Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Agustus 2019 | 18.11 WIB

Untuk Ukuran Pemain Muda, Mental Jonatan Christie Luar Biasa!

Jonatan Christie Kejuaraan Dunia 2019 Babak perempat final - Image

Jonatan Christie Kejuaraan Dunia 2019 Babak perempat final

JawaPos.com-Hasil berbeda didapatkan dua tunggal terbaik Indonesia. Saat Jonatan Christie dengan mantap melesat ke perempat final Kejuaraan Dunia 2019, Anthony Sinisuka Ginting malah bermain buruk dan terjungkal pada babak ketiga.

Berlaga di court 1 St. Jakobshalle, Basel, Swiss dini hari tadi, Jonatan mengalahkan pebulu tangkis asal Denmark Jan O Jorgensen dengan skor meyakinkan 21-12, 21-16. Jonatan hanya butuh waktu 44 menit untuk melibas lawannya yang berusia 10 tahun lebih tua tersebut.

Dengan hasil ini, Jonatan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di sektor tunggal pada perempat final Kejuaraan Dunia 2019. Harusnya, Ginting bisa berhadapan dengan Jonatan pada babak perempat final. Namun, pemain yang menempati unggulan keenam itu malah dieliminasi pemain India Sai Praneeth dalam dua game langsung 19-21 dan 13-21. Ginting kalah dalam waktu 43 menit.

Artinya, Jonatan akan melawan Praneeth pada fase delapan besar. Jika menang, Jonatan dipastikan meraih medali perunggu.

“Puji Tuhan saya bisa melaju ke babak delapan besar untuk pertama kalinya di Kejuaraan Dunia. Tapi cukup disayangkan tadi Anthony kalah. Kalau dia menang, setidaknya satu medali untuk Indonesia sudah aman dari tunggal putra. Ya tapi namanya permainan ada yang menang dan kalah. Mungkin tadi dia juga lagi nggak enak mainnya,” kata Jonatan dalam siaran pers yang diterima Jawa Pos dari PP PBSI.

''Kayak saya tadi di game pertama. Saya bisa menerapkan strategi permainan dengan benar dan tepat. Tapi di awal game kedua tempo permainan saya agak sedikit menurun dan itu kesempatan yang Jorgensen ambil untuk menekan saya. Sampai poin 11 saya tertinggal (dalam kedudukan 6-11). Tapi setelah poin 11-11, saya kembali fokus dan membalikkan keadaan. Saya yang menekan dia, bukan dia yang menekan saya,” imbuhnya.

Tambahan satu kemenangan membuat Jonatan secara head-to-head unggul dari Jorgensen dengan skor 3-2. Dalam tiga pertandingan terakhir sepanjang 2019, Jonatan selalu menang dalam dua game. Sebelum ke Kejuaraan Dunia 2019, Jonatan dan Jorgensen berduel di Japan Open 2019. Hasilnya, Jonatan menang mudah 21-14, 21-14.

Namun yang terpenting dalam kemenangan Jonatan ini adalah dia kembali membuktikan kematangan mentalnya. Sebagai pemain muda, Jonatan mampu melawan tekanan intens. Saat tertinggal 6-11, dia mampu menyusul dan mampu menyamakan kedudukan 11-11.

Jonatan sempat berbalik unggul 14-11. Tapi, Jorgensen mampu menyamakan kedudukan 14-14. Dalam situasi tersebut, Jonatan masih tetap tenang dan sukses menghentikan perlawanan pemain 31 tahun itu pada angka 16 saja.

''Kalau dilihat dari hasil, saya puas. Tapi tetap ada beberapa catatan yang masih harus diperbaiki. Kayak tadi di awal game kedua tempo permainannya nggak boleh hilang. Untung saya bisa ambil lagi. Kalau sampai ke game ketiga, Jan O jadi percaya diri, fight backnya itu bisa berbahaya,” ungkap Jonatan.

Melawan Sai Praneeth, Jonatan lebih percaya diri. Dalam tiga pertemuan, Jonatan unggul dengan skor 3-2. Pada dua pertandingan terakhir, pemain Indonesia berusia 21 tahun itu selalu menang. Kali terakhir perjumpaan mereka terjadi pada babak kedua French Open 2018. Jonatan menang dua game langsung 21-16, 21-14.

Padahal, saat itu, Jonatan masih belum stabil dan konsisten. Sekarang, permaiannya terus meningkat sampai menembus peringkat empat dunia. Artinya di atas kertas, Jonatan sangat diunggulkan untuk menang. Akan menjadi kejutan besar, jika Jonatan kalah melawan pemain yang menempati unggulan ke-16 tersebut.

“Besok (hari ini, red) saya harus lebih banyak variasi karena defense dia bagus dan serangannya juga lumayan bagus,” ucap Jonatan.

Anthony Sinisuka Ginting Mengecewakan

Sementara itu, kekecewaan berat dirasakan Anthony Sinisuka Ginting. Dia kembali gagal menang meski sempat memimpin. Pada game pertama misalnya. Meski mayoritas pertandingan dia terus tertinggal, Ginting mampu membalikkan kedudukan dan unggul 18-15, lalu 19-17.

Tetapi, entah mengapa, poinnya mentok di angka 19. Praneeth berhasil membalikkan kedudukan dan mengambil game pertama dengan kedudukan 21-19.

Pada game kedua, Ginting yang sempat tertinggal 2-6 bisa mencapai interval lebih dulu dan unggul 11-8. Namun, dia kembali bermain sangat mengecewakan dan kehilangan momentum. Praneeth tak menyia-nyiakan kesempatan dengan berlari kencang dan menghentikan Ginting di angka 13.

“Tadi game pertama juga ketat, tapi di poin-poin akhir malah pengen buru-buru menyerang. Padahal perjalanan sampai leading dua tiga poinnya tadi dari menunggu kesalahan lawan, bukan dari serangan saya,” kata Ginting dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Jawa Pos.

“Di game kedua saya mau menyerang tapi nggak yakin. Soalnya masih kepikiran di poin-poin akhir game pertama, saya posisinya kebalik gara-gara itu,” ujar atlet besutan klub SGS PLN Bandung tersebut.

Kalah di babak ketiga tentu sangat mengecewakan. Namun Ginting tak ingin larut dalam kekalahannya. Pemain  berusia 22 tahun kelahiran Cimahi itu bertekad untuk mengevaluasi hasil pertandingannya dan tampil lebih baik dalam kejuaraan lain.

“Setelah ini saya akan diskusi lagi sama pelatih. Hasil turnamen ini banyak yang harus dievaluasi dan diperbaiki. Apa yang mesti ditambah. Apa yang mesti diperhatikan lagi dari penampilan saya,” kata Ginting

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore