Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Februari 2017 | 01.56 WIB

Jalan Sepak Bola Tionghoa Indonesia

R.N. Bayu Aji - Image

R.N. Bayu Aji


BAGI yang mendaku sebagai penggemar sepak bola di tanah air, mumpung Imlek belum terlalu lama berlalu, sebuah tes kecil untuk Anda: pernahkah mendengar nama Tang Liong Houw, Tan Bing Moheng, atau Han Siong?



Belum pernah mendengar? Baiklah. Bagaimana dengan Endang Witarsa, Harry Tjong, atau Surya Lesmana?



Kalau semua nama itu terdengar asing, barangkali, itu semata karena mereka datang dari masa yang lumayan jauh. Sebab, secara prestasi, sejatinya mereka layak dikenang dalam tarikan napas yang sama seperti kita mengenang para anggota skuad SEA Games 1987 dan 1991 yang sukses mempersembahkan emas untuk Indonesia.



Dalam buku 70 Tahun PSSI Mengarungi Milenium Baru 1930–2000, Tang, Tan, Han, Endang, Harry, dan Surya merupakan para pemain keturunan Tionghoa yang menjadi pilar tim nasional kita di masa awal kemerdekaan. Periode 1950-an sampai 1960-an.



Masih banyak yang lain: Bhe Ing Hien, Phoa Sian Liong, Tee San Liong, Kwee Kiat Sek, dan Thio Him Tjiang. Mereka menjadi bagian dari timnas Indonesia yang berhasil merebut perunggu di Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang. Sebuah prestasi yang tak pernah bisa kita ulangi. Sampai kini.



Dua tahun sebelumnya, di Olimpiade Melbourne, Australia, mereka juga jadi bagian sebuah sejarah besar: menahan imbang Rusia 0-0. Sebuah penerbitan di Eropa memuat headline tentang pertandingan itu dengan judul Miracle Defence of Indonesia Hold Russia to Scoreless Draw.



Dengan latar belakang sehebat itu, pertanyaan yang kemudian sering muncul, biasanya tiap Imlek menjelang, mengapa belakangan jarang sekali terdengar kalangan keturunan Tionghoa di tanah air yang berkecimpung di lapangan hijau?



Di era sekarang, paling kita hanya mengenal Juan Revi dan Sutanto Tan yang berkiprah di kasta teratas liga tanah air. Atau, Arthur Irawan yang masih melanglang buana di Eropa sana.





***





Catatan sejarah menunjukkan, kalangan Tionghoa dan olahraga sejatinya bak dua sisi mata uang: tak terpisahkan. Mereka rela mengeluarkan dana untuk mengampanyekan pentingnya olahraga kepada masyarakat.



Caranya melalui berbagai macam terbitan. Seperti koran, majalah, dan selebaran berupa pamflet. Selain dari sudut pandang kesehatan dan kebugaran jasmani, olahraga, menurut orang Tionghoa, memiliki hubungan erat dengan kebangsaan. Kemajuan dalam bidang olahraga merupakan salah satu cara untuk membuat suatu bangsa menjadi besar.



’’Ideologi’’ itu yang kemudian mendorong kalangan Tionghoa Hindia Belanda mendirikan POR (perkumpulan olahraga) pada permulaan abad ke-20. Di antaranya THOTH (Tiong Hoa Oen Tong Hwee) di Batavia tahun 1905.



Tiga tahun berselang, perkumpulan ini kemudian menjadi UMS. Di Surabaya ada Gymnastiek en Sportvereeniging Tionghoa Surabaya. Yanglantas menjadi Naga Kuning dan SuryanagaSurabaya. Ada pula YMC (Young Men’s Combination) di Bandung dan Union di Semarang. Selanjutnya berdiri pula POR Tunas Jaya, Maesa, Maluku.



Keberadaan POR di kalangan orang Tionghoa semakin berkembang dengan membuka beberapa cabang olahraga. Salah satunya sepak bola. Pembinaan sepak bola melalui POR semakin meneguhkan keinginan orang Tionghoa mempersatukan warga. Melebur menjadi Indonesia melalui wilayah nonpolitik, khususnya pada olahraga.



Lewat sepak bola, kalangan Tionghoa menjawab sinisme yang berkembang setelah Indonesia merdeka yang mempertanyakan nasionalisme mereka. Dimotori oleh generasi pemain yang disebut di awal tulisan tadi, warga Tionghoa menjawab dengan tindakan nyata di atas lapangan hijau untuk meneguhkan rasa nasionalisme mereka.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore