
ILUSTRASI. Ring tinju. (ANTARA)
JawaPos.com - World Boxing Association (WBA) merilis sebuah laporan yang mengulas tentang arena tinju yang masih disebut "ring" (cincin atau lingkaran) meskipun arena di era tinju modern berbentuk segi empat yang dikelilingi tali pembatas. Dalam laman resminya, WBA menjelaskan bahwa sebutan "ring" yang telah digunakan selama berabad-abad, jauh setelah kelahiran olah raga yang merupakan bentuk pertarungan terorganisasi tertua yang dikenal manusia.
Tinju lebih tua dari piramida, mesin cetak, dan hampir semua institusi yang dihargai, dengan akar yang menjangkau masa-masa awal manusia di planet bumi yang kini dihuni oleh sekitar delapan miliar jiwa.
Kata "ring" itu sendiri berasal dari bahasa Inggris Kuno "hring", yang berarti lingkaran, cincin, atau loop. Hal itu terdengar aneh, mengingat ring tinju yang dikenal hari ini berbentuk persegi panjang, struktur empat sisi, bukan lingkaran.
Sejarawan olah raga memberi tahu bahwa versi awal tinju bermula di kerajaan kuno Abyssinia, Ethiopia modern, sekitar 6.000 hingga 7.000 tahun SM (Sebelum Masehi).
Dalam pertarungan brutal tersebut, dua pria akan duduk berhadapan, seringkali telanjang atau setengah telanjang, dan bertarung dengan tangan kosong hingga salah satu dari mereka tewas.
Berabad-abad kemudian, sarung tangan kasar atau penutup tangan kulit dengan duri tajam di jari-jari diperkenalkan. Pertandingan tersebut masih tidak memiliki batasan waktu dan berakhir hanya ketika salah satu petarung tidak dapat melanjutkan atau ketika dia dipukul hingga tewas.
Sekitar tahun 700 SM, bentuk primitif tinju telah masuk ke dalam Olimpiade Kuno, dengan cepat menjadi salah satu acara yang paling disukai penonton, tradisi yang dalam semangatnya, terus berlanjut hingga hari ini.
Baik antara pria maupun pada masa-masa belakangan, wanita, pemandangan dua petinju yang saling berhadapan masih mampu membangkitkan antusiasme penonton sebanyak, jika tidak lebih dari sepak bola, bisbol, atau basket.
Lalu, mengapa disebut "ring"?
Jawabannya terletak pada evolusi perlahan olah raga ini. Pada suatu waktu, petinju mulai bertarung berdiri di dalam lingkaran yang digambar di tanah, sebuah "ring" dalam arti harfiah.
Keluar dari lingkaran tersebut berarti kekalahan otomatis, sehingga nama tersebut melekat. Tinju kemudian tenggelam dalam kegelapan di Eropa setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi pada tahun 476 M.
Sebagian besar karena kemunculan Kristen dan pengaruh Gereja. Baru pada awal abad ke-18 olahraga ini muncul kembali di Inggris.
Pada tahun 1743, Jack Broughton, seorang mantan petinju yang juga mengajarkan seni tinju, menyusun seperangkat aturan formal pertama. Diantaranya: para petinju akan bertanding di dalam dua lingkaran konsentris, dan keluar dari lingkaran yang lebih kecil berarti diskualifikasi langsung.
Hampir satu abad kemudian, pada tahun 1838, London Pugilistic Society memperkenalkan ring persegi pertama, yang diletakkan di atas tanah.
Sebuah catatan menarik lainnya, pertarungan hadiah uang pertama yang tercatat, dimana pemenang menerima uang tunai, terjadi pada awal abad ke-18 antara seorang tukang roti dan tukang daging yang dimenangkan tukang roti.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
