Lifter putri Indonesia Ni Nengah Widiasih berpose dengan medali emas yang diraihnya dari kelas 45 kg ASEAN Para Games 2023. (ANTARA)
JawaPos.com - Ni Nengah Widiasih, atlet para angkat berat dengan prestasi berbagai medali, kembali menguatkan tekadnya untuk meraih medali ketiga di ajang Paralimpiade Paris 2024, dikutip dari ANTARA.
Di tengah rasa sakit akibat cedera bahu yang dialaminya, Widiasih tidak pernah mundur dari perjuangannya. Ia terus melatih diri, mendorong batas kemampuannya demi satu tujuan: membawa pulang medali ketiganya di ajang Paralimpiade 2024. Mimpinya yang lebih tinggi, kepingan medali itu berwarna emas.
Perjalanan Ni Nengah Widiasih menuju ke puncak dunia para angkat berat tidaklah mudah. Diagnosis polio di masa kecil membuatnya kehilangan kemampuan untuk menggunakan kedua kakinya, namun hal ini tidak menghentikannya untuk bekerja keras.
Berawal dari keinginan sederhana untuk mendapatkan es krim yang dijanjikan sang kakak, Widiasih mulai mengenal angkat berat ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Di bawah bimbingan kakaknya, ia mulai melatih diri dengan tekun dan disiplin.
Keputusan untuk terjun ke dunia angkat berat menjadi titik balik dalam hidupnya. Tidak hanya mengubah hidupnya secara fisik, tetapi juga memberikan Widiasih tujuan dan arah yang jelas.
"Angkat berat telah banyak mengubah hidup saya. Jika saya tidak melakukan angkat berat, mungkin saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan," ujarnya.
Dengan dedikasi yang tinggi dan semangat pantang menyerah, Widiasih berhasil mencapai puncak kariernya di panggung Paralimpiade. Medali perunggu yang diraihnya di Rio de Janeiro pada 2016 menjadi awal dari prestasi gemilangnya. Tidak berhenti di situ, Widiasih terus mengasah kemampuannya dan akhirnya berhasil meraih medali perak di Tokyo pada 2020.
Pads kejuaraan Pattaya 2024 Para Powerlifting World Cup di Pattaya, Thailand, Widiasih meraih satu emas dan satu perak. Prestasi itulah yang memberikannya tiket Paralimpiade Paris 2024.
Pada 2023, Widiasih juga berkalung medali perak di ajang Asian Para Games Hangzhou China, dan dua emas di kejuaraan ASEAN Para Games Phnom Penh Kamboja.
Keberhasilannya ini bukan bukan memberikan kebanggaan bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi Indonesia. Di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya, Widiasih berhasil menunjukkan bahwa semangat dan kerja keras dapat mengalahkan segala keterbatasan.
Kini, pada usianya yang ke-31 tahun, Widiasih memiliki target baru: meraih medali emas di Paris. Namun, perjuangan menuju impian ini tidaklah mudah. Cedera bahu yang dialaminya menjadi tantangan tersendiri dalam persiapannya.
Meskipun demikian, Widiasih tetap optimistis dan bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia.
"Paris tidak mudah bagi saya (karena cedera), tetapi saya akan berusaha sekuat tenaga," katanya.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk Indonesia, untuk keluarga saya," ujarnya lagi.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
