Pelaksanaan Ganefo I di Jakarta. (X/NeoHistoria_ID)
JawaPos.com - Nama ajang Ganefo kembali mencuat menyusul keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengecam Indonesia akibat menolak atlet Israel dalam ajang Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025. Banyak warganet mengusulkan agar ajang tersebut dihadirkan lagi.
Indonesia memang baru saja dapat kecaman dari IOC. Penyebabnya adalah pemerintah Indonesia menolak visa seluruh atlet, pelatih, dan ofisial Israel untuk berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025.
Upaya Indonesia itu membuat IOC bereaksi keras. Dalam keterangan resminya, IOC meminta kepada seluruh federasi internasional untuk tak menggelar ajang dunia di Indonesia. Hal itu berlaku hingga Indonesia dapat menjamin kebebasan atlet dari berbagai dunia, termasuk Israel.
Bagi Indonesia, kejadian seperti ini tidak lah asing. Pada era 1960-an, situasi ini pernah terjadi. Bahkan, lebih besar lagi karena berujung Indonesia kena hukuman dari IOC akibat menolak kehadiran atlet Israel dan Taiwan dalam Asian Games IV yang diselenggarakan di Jakarta pada 1962 karena alasan politik.
Saat itu, di mata Indonesia, mengundang atlet Israel sama saja mengakui penjajah Palestina. Sementara Taiwan tak dianggap sebagai negara karena dinilai bagian dari Republik Rakyat China (RRC).
Keputusan Indonesia itu berujung tak menyenangkan. Pada Februari 1963, IOC menganggap Indonesia telah mencampuradukkan politik dengan olahraga dan memutuskan mencabut keanggotaan sekaligus menunda partisipasi Indonesia di ajang Olimpiade.
Induk olahraga internasional itu kemudian menyatakan akan mencabut penangguhan tersebut jika Indonesia berjanji untuk tidak mengulanginya. Menteri Olahraga RI kala itu, Maladi, mengecam keputusan IOC karena jauh dari semangat Olimpiade yang sebenarnya.
Maladi menganggap IOC menerapkan standar ganda. Sebab, pada Olimpiade 1948 di Inggris, tuan rumah tidak mengundang Jepang dan Jerman karena dendam Perang Dunia II. Selain itu, Amerika Serikat pun pernah menolak atlet Jerman Timur bertanding di negaranya. Tapi, IOC kala itu tidak memberikan sanksi apa pun, berbeda dengan perlakuan terhadap Indonesia.
Kabar ancaman itu pun terdengar hingga telinga Presiden Soekarno. Orang nomor satu di RI kemudian memerintahkan Indonesia keluar dari IOC dan mendirikan Olimpiade tandingan.
Namanya adalah Games of the New Emerging Forces (Ganefo). Pesta olahraga ini diikuti oleh negara-negara Nefo, negara-negara yang baru merdeka melawan imperialisme. Ganefo pun hanya diikuti oleh negara-negara Nefo di kawasan Asia-Afrika.
Pemerintah Indonesia dalam surat pengunduran diri dari IOC menuliskan bahwa badan olimpiade tersebut telah melanggar Olympic Charter dan hukuman terhadap Indonesia tidak sah secara hukum. Pemerintah turut menuding IOC sudah mengorbankan kepentingan besar demi manuver politik segelintir pihak.
Ganefo pertama pun resmi digelar pada 10-22 November 1963 dengan Indonesia sebagai tuan rumah. Sebanyak 10 negara dari Asia, Afrika, hingga Eropa berpartisipasi dalam ajang tersebut.
Kesuksesan Ganefo kala itu menghebohkan dunia olahraga internasional. Ajang itu dianggap oleh Soekarno bukan hanya kompetisi olahraga, melainkan pernyataan sikap politik bangsa-bangsa tertindas terhadap imperialisme internasional.
Setelah edisi I sukses digelar di Jakarta, Ganefo II direncanakan diadakan di Kairo, Mesir, pada 1967. Namun, karena situasi politik yang tidak kondusif di negara kawasan Afrika tersebut, pesta olahraga itu dipindah ke Phnom Penh, Kamboja.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
