Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Desember 2019 | 18.45 WIB

Kaleidoskop 2019: The Daddies Atlet Indonesia Terbaik Pilihan Jawa Pos

Indonesia - Image

Indonesia

JawaPos.com-Selepas hasil menyakitkan di Olimpiade Rio 2016, banyak yang beranggapan bahwa karir Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sudah tamat.

Memang, hasil Olimpiade itu menggoreskan luka yang sangat perih. Berada sebagai unggulan kedua, Hendra/Ahsan gagal lolos dari fase grup D. Mereka hanya sekali menang dan menelan dua kekalahan dalam tiga pertandingan.

Setahun setelah Olimpiade, Hendra dan Ahsan berpisah. Hendra bermain profesional, berpasangan dengan pemain asal Malaysia Tan Boon Heong. Sementara itu, Ahsan mayoritas berpartner dengan Rian Agung Saputro.

Setelah sama-sama gagal berada dalam barisan ganda putra elite dunia, Hendra dan Ahsan kembali bersatu pada 2018. Tepatnya pada turnamen India Open. Hasilnya langsung menjanjikan. Mereka bisa menembus semifinal.

Namun, secara umum, Hendra/Ahsan masih gagal menampilkan performa puncak. Total, sepanjang 2018 itu, mereka hanya mampu meraih dua gelar. Yaitu pada turnamen Singapore Open Super 500 dan kompetisi level terendah Malaysia International Challenge.

Memulai 2019 dengan menempati ranking 9 dunia, Hendra/Ahsan sejatinya tidak terlalu dianggap serius oleh para pesaingnya. Apalagi usia mereka sudah uzur untuk ukuran pemain bulu tangkis. Hendra akan menginjak 35 tahun. Sedangkan Ahsan mencapai 32 tahun.

Namun, mereka tiba-tiba menggebrak dan mengalami kebangkitan kedua. The Daddies menguasai tiga gelar besar dan sangat prestisius sepanjang 2019.

Dimulai dari All England, Hendra/Ahsan menjadi juara dunia 2019 dan berdiri di podium tertiggi turnamen puncak akhir tahun, WBF World Tour Finals 2019.

Atas prestasinya yang luar biasa itu, redaksi Jawa Pos memilih Hendra/Ahsan sebagai atlet Indonesia terbaik pada 2019.

Berikut momen-momen terpenting Hendra/Ahsan sepanjang 2019.

Juara All England dengan Tiga Kaki
Publik sangat khawatir karena ganda putra nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo sudah tumbang pada babak pertama. Padahal Minions adalah pemain Indonesia yang paling dijagokan untuk meraih gelar All England.

Namun, Hendra/Ahsan menyelamatkan muka Indonesia pada turnamen tertua di dunia tersebut. Kisah heroik Hendra/Ahsan mulai terjadi sejak semifinal.

Menghadapi unggulan ketiga asal Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, Hendra Setiawan mengalami cedera betis kanan pada game pertama. Pemain kelahiran Pemalang, Jawa Tengah itu salah tumpuan saat mendarat. Tetapi dalam situasi kesakitan, Hendra dan Ahsan berhasil memukul ganda putra nomor satu Jepang itu dalam dua game langsung, 21-19, 21-16.

Laga selesai dalam tempo 44 menit.

Pada partai final, Hendra masih mengalami rasa nyeri pada betis kanannya. Otak harus diputar. Siasat lalu dijalankan. Hendra yang biasa bermain di area depan, memutuskan lebih banyak melakukan cover di belakang. Ahsan yang fit, diberi tugas untuk melakukan cegatan-cegatan di depan.

Hasilnya tidak langsung oke. Mereka kalah telak 11-21 pada game pertama dari lawannya asal Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik. Namun, Hendra/Ahsan bangkit pada dua game berikutnya.

Meski bermain dengan tiga kaki karena betis kanan Hendra nyaris tidak bisa digunakan, The Daddies mampu tampil sangat efisien dalam dua game sisa. Mereka menang sangat nyaman dengan skor 21-14, dan 21-12. Gelar inilah yang membuka gerbang kehebatan Hendra/Ahsan sepanjang 2019.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan saat menjadi juara BWF World Tour Finals 2019. (PP PBSI)

Pelatih Herry IP bersama Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan saat mereka menjadi juara All England 2019. (Ainur Rohman/Jawa Pos)

Juara Dunia Untuk Kali Ketiga
Setelah menjadi kampiun All England, Hendra/Ahsan kembali meraih gelar pada ajang New Zealand Open Super 300.

Mereka sempat kalah pada final Singapore Open.

Hendra/Ahsan juga berhasil menembus final dalam dua turnamen besar yakni Indonesia Open (Super 1000) dan Japan Open (Super 750). Namun, ambisi juara mereka digagalkan sang junior, Marcus/Kevin.

Pada Kejuaraan Dunia 2019 di St. Jakobshalle, Swiss itu, Marcus/Kevin tetap menjadi andalan utama Indonesia untuk meraih gelar. Sayang, Minions langsung kandas pada pertandingan perdana mereka di babak kedua. Marcus/Kevin disingkirkan ganda Korea Selatan Choi Sol-gyu/Seo Seung-jae.

