
PATRIOT OLAHRAGA: M. Nur Mufid setelah menerima tali asih di KONI Jatim Awad pada awal November lalu di Surabaya. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Indonesia pernah mengirim kontingen voli pantai di Olimpiade Atlanta pada 1996. Mereka adalah pasangan M. Nur Mufid/Markoji. Mereka memang gugur di fase grup. Namun, perjuangan untuk bisa tembus ke Olimpiade itu bukan perjuangan yang mudah. Dan, setelah pasangan tersebut, belum ada lagi tim voli pantai Indonesia yang lolos Olimpiade. Bagaimana perjuangan mereka dan potensi pengembangan voli pantai di Indonesia, Nur Mufid menceritakan itu kepada Jawa Pos.
---
Anda baru muncul di acara KONI Jatim Award bulan lalu. Ke mana saja?
Setelah pensiun dari voli pantai tahun 1999, saya fokus bekerja, Mas. Sejak lulus SMA tahun 1990, kan saya sudah bekerja di salah satu bank BUMN. Makanya, saya jarang kelihatan. Hehehe.
Kenapa tidak jadi pelatih voli pantai?
Setelah pensiun, saya merasa wes mentok. Wes cukuplah. Apa yang saya dapat selama ini dari voli pantai sudah banyak. Apalagi, saya pernah tampil di Olimpiade. Apa lagi yang saya cari? Saya juga ingin kumpul keluarga. Kalau jadi pelatih kan susah. Harus dampingi pemain keliling-keliling. Jarang di rumah.
Jadi, Anda sudah puas dengan pencapaian sebagai atlet voli pantai?
Begini, Mas. Hanya ada 24 negara dengan ranking tertinggi yang bisa lolos ke Olimpiade. Dulu, untuk mendapat poin, saya selalu keliling dunia. Ikut kejuaraan. Pernah sebulan sampai keliling ke empat negara sekaligus. Sampai akhirnya saat kualifikasi, kami ada di urutan ke-17 dan berhasil lolos ke Olimpiade. Untuk lolos itu, perjuangannya sampai berdarah-darah. Asia cuma ada dua wakil, Indonesia dan Jepang.
Masih ingat nggak sih dengan momen Olimpiade 1996 di Atlanta?
Jelas. Dari 24 negara peserta, dibagi menjadi delapan grup. Satu grup berisi tiga negara. Indonesia berada satu grup dengan Argentina dan Amerika Serikat. Itu dua negara top kalau untuk urusan voli pantai. Apalagi, Amerika Serikat kan berstatus tuan rumah.
Bagaimana hasilnya?
Kami kalah oleh Argentina dan Amerika Serikat. Kami langsung gugur di babak tersebut. Ada beberapa pihak yang kurang suka dengan pencapaian saya itu. Apalagi, kan banyak dana yang sudah dikeluarkan. Katanya, duit tersebut harusnya bisa dipakai untuk pembinaan atlet. Tapi, ya itu wes biasa.
Apakah Anda juga kecewa karena gugur di babak pertama?
Pasti. Karena saya pikir bisa melaju jauh. Namun, memang lawan yang kami hadapi tim kuat. Buktinya, Amerika Serikat yang kami lawan mampu keluar sebagai juara dan dapat medali emas. Saya sampai ingat nama salah satu pemainnya: Clark Kiraly. Gaya mainnya benar-benar bagus. Sampai anak kedua saya lahir, saya kasih nama Naufan Kirali. Saya nggak tau artinya. Tapi, saya ngefans.
Tapi, sampai saat ini voli pantai selalu gagal lolos ke Olimpiade. Kenapa?
Karena voli pantai kita tidak punya kiblat. Maksudnya apa? Saya contohkan dalam badminton. Di badminton, selalu ada pemain yang jadi contoh buat para juniornya. Jadi role model. Pelatihnya juga mantan juara. Itu kenapa badminton selalu berhasil melahirkan generasi emas setiap tahunnya. Dan itu saya lihat tidak terjadi di voli pantai.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Bagaimana, ya? Di Indonesia ini kan banyak venue voli pantai. Kalau saya lihat, atletnya sekarang juga punya postur tubuh yang bagus. Mungkin tinggal kompetisinya saja yang ditingkatkan. Kalau begitu, saya yakin Indonesia bisa bersaing di Asia. Lalu berpeluang lolos ke Olimpiade. Saya benar-benar ingin ada atlet voli pantai yang lolos lagi ke Olimpiade.
Terakhir, apakah Anda mau jika diminta masukan untuk meningkatkan prestasi voli pantai Indonesia?
Setelah acara KONI Jatim Award bulan lalu dan ketemu lagi dengan teman-teman atlet, hasrat saya untuk kembali ke lapangan muncul lagi. Tiba-tiba kok saya ingin jadi pelatih. Kalau diberi kesempatan, saya siap. Istilahnya, kalau soal ilmu voli pantai, insya Allah saya sudah hafal.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
