
Ilustrasi siswa SMP.
JawaPos.com – Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya sedang mencari formulasi untuk membantu siswa miskin dan pramiskin yang sekolah di SMP Swasta. Dispendik berencana menggratiskan biaya sekolah siswa tersebut.
Kepala Dispendik Surabaya Yusuf Masruh menyatakan, pihaknya siap memberikan sokongan dana. Bukan hanya dalam bentuk bantuan SPP, dispendik juga akan memaksimalkan anggaran bopda dan BOS.
Selain itu, kebijakan tersebut akan dibantu dengan dana CSR dari perusahaan. ”CSR ini sebagai pendamping supaya tidak memberatkan sekolah,” jelas Yusuf.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Juliana Evawati mendukung penuh rencana dispendik itu. Dia meminta dispendik lebih inovatif mencari solusi pendanaan untuk siswa miskin yang sekolah di SMP swasta.
Salah satunya melalui CSR sebagai dana pendamping bopda dan BOS. ”Ini bisa mengurangi beban biaya di sekolah,” kata Juliana.
Di sisi lain, sering kali terjadi miskomunikasi di lapangan. Siswa dari keluarga miskin tetap membayar. Baik untuk pendaftaran maupun SPP bulanan. ”Ini masih saya temukan di lapangan. Siswa miskin tetap bayar,” ungkap Juliana.
Sekretaris Komisi D Akmarawita Kadir juga menemukan kondisi serupa. Dia mendapati siswa miskin di sekolah swasta masih membayar. Nilainya variatif. Antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta untuk uang pangkal. ”Tidak sedikit yang sampai berutang,” tutur Akma.
Atas kondisi itu, dia meminta pemkot melalui dispendik turun tangan. Harus ada intervensi agar siswa dari keluarga miskin dan pramiskin tidak sampai membayar di sekolah swasta. Sebab, selama ini, lanjut Akma, dispendik kerap memberikan pernyataan bahwa sekolah siswa miskin bisa gratis meski di lembaga pendidikan swasta. ”Intervensi ini ditunggu-tunggu wali murid,” tegasnya.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya Hari Santoso sudah mendapat 10 laporan wali murid yang mengaku kesulitan membayar biaya sekolah di SMP swasta. Mereka kesusahan mencukupi kebutuhan anaknya karena ada kewajiban membayar sejumlah komponen biaya.
Dia meminta dispendik untuk melakukan pendanaan di lapangan. Bahwa yang resmi terdata sebagai keluarga miskin sebaiknya diberi kelonggaran. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya belum mendaftarkan anaknya hingga sekarang.
Mereka khawatir tidak bisa membayar biaya di sekolah. ’’Surabaya sebagai kota layak anak kan lucu kalau banyak anak yang tidak sekolah. Apalagi karena alasan biaya,’’ tegas Hari. (mar/c17/aph)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
