorang bangsawan Belanda. Dia meninggal di usia 19 tahun karena suatu penyakit.

Ane bisa dibilang meninggal secara wajar. Dia tampak bahagia dan tidak bersedih atas kematiannya.

Menurut Gaby, bangunan-bangunan di Makam Belanda Peneleh sangat menarik dipelajari. Salah satu yang menjadi sorotan adalah makam Pierre Jean Baptiste de Perez atau P.J.B. de Perez. Pria asli Belanda itu dikenal sebagai wakil direktur Mahkamah Agung Hindia Belanda yang juga komisaris sejumlah perusahaan besar. Perez tercatat pernah menjadi residen Surabaya dan gubernur Sulawesi.

Photo

AURA MISTIS: Makam Belanda Peneleh penuh dengan nisan yang artistik dan bersejarah, hanya keadaannya kurang terawat. (Robertus Risky/Jawa Pos)

’’Yang menarik, Perez meninggal saat berada di dalam kapal. Jenazahnya dikuburkan setelah sekitar 10 hari di laut,” kata pegiat sejarah Kuncarsono Prasetyo yang didapuk sebagai pemandu tur Makam Belanda Peneleh. Selain Perez, ada tokoh-tokoh lain yang ikut dikuburkan di makam yang dibangun pada 1814 tersebut. Seperti Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat (1790–1848) dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Merkus (1787–1844).

Menurut Kuncar, pekuburan tersebut juga jadi tempat penimbunan jasad warga Jerman, Inggris, Jepang, dan lainnya. Hal itu bisa dicek dari beberapa tulisan yang terdapat di nisan. Kata mantan jurnalis tersebut, ada 3.821 jasad yang dikuburkan di makam. Satu makam rata-rata dipakai untuk lebih dari dua jasad. ’’Jadi, makam dulu memakai sistem buka tutup. Tidak seperti sekarang yang ditutup permanen setelah dipakai menguburkan satu orang,” jelas Kuncar.

Koordinator Komunitas Sobo Punden Tri Priyo Wijoyo menambahkan, Makam Belanda Peneleh juga punya cerita mistis yang menyebar dari mulut ke mulut. Beberapa warga mengaku pernah menjumpai ’’penunggu’’ Makam Peneleh. ’’Dulu, kata warga, sering ada noni Belanda yang wira-wiri di sekitar makam. Yang tahu masyarakat di sekitar makam,” kata Wijoyo.

Ada cerita keangkeran lain yang berkembang di masyarakat. Cerita itu berkaitan dengan kisah horor di rumah balung. Jadi, rumah balung adalah sebutan untuk bangunan lawas yang lokasinya di pojok Makam Belanda Peneleh. Konon, katanya rumah itu jadi tempat pembakaran abu jenazah. Dulu, banyak warga melihat pemandangan tak lazim saat malam di rumah balung. Ada serdadu Belanda yang berjalan tanpa kepala. Cerita itu sempat heboh dan membuat sebagian masyarakat takut.

---

TENTANG MAKAM BELANDA PENELEH


  • Dibangun pada 1814

  • Memiliki luas 4,5 hektare

  • Diperkirakan jadi tempat penguburan 3.821 jasad

  • Jadi tempat pemakaman sebagian pejabat Hindia Belanda

  • Memiliki bentuk nisan yang bervariasi

  • Hampir seluruh nisan ditulisi informasi berbahasa Belanda


Sumber: Pegiat sejarah

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=avpwZE63nD8

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore