
BELAJAR CEPAT: Dari kiri, Ni Luh Amelia dan Safitri Adawiyah lulus dari SMAN 5 dalam dua tahun saja. Mereka kini diterima di PTN favorit. (SAFITRI ADAWIYAH FOR JAWA POS)
Program sistem kredit semester (SKS) di SMAN 5 membuat 3 di antara 322 siswa lulus cepat tahun ini. Mereka hanya dua tahun belajar di SMA. Ketiganya terpilih setelah menjalani seleksi ketat dan mampu menyelesaikan tugas secara cepat.
EDI SUSILO, Surabaya
Pada Jumat (8/5) pukul 09.00, kami menyalakan handphone masing-masing. Lalu, kami membuka aplikasi Zoom untuk ngobrol bareng. Sehari sebelumnya, kami sepakat ngobrol di jaringan virtual tersebut. Selain akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kami berempat terpisah jarak.
Safitri Adawiyah tinggal di Bangil, Pasuruan. Rohmatullah Azzakki berada di kampungnya, Desa Klotok, Plumpang, Tuban. Hanya Ni Luh Amelia dan Jawa Pos yang berada di Surabaya. Yang pertama masuk obrolan adalah Zakki, sapaan akrab Rohmatullah Azzakki. Saat tersambung dari rumahnya, suara petok ayam terdengar seru. ’’Maklum, di desa,’’ ucapnya.
Zakki memang bukan warga Surabaya. Dia berasal dari Desa Klotok yang dekat dengan Lamongan.
Dia diterima di SMAN 5 lewat jalur prestasi. Sejak SMP, putra pasangan Supardi dan Mursiti tersebut memang sering ikut Olimpiade matematika. Beberapa sertifikat lomba itulah yang mengantarkannya ke SMAN 5.
Di SMAN 5, Zakki mengungkapkan bahwa dirinya tidak punya cita-cita muluk untuk lulus cepat dua tahun. Remaja kelahiran 18 Oktober 2003 tersebut menyatakan hanya memiliki motivitasi sederhana. Dia tidak ingin terlalu merepotkan orang tuanya. ’’Saya indekos di Surabaya. Otomatis, saya butuh biaya,’’ katanya.
Photo
Rohmatullah Azzakki
Dalam sistem SKS, penyelesaian UKBM dengan cepat adalah kunci siswa bisa lulus cepat. Artinya, semua siswa punya peluang sama untuk lulus dua tahun. Bagi mereka yang konsisten, pintu lulus cepat terbuka lebar.
SKS beda dengan kelas akselerasi yang dulu booming di beberapa SMA unggulan. Ketika itu siswa sudah di-setting dalam kelas khusus dan disiapkan lulus dalam waktu dua tahun saja. SKS menitikberatkan kemampuan dan kemauan siswa.
Untuk bisa selesai cepat waktu, Zakki pun punya jadwal khusus belajar setiap hari. Pagi, sebelum azan subuh berkumandang, dia belajar selama satu jam mulai pukul 03.00. Sepulang sekolah, dia kembali belajar dan baru berhenti menjelang azan magrib.
Berbeda dengan Zakki, Sasa –sapaan akrab Safitri Adawiyah– mengungkapkan tidak punya tip belajar khusus agar lulus cepat. Dia belajar setiap hari, tetapi tidak intens. Pada intinya, saat belajar, ya belajar. ’’Biasanya pulang sekolah atau malam setelah magrib. Nggak tentu,’’ ungkap perempuan kelahiran 1 November 2002 tersebut.
Ketekunan menjadi kunci lulus cepat di sistem SKS. Semuanya harus dituntaskan dengan segera dan tidak ditunda-nunda. Sasa yang tinggal di Bangil juga indekos selama bersekolah di SMAN 5. Sebagai perantau dan tidak ingin membebani orang tua, dia memilih lulus dua tahun karena mempertimbangkan pengeluaran orang rumah. ’’Adik saya tahun depan mau masuk SMA,’’ jelasnya.
Jika dia lulus tiga tahun, beban orang tua makin besar. Sebab, orang tuanya harus mendaftarkan sang adik masuk SMA dan membiayai Sasa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lulus dua tahun menjadi strategi Sasa membantu mengatur pengeluaran orang tua.
Amel –sapaan akrab Ni Luh Amelia– beda lagi. Dia sebenarnya tidak menargetkan harus lulus dua tahun. Dia santai saja. Motivitasinya, tertib mengumpulkan dan mengerjakan tugas. ’’Saya optimalkan belajar di sekolah. Jadi, rumah belajarnya lebih fleksibel,’’ ujar gadis kelahiran 17 April 2003 tersebut.
Amel menjadi satu-satunya siswa IPS yang lulus cepat. Meski sendirian, dia didukung teman-teman seangkatannya. ’’Ndak ada yang iri. Malah banyak yang dukung,’’ ungkapnya.
Menjadi siswa lulus cepat juga sempat membuat bingung. Terutama jika besok-besok sekolah atau teman angkatan ingin mengadakan reuni tahunan. Ketiganya sempat guyonan. Nanti mereka ikut angkatan siapa?
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=YPu-DA1AO0g
https://www.youtube.com/watch?v=Er76Ofs4ek4
https://www.youtube.com/watch?v=CmY7VuWOKdY

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
