Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Mei 2020 | 23.45 WIB

Enam Ganda Putra Terseram yang Pernah Dihadapi Hendra Setiawan

Indonesia - Image

Indonesia

JawaPos.com-Sepanjang kariernya yang sangat fenomenal, Hendra Setiawan telah merengkuh segalanya.

Hendra meraih emas Olimpiade 2008. Lalu empat kali menjadi juara dunia, dua kali mendulang emas Asian Games, dan dua kali berdiri di podium tertinggi turnamen tertua dunia, All England.

Pada kancah Asia Tenggara, Hendra berhasil mengumpulkan tujuh emas SEA Games (tiga ganda putra dan empat beregu putra). Itu terjadi sejak 2003 sampai 2011.

Bersama dua pasangan yang berbeda, Hendra selalu mampu menjadi ganda putra nomor satu dunia.

Saat berpartner dengan Markis Kido, Hendra untuk kali pertama menjadi nomor satu dunia pada September 2007.

Sedangkan bersama Mohammad Ahsan, Hendra sukses berada di puncak ranking Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) untuk kali pertama pada November 2013.

Jadi, tidak berlebihan menyebut Hendra adalah salah seorang pemain ganda putra terbaik dalam sejarah bulu tangkis dunia.

Pada 25 Agustus tahun ini, pemain kelahiran Pemalang, Jawa Tengah itu akan berusia 36 tahun. Dalam umur yang sangat senior dalam konteks bulu tangkis itu, Hendra masih menjadi salah seorang harapan Indonesia untuk meraih medali di Olimpiade Tokyo 2020 tahun depan.

Kepada wartawan JawaPos.com Gugun Gumilar, Hendra mengungkapkan enam lawan terseram yang pernah dia hadapi sepanjang kariernya.

Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, Malaysia
Saya takut kalau bertemu Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Seram. Saya susah banget mengalahkan mereka. Saya ingat, di Kejuaraan Dunia 2007, mereka juga jadi tuan rumah. Untungnya, kami beda blok dan mereka kalah sama Jepang (Shuichi Sakamoto/Shintaro Ikeda. Pada akhirnya, Hendra/Kido menjadi juara dunia, Red).

Hingga Olimpiade 2008, kami tak juga menang-menang melawan Koo/Tan. Tujuh pertemuan, kami selalu kalah.

Meski jadi unggulan pertama di Olimpiade 2008, saya berharap tidak bertemu dengan Koo/Tan dan undiannya terpisah. Ternyata di delapan besar harus bertemu. Dan untuk pertama kali, kami menang di situ dan rekor pertemuan kami jadi 1-7. (Hendra/Kido menang 21-16, 21-18).

Mungkin karena sering menang, mereka agak terlalu percaya diri. Saya juga lebih ngotot dari biasanya. Jadi bisa melewati mereka. Mereka pasangan paling komplet dari segi permainan. Defense bagus dan menyerang juga sama bagusnya. Bisa dibilang mereka musuh bebuyutan kami ha..ha..ha..

Hendra Setiawan Ahsan Marcus Fernaldi Gideon Kevin Sanjaya Sukamuljo

Ganda Malaysia Koo Kien Keat (kiri) dan Tan Boon Heong saat beraksi pada ajang Thomas Cup 2016 di Kunshan, Tiongkok. (Johannes Eisele/AFP)

Cai Yun/Fu Haifeng, Tiongkok
Saya masih ingat saat final Olimpiade 2008. Di set pertama kami kalah. Di set kedua kami pasrah. Waktu itu Mas Sigit (Pamungkas pelatih ganda putra, Red) teriak jangan nyerah, jangan nyerah. Karena (dari segi) strategi tentu sudah nggak akan bisa masuk lagi, kami sudah habis digebukin di set pertama.

Photo

Fu Haifeng (kiri) dan Cai Yun saat menghadapi Hendra Setiawan/Markis Kido pada final Olimpiade Beijing 2008 di Beijing University of Technology Gymnasium, 16 Agustus 2008. (Indranil Mukherjee/AFP)

Mungkin karena mereka terlalu percaya diri setelah menang jauh di set pertama, hal itu malah jadi bumerang bagi mereka. Saya akui mereka pasangan yang cepat dan stabil permainannya. Terutama serangannya sangat bahaya dan juga bervariasi. (Hendra/Kido menang 12-21, 21-11, 21-16).

Photo

Hendra Setiawan dan Markis Kido meraih emas Olimpiade Beijing 2008. Mereka mengalahkan Cai Yun/Fu Haifeng dengan skor 12-21, 21-11, 21-16. (Goh Chai Hin/AFP)

Lee Yong-dae/Jung Jae-sung, Korea Selatan
Mereka pasangan yang kuat, defensenya nggak gampang ditembus. Terutama Lee Yong-dae. Dia pemain luar biasa, mau dipasangkan sama siapa saja (ganda putra atau campuran) dia bisa mengimbangi. Sedih juga ya mendengar Jung Jae-sung meninggal. Dia pemain yang disiplin, defensenya kuat banget!

Photo

Jung Jae-sung (kiri) dan Lee Yong-dae mengalahkan Hendra/Kido pada semifnal Indonesia Open 2012. Pasangan Korea Selatan itu menang dengan skor 14-21, 21-17, 21-15. (Bay Ismoyo/AFP)

Photo

Jung Jae-sung (kanan) dan Lee Yong-dae saat menjadi juara All England 2012. (Miguel Medina/AFP)

Fu Haifeng/Zhang Nan, Tiongkok
Pasangan yang sangat bagus dalam cover lapangannya, tidak gampang mati dan juga punya serangan yang bagus. Permainan bola mereka bagus, tipis-tipis.

Saya kira kombinasi Fu Haifeng dengan Zhang Nan lebih sulit dikalahkan dibanding saat Fu Haifeng bersama Cai Yun. Zhang Nan jauh lebih muda. Jadi, yang banyak mengatur di lapangan itu Zhang Nan. Sementara itu saat melawan kami, Cai Yun mulai menurun penampilannya.

Photo

Zhang Nan/Fu Haifeng meraih emas Olimpiade Rio 2016 di Riocentro stadium, Rio de Janeiro, 19 Agustus 2016. (Goh Chai Hin/AFP)

Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, Korea Selatan
Pasangan yang ulet dan nggak gampang menyerah. Sulit ngalahin mereka. Dari 13 kali kami bertemu mereka, Lee/Yoo menang tujuh kali atas kami yang memperoleh enam kali kemenangan.

Tentunya yang paling menarik saat bisa mengalahkan mereka di final Asian Games 2014. Kami bermain rubber game, dan akhirnya kami menang. Di situ saya puas, bisa mengalahkan pemain terbaik dunia di rumahnya sendiri.

Photo

Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong saat beraksi pada Olimpiade Rio 2016. (Ed Jones/AFP)

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Indonesia
Diakui atau tidak, suka atau tidak, mereka yang terbaik saat ini. Mereka yang tercepat dan serangannya pun bagus. Selama bertemu mereka, saya baru dua kali menang. Di Indonesia Open 2015 dan Malaysia Open 2016. Sisanya kalah! Ha..ha..ha..

Tapi saya yakin, suatu saat di waktu yang tepat, kami bisa mengalahkan mereka.

Photo

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo mengalahkan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pada final Denmark Open 2019. (PP PBSI)

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore