
Pelari Amerika Serikat Quincy Hall meraih medali emas nomor lari 400 meter di Olimpiade 2024. (Sportbible)
JawaPos.com – Seorang ilmuwan telah menjelaskan mengapa lari 400 meter adalah perlombaan individu terberat di Olimpiade 2024, bahkan perlombaan terberat di semua cabang olahraga atletik.
Final 400 meter putra baru saja diselesaikan di Paris, dengan Matt Hudson-Smith asal Inggris Raya memenangkan medali perak.
Atlet berusia 29 tahun, yang kini memegang rekor Eropa di ajang tersebut, mencatatkan waktu 43,44 detik dan memimpin saat para atlet memasuki tikungan terakhir. Namun, Smith justru disusul Quincy Hall dari Amerika Serikat hanya beberapa meter jelang garis finis setelah melakukan lonjakan di menit-menit akhir.
Para penggemar yang menyaksikan pertandingan di Olimpiade akan memperhatikan bagaimana para atlet cenderung merasa sangat lelah ketika mereka berlari menuju garis, apalagi setelah mereka memulai awalan lari secara maksimal.
Hall melakukan hal sebaliknya di Paris, yakni tertinggal di belakang delapan pelari sebelum melakukan comeback terbaiknya hingga akhir garis finish.
Lari 400 meter sebenarnya dianggap sebagai lomba lari cepat, dan merupakan lomba lari terpanjang yang dipertandingkan dalam kompetisi individu yang disetujui IAAF.
Sebagian besar atlet elite putra rata-rata hanya mencatat waktu 11 detik per putaran, dibandingkan dengan batas atas sembilan detik yang dihasilkan oleh pelari 100 meter.
Saat Anda melihat angka-angka tersebut, mungkin Anda akan menyadari betapa menantangnya acara tersebut. Tapi, seberapa sulit sebenarnya itu?
Menurut saluran YouTube Outperform yang berbasis sains, ini sebenarnya adalah perlombaan Olimpiade yang paling sulit.
Alasan utama terjadinya hal ini adalah karena energi yang dihasilkan tubuh sepanjang perlombaan, dan tiga sistem energi yang digunakan tubuh.
Tubuh seorang atlet pertama-tama menggunakan simpanan energi yang memungkinkan mereka melakukan ledakan singkat dan tajam untuk mencapai kecepatan tertinggi dalam lima hingga 10 detik pertama dalam jarak 50 meter.
Namun, 150 meter berikutnya, para atlet berlari dengan kecepatan di bawah maksimum, apalagi setelah asam laktat menyebabkan otot lelah.
Tubuh kemudian akan menghasilkan energi anaerobik selama 100 meter berikutnya. Namun, produksinya jauh lebih lambat dibandingkan dua sumber energi lainnya - yang berarti permintaan lebih besar daripada pasokan.
Tubuh akan berusaha menghasilkan lebih banyak energi aerobik, namun kesulitan menghasilkan energi yang cukup untuk membantu sprint terakhir menuju garis, sehingga menyebabkan otot terpengaruh secara negatif.
Anda dapat menonton penjelasan lengkapnya di bawah ini:

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
