Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 September 2019 | 03.29 WIB

Semburan Lumpur Gresik Makin Mengecil, Terus Buat Kolam Penampungan

PEMANTAUAN: Dandim 0817 Gresik Letkol Inf Budi Handoko didampingi Koordinator Tagana Gresik Abdul Muid mendatangi lokasi semburan lumpur kemarin. (Chusnul Cahyadi/Jawa Pos) - Image

PEMANTAUAN: Dandim 0817 Gresik Letkol Inf Budi Handoko didampingi Koordinator Tagana Gresik Abdul Muid mendatangi lokasi semburan lumpur kemarin. (Chusnul Cahyadi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kolam-kolam terus dibuat untuk menampung luberan minyak mentah bercampur lumpur yang menyembur dari sumur di Desa Sekarkurung, Kebomas. Kemarin (24/9) tim SKK Migas Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa) juga membuat kolam baru di sekitar semburan.

Kolam baru itu berdiameter 3 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter. Kolam tersebut merupakan yang keempat. Fungsinya menampung luberan minyak dari sumur peninggalan Belanda itu. Harapannya, limbah tersebut tidak mencemari Kali Lamong. Dari empat kolam, tiga di antaranya telah teraliri rembesan minyak.

Dari pantauan Jawa Pos kemarin, semburan lumpur semakin mengecil. Jika sebelumnya semburan minyak masih bercampur lumpur, belakangan hanya tampak semburan cairan berminyak. Baunya seperti minyak solar. Minyak-minyak yang sudah tidak bercampur lumpur rencananya disedot.

Fenomena semburan lumpur di Sekarkurung yang terjadi sejak Kamis (19/9) terus mendapat atensi dari banyak pihak. Kemarin pukul 11.30 Komandan Distrik Militer (Dandim) 0817 Gresik Letkol Inf Budi Handoko meninjau lokasi semburan. ’’Hanya peninjauan biasanya,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Gresik M. Najikh mengatakan, pihaknya bersama SKK Migas Jabanusa terus memantau lokasi semburan. Salah satu pemantauan yang dilakukan adalah memonitor udara ambien sekitar. ’’Kondisi masih aman,’’ ujarnya.

Udara ambien merupakan udara sekitar. Dalam keadaan normal, udara ambien terdiri atas gas nitrogen (78 persen), oksigen (20 persen), argon (0,93 persen) dan gas karbondioksida (0,03 persen). Selain memantau kondisi udara, Najikh mengatakan telah mengambil sampel kandungan lumpur campur di tiga titik. Jumlah yang diambil masing-masing 10 liter. ’’Kami masih lakukan uji laboratorium. Hasilnya bisa diketahui 10–14 hari mendatang,’’ jelas mantan sekretaris DPRD Gresik itu.

Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup di BLH Pemkab Gresik Baktiar Gunawan Hutabarat menambahkan, pembuatan kolam-kolam penampungan itu memang sesuai dengan hasil rapat bersama. Tujuannya, melokalisasi luberan agar tidak terjadi pencemaran ke sungai. ’’Yang jelas, BLH dan SKK Migas Jabanusa akan terus melakukan pemantauan,’’ ungkapnya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore