Fajar Alamri (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)
JawaPos.com - Usianya masih lima tahun, tapi prestasinya sudah menghebohkan kompetisi olahraga biliar tingkat internasional. Namanya, Fajar Alamri, bocah kelahiran Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah pada 25 Oktober 2020.
Tinggi meja biliar di arena Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK Jakarta, sampai seukuran lehernya. Dibantu pijakan kecil, dia memanjat meja biliar untuk menyodok bola, satu persatu, hingga seluruh bola masuk tepat di lubang sasaran.
Tepuk tangan dan sorak penonton menggema, memenuhi arena Carabao International Open (CIO) 2026 yang digelar pada 4–8 Februari 2026. Dia tidak gentar, sebagai peserta termuda, dia bahkan baru pertama kali mengikuti kompetisi skala internasional.
Fajar tampil di kategori Junior International, berhadapan dengan lawan-lawan berusia 12 hingga 15 tahun. Selisih umur yang cukup jauh. Turnamen CIO 2026 diikuti 341 peserta dari 31 negara.
Tubuh mungil memegang erat stik biliar, matanya fokus menatap tajam bola sasaran. Berdiri tegak di atas pijakan untuk menyodok bola tepat sasaran. Namun, langkahnya terhenti di babak eliminasi kedua dengan kekalahan tipis.
Dia menangis. Wajar untuk bocah yang masih mengenyam pendidikan anak usia dini di kampungnya. Tetapi, keberaniannya telah mencuri perhatian warga Indonesia, dan dunia internasional.
“Kalahnya hill-hill, last game,” kata Sang Ayah, Jafar Alamri saat dihubungi ANTARA, Rabu (11/2).
Biliar bukan dunia asing bagi Fajar. Ia adalah putra dari Jafar Alamri, atlet biliar berprestasi asal Tolitoli yang juga memiliki usaha rumah biliar. Dari sanalah segalanya bermula.
“Umur tiga tahun dia sudah mulai ambil bola, ambil stik, nyodok-nyodok,” kata Jafar.
Baru sekitar enam bulan terakhir, dia mulai berlatih lebih fokus. Bakatnya terlihat jelas, daya ingat cepat, pemahaman arah bola, dan ketenangan yang tak biasa bagi anak seusianya.
Orang tuanya tidak menargetkan Fajar menjadi atlet, walaupun bakat dan minat sang anak sangat besar di olahraga biliar.
Di kampung halamannya, Kelurahan Baru, Kecamatan Baulan, Fajar bahkan pernah turun di turnamen lokal. Tanpa kelas usia, ia bergabung dengan pemain dewasa. Hasilnya mengejutkan, Fajar sempat menembus delapan besar, bahkan mengalahkan pemain dewasa.
Menurut Jafar, biliar bukan hanya soal teknik memasukkan bola. Mental bertanding adalah pelajaran utama yang ingin ia tanamkan sejak dini. Dia ingin anaknya tetap berlatih di kampung, karena sekolah masih menjadi prioritas utama.
Fajar merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Selama ini, seluruh proses latihan dilakukan langsung oleh sang ayah. Ke depan, Jafar berencana terus mengikutkan putranya dalam berbagai kejuaraan.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
