
Ilustrasi: rupiah mulai menguat.
JawaPos.com - Penguatan rupiah signifikan, sebagaimana pelemahan rupiah, sering memicu euforia. Apalagi ini tahun politik. Tapi, mari sejenak menepikan perspektif politik dan kita gunakan perspektif keuangan untuk melihat pergerakan nilai tukar rupiah.
Secara teoretis, ada faktor spoiler effect yang memicu pergerakan nilai tukar. Pertama, dari sisi sektor riil. Ini terkait kinerja ekspor dan impor, ujungnya neraca dagang.
Dari sisi ini, tidak ada yang bergerak signifikan dalam beberapa bulan ini. Tren defisit masih terlihat. Berdasar Data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang Januari-November 2018 tercatat masih defisit USD 7,5 miliar.
Jika dibandingkan dengan neraca dagang Januari-November 2017 yang surplus USD 12,0 miliar, tahun ini kinerjanya justru kurang bagus. Jadi, dari kacamata sektor riil, faktor penekan rupiah tahun ini sebenarnya lebih kuat.
Faktor penggerak nilai tukar lainnya adalah transaksi di pasar keuangan. Ini lebih kompleks dari sekadar hitungan neraca dagang. Kalau capital mengalir deras masuk ke portofolio saham maupun surat utang, rupiah menguat.
Saya memiliki riset jangka panjang, sejak era reformasi, bahwa naik turunnya rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh transaksi di pasar keuangan, bukan karena kinerja sektor riil ekspor-impor. Aliran modal di pasar keuangan ini bersifat global.
Pertanyaannya, siapakah yang memengaruhi aliran modal itu? Jawabannya adalah Amerika Serikat (AS), baik itu pemerintahnya maupun The Fed-nya. Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa Amerika sebagai penguasa dolar adalah si penabuh gendang. Tabuhan gendang Amerika itulah yang memengaruhi pergerakan seluruh mata uang global.
Ketika rupiah melemah tajam di periode 2007 hingga 2008, itu bukan karena kinerja ekonomi yang tidak bagus. Melainkan lebih karena faktor krisis subprime mortgage di Amerika. Demikian pula ketika rupiah menunjukkan tren menguat sejak awal 2009, itu juga lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan Quantitative Easing (QE) oleh The Fed.
Di pasar keuangan sendiri ada tipikal dana long term yang lebih betah bertahan di dalam portofolio saham dan surat utang. Tapi, ada juga tipikal dana short term alias hot money yang getol keluar masuk portofolio demi mengejar gain dari selisih harga portofolio. Sejak era QE oleh The Fed, saya melihat makin banyak dana berkarakter short term.
Imbasnya, pergerakan nilai tukar dan indeks harga saham lebih fluktuatif. Harga yang harus dibayar adalah dikereknya suku bunga oleh bank sentral maupun pemerintah saat merilis surat utang. Tujuannya, dana-dana asing lebih betah di portofolio Indonesia.
Lantas, bagaimana penguatan tajam rupiah dalam beberapa hari ini? Lagi-lagi, faktor utamanya ada di Amerika. Lihat saja, Dollar Index yang melemah terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia. Penyebabnya, drama shutdown pemerintah Amerika dan kebijakan The Fed yang akan lebih fleksibel dalam pengelolaan likuiditas.
Karena itu, yang bisa dilakukan adalah mitigasi. Pemerintah, BI, maupun pelaku usaha, harus melakukan mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar yang banyak dipengaruhi oleh berbagai kebijakan yang berlangsung di Amerika.
Salah satu contoh bagus sudah dilakukan oleh Kementerian Keuangan. Dengan strategi front loading melalui penerbitan surat utang di awal tahun. Ini menjadi angin segar bagi rupiah. Apalagi, saat dilelang, sampai oversubscribe hingga Rp 55 triliun.
Demikian pula BI. Bagi otoritas moneter, yang paling baik adalah menjaga stabilitas nilai tukar agar pelaku usaha tidak terkaget-kaget. Karena itu, saat menguat maupun melemah, harus diusahakan agar pergerakannya smooth. BI punya banyak instrumen untuk melakukannya.
Akhirnya, sekali lagi, kita harus mengakui jika di era banyak aliran modal dengan karakter short term seperti saat ini, pergerakan nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