Saat Marcus/Kevin tumbang, Hendra/Ahsan kembali mengambil peran sebagai andalan utama Indonesia. Situasinya persis seperti di All England. Hendra/Ahsan melanjutkan tugas untuk menjadi juara dunia.

Di final, mereka mengalahkan kejutan asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dalam tiga game.

Itulah gelar juara dunia keempat bagi Hendra dan ketiga untuk Ahsan. Hendra sebelumnya menjadi juara dunia bersama Markis Kido pada 2007. Sedangkan tiga gelar lainnya saat dia berpasangan dengan Ahsan pada 2013, 2015, dan 2019.

Secara keseluruhan, gelar dari Ahsan/Hendra tersebut menjadi raihan ke-23 Indonesia pada ajang yang berlangsung mulai 1977 itu. Hanya kalah oleh Tiongkok yang telah mengoleksi 66 gelar.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan total meraih empat gelar sepanjang 2019. (Bimo Tegar/PP PBSI)

Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan memeluk ganda Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi setelah final Kejuaraan Dunia 2019. (AFP Photo)

Ganda Putra Pertama dalam Sejarah Yang Berhasil Meraih Tiga Gelar Bergengsi Setahun

Hendra/Ahsan mencetak sejarah luar biasa pada penghujung tahun 2019. Ganda putra nomor dua dunia tersebut mematri status sebagai pasangan pertama yang meraih tiga gelar bergengsi dalam satu musim kompetisi. Yakni, All England, kejuaraan dunia, dan BWF World Tour Finals.

Gelar turnamen puncak akhir tahun diraih di Tianhe Gymnasium, Guangzhou, Tiongkok. Di partai final, mereka mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe dalam dua game langsung 24-22, 21-19.

”Alhamdulillah, pastinya sangat bersyukur karena sudah diberi gelar juara yang banyak tahun ini. Amazing lah buat kami. Dapat gelar juara di turnamen ini di luar ekspektasi kami,” tutur Ahsan di mixed zone Tianhe Gymnasium sesaat setelah meraih gelar.

”Pastinya bersyukur dan senang. Tahun ini benar-benar luar biasa buat kami. Ini jadi gelar juara penutup akhir tahun yang luar biasa,” timpal Hendra.

Secara umum, tahun ini memang tahunnya The Daddies. Mereka menemukan momentum di All England. Kekalahan Marcus/Kevin di babak pertama memacu mereka mengambil alih tanggung jawab untuk menjadi juara. Eh, ternyata keterusan. Nyaris setiap kali Marcus/Kevin kandas di fase awal turnamen, The Daddies selalu maju menjadi pemain yang bisa diandalkan.

Photo

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan saat menjadi juara BWF World Tour Finals 2019. (PP PBSI)

Hendra Setiawan, Pemain Ganda Tertua Yang Berhasil Menjadi Juara Dunia
Hendra Setiawan mencatat rekor luar biasa pada 2019. Berusia 35 tahun, Hendra menjadi pemain ganda tertua yang berhasil menjadi juara dunia. Berpasangan dengan Mohammad Ahsan, Hendra menjadi juara dunia di St. Jakobshalle, Swiss.

Hari itu, 25 Agustus bertepatan dengan ulang tahun Hendra yang ke-35.

Pada partai final, Hendra/Ahsan mengalahkan ganda Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Sepanjang 2019, Hendra/Ahsan sukses menembus sebelas final. Dan empat turnamen mereka tuntaskan sebagai juara.

Namun, Hendra/Ahsan sering kalah pada final melawan ganda nomor satu dunia yang juga junior mereka, Marcus/Kevin. Total, lima kali The Daddies tumbang di tangan Minions pada partai puncak.

Photo

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan total meraih empat gelar sepanjang 2019. (Bimo Tegar/PP PBSI)

Masuk Sepuluh Besar Pengumpul Hadiah Terbanyak
Hendra/Ahsan masuk dalam daftar pengumpul hadiah uang segar terbanyak dari BWF World Tour 2019. Hendra dan Ahsan masing-masing mendulang USD 200.320 (sekitar Rp 2,801 miliar) dari tour.

Total, The Daddies mengeruk Rp 5,6 miliar melalui turnamen yang mereka ikuti. Hendra/Ahsan menempati posisi sembilan dalam daftar pebulu tangkis dengan hadiah terbesar sepanjang 2019.

Posisi pertama ditempati pemain nomor satu asal Jepang Kento Momota. Pemain berusia 25 tahun kelahiran Mino, Kagawa, tersebut, menjadi pemain bulu tangkis pertama dalam sejarah yang berhasil mengeruk hadiah lebih dari setengah juta US dollar. Total, Momota mendapatkan hadiah uang segar sebesar USD 506.900 atau sekitar Rp 7,2 miliar.

Sementara itu, ganda nomor satu dunia Marcus/Kevin juga berada dalam daftar. Mendulang delapan gelar pada 2019, Marcus dan Kevin masing-masing meraup USD 245.316 atau sekitar Rp 3,4 miliar. Jadi, total, Marcus/Kevin menghasilkan Rp 6,8 miliar. Mereka berada di posisi keenam dalam daftar.

Photo

Marcus/Kevin dan Hendra/Ahsan berdiri di podium Denmark Open 2019. Mereka sama-sama masuk dalam daftar 10 besar pemain bulu tangkis dengan hadiah uang terbesar sepanjang 2019. (PBSI)

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore