Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Desember 2021 | 01.11 WIB

Inilah Sosok Mohammed Ben Sulayem, Presiden FIA Pertama yang Non-Eropa

ILES) This file photo taken on April 12, 2012 shows former Middle East rally champion and vice-president International Federation of Automobiles (FIA) Mohammed Ben Sulayem speaking during a press conference in Kuwait City. Mohammed Ben Sulayem became the - Image

ILES) This file photo taken on April 12, 2012 shows former Middle East rally champion and vice-president International Federation of Automobiles (FIA) Mohammed Ben Sulayem speaking during a press conference in Kuwait City. Mohammed Ben Sulayem became the

JawaPos.com - Mohammed Ben Sulayem, mantan pereli asal Dubai, mencatat sejarah sebagai orang non-Eropa pertama yang menjadi presiden FIA menggantikan Jean Todt.

Todt sendiri sudah menjabat selama 12 tahun. Satu kandidat lainnya Graham Stoker (Inggris) merupakan tangan kanan Todt, kalah suara dalam pemilihan yang berlangsung kemarin.

Sulayem meraih 61,62 persen suara, sedangkan Stoker 36,62 persen. Suara terbesar Sulayem didapat dari pemilik suara dari negara-negara arab.

Juara reli Timur Tengah 14 kali tersebut didukung oleh pemilik suara dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar yang saat ini, semuanya menjadi tuan rumah balapan Formula 1 dan menjadi bagian sangat penting bagi motorsport.

Sulayem gencar melakukam kampanye dalam beberapa bulan terakhir dengan visi memperbaiki internal organisasi federasi olahraga mobil seluruh dunia tersebut.

Sulayem, 60, berjanji untuk memodernisasi FIA dan membuatnya lebih transparan.

Dalam manifestonya, Sulayem menyatakan bakal melakukan audit independen pada organisasi tersebut sekaligus mengevaluasi laporan keuangan. Dia juga menjanjikan transparansi keuangan.

''Kita tidak akan pernah mengatakan bahwa organisasi ini sudah cukup dengan seperti ini. Kita harus selalu berkembang, jika tidak, kita akan kalah,'' ucapnya dalam jumpa pers setelah pemilihan.

Sulayem juga berkomitmen untuk mengembangkan motorsport di negara-negara dimana peminatnya masih rendah.

''Kita tidak bisa bergantung pada olahraga yang populer saja, tapi juga basisnya, anggotanya, dan klubnya,'' ujarnya.

''Saya selalu mengambil contoh dua negara besar, Tiongkok dan India,''

''Kita berbicara tentang lisensi kejuaraan yang tak lebih dari 8000 untuk populasi penduduk 2,8 miliar (Tiongkok dan India). Sedangkan kita menempatkan 11 ribu lisensi hanya untuk negara kecil seperti Finlandia,''

''Ini jelas ada yang salah,'' tandasnya. Sulayem juga berkomitmen untuk menjadi motorsport lebih beragam dan terbuka.

 

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore