Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Oktober 2023 | 18.11 WIB

Cuma Gara-gara Komunikasi, Dua Emas Melayang dari Panjat Tebing Indonesia di Asian Games

Pemanjat tebing Indonesia Rahmad Adi Mulyono memacu kecepatan pada perempat final speed relay putra Asian Games 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Shaoxing, Rabu (4/10). - Image

Pemanjat tebing Indonesia Rahmad Adi Mulyono memacu kecepatan pada perempat final speed relay putra Asian Games 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Shaoxing, Rabu (4/10).

JawaPos.com – Pelatih tim nasional panjat tebing Hendra Basir mengungkapkan bahwa komunikasi antaratlet yang kurang baik menjadi faktor penyebab dua medali emas speed relay Asian Games Hangzhou terlepas dari tangan Indonesia.

Pada Rabu malam di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Veddriq Leonardo, Kiromal Katibin dan Rahmad Adi Mulyono gagal menyelesaikan laga final speed relay putra melawan tuan rumah Tiongkok. Penyebabnya karena tim Indonesia kedapatan mencuri start.

Sedangkan di nomor putri, Desak Made Rita Kusuma Dewi, Rajiah Sallsabillah dan Nurul Iqamah juga harus merelakan emas kedua dibawa pulang Tiongkok. "Kami belum bisa memaksimalkan seluruh potensi emas yang ada di speed baik putra maupun putri," ungkap Hendra.

"Risiko di kategori speed banyak variabel yang memengaruhi.... Ini bukan karena kami kalah kencang, tetapi memang kami melakukan beberapa kesalahan."

Tim speed relay putra Indonesia sejatinya muncul sebagai penantang utama setelah mencatatkan waktu tercepat 16,632 detik di atas Tiongkok pada babak kualifikasi.

Akan tetapi, final menjadi ujian sebenarnya bagi trio Merah Putih.

Veddriq mengaku harus melakukan evaluasi diri setelah melepas peluang merebut medali emas nomor speed perorangan dan tak ingin terpeleset lagi ketika berjuang bersama teman-temannya pada nomor estafet.

Atlet berusia 26 tahun asal Pontianak itu pada malam ini memanjat nyaris tanpa membuat kesalahan di final, namun setelah Kiromal sebagai pemanjat kedua menyelesaikan panjatannya, indikator false start menyala berbarengan dengan awal panjatan Rahmad.

Zhang Liang, Wu Peng, dan Wang Xinshang pun berhak membawa pulang medali emas panjat tebing pertama untuk Tiongkok.

Hendra mengonfirmasi false start terjadi setelah Rahmat memanjat. Pasalnya, Veddriq yang menjadi pemanjat pertama turun kurang cepat sehingga aba-aba darinya tidak terdengar oleh si pemanjat terakhir.

"Jadi terkendala komunikasi antara orang pertama ke orang ketiga. Veddriq harus cepat turun untuk memastikan pemanjat ketiga siap.”

"Kalau melihat posisinya di rekaman dia masih ditarik-tarik oleh panitia, mau kasih aba-aba 'go' tidak akan terdengar kalau seperti itu. Kodenya harus dari Veddriq," kata Hendri.

Selepas lomba, Veddriq berjanji akan lebih berkonsentrasi lagi.

"False start itu memang sesuatu yang tidak diprediksi, bagaimana riuhnya penonton dan juga semangat dari para pemanjat bisa mempengaruhi terjadinya hal itu," kata pemegang rekor dunia speed perorangan, Asia sekaligus Asian Games itu.

Di saat tim putra terlalu cepat mengambil keputusan, sebaliknya tim putri terlalu lambat.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore