
Tabloid Bola harus berhenti terbit setelah 34 tahun.
JawaPos.com - Kabar mengejutkan muncul pada awal pekan ini. Tabloid Bola yang sudah menjadi ikon besar di dunia media cetak nasional harus mengakhiri perjalanan panjang mereka. Tabloid olahraga yang pernah jaya di eranya tersebut dipastikan berhenti terbit pada pekan depan.
Nyaris tak ada yang menyangka tabloid yang juga sudah ikut membesarkan banyak tokoh olahraga nasional ini harus berhenti terbit. Mereka menjadi korban terkini yang kalah oleh perubahan zaman. Bahkan jajaran redaksi Tabloid Bola pun tak menyangka ending-nya terjadi dalam waktu cepat.
Ditemui JawaPos.com di kantornya jalan Palmerah Barat, Pemimpin Redaksi Tabloid Bola Weshley Hutagalung mengungkapkan penyebab tutupnya media yang dipimpinnya. Dia mengakui kalau media cetak memang pasti akan mengalami akhir digerus oleh perkembangan zaman. Namun, dia tak menyangka Tabloid Bola mengalaminya saat ini.
"Ya, Selasa (16/10) kemarin semua karyawan dikumpulkan untuk diberi tahu. Beberapa hari sebelumnya kami sudah dapat informasi dari pimpinan tertinggi. Namun baru hari itu diberitahukan soal keputusan pemilik saham untuk menghentikan kegiatan PT Tunas Bola," ungkap Weshley, Kamis (18/10) siang.
"Karena prospeknya, perkembangan zaman, dan laporan kita makin turun. Dan rasanya tidak ada media cetak yang mampu bertahan, pasti turun," lanjut dia.
Tak bisa dipungkiri, Tabloid Bola pernah mengalami masa kejayaan. Menjadi panduan dan bacaan wajib bagi para penggemar olahraga di tanah air. Namun, perkembangan zaman membuat tabloid ini harus mengakhiri perjalanan panjang selama 34 tahun.
"Memang kita pernah meraih penjualan lima ratus ribu eksemplar. Tapi untuk sekarang, tahun berjalan, biaya operasional terus meningkat. Harga kertas sudah tiga kali naik dalam setahun, biaya semakin tinggi karena kami pakai kertas impor. Ke depannya akan semakin sulit menjalani bisnis ini karena pengiklan juga mulai jauh dari media cetak," imbuh pria yang juga komentator sepak bola tersebut.
Weshley menuturkan, ada banyak handicaps dalam bisnis media cetak saat ini. Dari mulai harga kertas yang terus naik, penjual lapak yang makin berkurang, dan masyarakat yang lebih suka membaca di mobile. Sehingga biaya operasional media cetak tidak sebanding dengan pendapatan.
Selain itu, saat ini bisa dibilang semua orang bisa bikin berita. Kemudian dibaca dengan mudah pula dalam waktu singkat. Kondisi ini didukung dengan makin menggilanya media sosial.
"Seperti agregator banyak mengambil berita kita tanpa berbayar. Kita yang kerja mereka yang dapat hasilnya. Sementara perubahan itu tidak segera diikuti oleh peraturan. Kalau aturannya ada mungkin kita masih hidup, tapi ini kan nggak," keluh dia.
"Mungkin tumbangnya Bola menjadi alarm bagi media-media lain. Media ikonik saja bisa tumbang. Media cetak mana lagi yang akan bertahan? Paling tiga atau empat lagi yang mampu," pungkas dia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022