Peserta lari Surabaya Orthopedic Half Marathon (SOHM) 2025 Minggu (13/7). (Nadia Hanum/Jawa Pos)
JawaPos.com - Matahari belum terbit. Peserta lari Surabaya Orthopedic Half Marathon (SOHM) 2025 sudah bersiap di garis start. Sebanyak 2.990 orang berkumpul di Carribean Grande Pakuwon City, Surabaya, Minggu (13/7). Menariknya, event ini diikui oleh 30 pelari dari kalangan penyintas operasi ortopedi.
Kesadaran akan pentingnya olahraga, terutama lari, melatarbelakangi gelaran SOHM 2025. Event lari itu diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI).
Berbeda dengan event lari pada umumnya, ajang ini menghadirkan kategori khusus 10K bagi para penyintas operasi sendi dan tulang tungkai bawah, seperti patah tulang, cedera ligamen, maupun gangguan jaringan lunak lainnya. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik bukan akhir segalanya.
“Orang yang pernah patah tulang atau mengalami cedera ligamen tetap bisa kembali sehat dan aktif. Dengan penanganan dan rehabilitasi yang baik, mereka bisa kembali berlari, bahkan berprestasi,” ujar Ketua PABOI, Prof Dr dr Ismail HD Sp OT, SubSp. PL (K).
Pada SOHM 2024, salah satu juara berasal dari kalangan penyintas skoliosis dan cedera ligamen. Sementara tahun ini, dr Ismail bertemu seorang penyintas operasi ACL yang mampu mencatat waktu lebih baik dari dirinya.
“Antusiasmenya luar biasa, semangatnya tinggi, dan terlihat sangat bahagia. Itu karena hormon endorfin yang dilepaskan saat berlari,” imbuh Prof Ismail.
Dalam rangkaian SOHM 2025, PABOI memberikan edukasi tiga hari berturut-turut menjelang race dalam bentuk health talk, membahas berlari yang aman dan ergonomis sehingga bebas cedera. Prof Ismail mengingatkan pentingnya pemanasan, pemilihan sepatu yang sesuai, keseimbangan tubuh, serta kecukupan air dan elektrolit selama lari.
Peserta lari Surabaya Orthopedic Half Marathon (SOHM) 2025 Minggu (13/7). (Nadia Hanum/Jawa Pos)
Dr Rosyad Khadafi, SpOT, dokter asal Pangandaran yang baru mulai berlari sejak Januari 2023, berhasil finis di posisi kedua dalam kategori half marathon untuk kategori Dokter dengan waktu 1 jam 33 menit. Ia mengaku, profesi dokter menjadi pencetus untuk hidup lebih sehat. “Karena kami harus jadi contoh pertama bagi pasien untuk punya pola hidup sehat,” terangnya.
Lari membuat hidup dr Rosyad lebih teratur. Tidur lebih cepat, bangun pukul 4 tanpa perlu alarm, dan badan lebih bugar.
Dari kategori Master (usia 45+), Jakup Tandioni (65) membuktikan vitalitasnya tetap terjaga berkat olahraga rutin. “Saya lari sejak 45 tahun yang lalu. Sekarang tiap hari jalan kaki 8 km. Manfaatnya, di usia ini saya masih segar dan sehat,” tutur pria yang kini telah pensiun.
Sementara itu, Hamidi Soetopo (59), anggota komunitas Merr Runners, menyelesaikan half marathon dengan catatan waktu 1 jam 47 menit. “Lari bukan soal prestise, tapi soal kesehatan. Dengan latihan rutin, maka akan minim sakit meski usia sudah lanjut,” katanya.
Hamidi bertekad untuk konsisten lari. Sehat membuatnya tidak perlu merepotkan anak dan cucu. Bahkan saat musim sakit misalnya, dia tetap sehat yang diyakininya berkat rutinitas hidup sehat.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
