
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir pun memberikan apresiasi kepada para pemain yang berhasil mengantarkan Indonesia ke podium tertinggi. Tim bulu tangkis putra Indonesia meraih emas pertama Asian Games 2026 setelah mengalahkan Tiongkok 3-2. Penantian 28 tahun akhirnya berakhir. (Dok. PBSI)
JawaPos.com - Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari menyebutkan hasil Kontingen Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 merupakan momentum untuk mengevaluasi dan membenahi sistem pembinaan olahraga nasional.
"Lima emas (yang diraih Kontingen Indonesia pada Asian Games 2026) tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai," kata Raja Sapta Oktohari dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Tim Indonesia menutup Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan mengoleksi lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Perolehan emas tersebut melampaui target pemerintah sebanyak empat emas. Namun, seluruhnya datang dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
Oktohari mengajak semua pihak untuk tidak berhenti mempertanyakan pencapaian target. Baginya, pertanyaan yang lebih penting adalah meningkatkan perolehan medali emas menjadi berlipat-lipat serta bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite.
Menurutnya, keberhasilan empat cabang tersebut justru perlu dipelajari secara lebih mendalam untuk menemukan faktor yang membuat mereka mampu menghasilkan prestasi.
Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan itu, kata dia, harus dibedah lebih dalam mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi hingga ekosistemnya.
"Kalau kita tahu faktornya, kita bisa mencari apa yang relevan untuk cabang olahraga lain," katanya.
Okto juga menilai Indonesia tidak kekurangan talenta dengan dukungan populasi besar, ribuan sekolah dan klub, serta keragaman potensi fisik. Menurutnya, persoalan yang dihadapi terletak pada menemukan, menempatkan, dan mengembangkan talenta secara tepat.
"Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya? Kepentingan nasional harus lebih besar daripada ego sektoral," katanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022