Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2020 | 01.23 WIB

Wawancara dengan Liliyana Natsir Pasca Meraih Emas Olimpiade Rio 2016

Gold medalists Indonesia - Image

Gold medalists Indonesia

JawaPos.com-Bagi Liliyana Natsir, emas Olimpiade bukan sekadar puncak prestasi. Lebih dari itu. Ini merupakan pelabuhan terakhir dari sebuah perjalanan penuh pengorbanan sebagai seorang atlet besar dunia.

Hal pertama yang Butet ungkapkan kepada wartawan di Riocentro Pavilion 4 Rio de Janeiro, 17 Agustus 2016 adalah perasaan lega. Kelegaan yang sangat luar biasa. Baginya, misi sudah tercapai.

Rasa penasaran telah dituntaskan. Beban berat yang dia pikul selama bertahun-tahun sebagai salah seorang harapan terpenting bangsa Indonesia, telah lenyap dari pundaknya.

Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Liliyana merefleksikan keberhasilannya meraih emas Olimpiade Rio 2016. Wawancara ini dilakukan di Rio de Janeiro. Yakni sehari setelah Butet dan partnernya Tontowi Ahmad, mengalahkan ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di final.

Sehari setelah dapat emas, rencananya apa nih?
Wah, pokoknya kita akan jalan-jalan! Mau refreshing dululah, ke patung Yesus Kristius (Christ the Redeemer, Red), lalu ke pantai Copacabana. Sekarang, rasanya sudah lega sekali. Sangat lega. Bebas!

Photo

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir meraih emas Olimpiade Rio 2016 di Riocentro stadium in Rio de Janeiro. (Goh Chai Hin/AFP)

Butet sudah berpasangan dengan Owi selama enam tahun. Emas Olimpiade ini jelas adalah momen puncak. Selain itu, memori apa yang paling mengesanakan bersama Owi?
Kami mulai berpartner sejak tahun 2010 dan startnya sudah sangat baik. Kami langsung juara di beberapa turnamen grand prix (tiga gelar, Red). Lalu setahun kemudian juara dua kali di ajang superseries. Tetapi kalau ada yang paling mengesankan ya ketika kami hattrick juara All England mulai tahun 2012. Apalagi pada 2013, saya juga juara dunia dengan Owi. Rasanya itu sangat luar biasa sekali.

Bedanya berpasangan dengan Nova Widianto dengan Owi seperti apa? Kamu lebih tua dari Owi. Sedangkan dengan Nova, kamu juniornya…
Memang berbeda. Bersama Owi, saya harus menjadi sosok yang lebih dewasa lagi. Saya harus bisa membimbing ketika Owi bingung, tegang, dan tidak fokus dalam pertandingan. Menjadi sosok yang lebih tua memang lebih berat, berbeda dengan yang sebelumnya.

Enam tahun harusnya bukan waktu yang pendek sebagai pasangan. Dalam pandanganmu, Owi itu seperti apa orangnya? Mengapa dia istimewa? Atau mungkin, ada hal yang sangat menyebalkan?
Owi itu orangnya kuat mentalnya. Dia itu sosok yang sangat cuek. Dia tidak mengambil hati jika saya memberikan masukan agak keras. Tetapi saya tidak memberi tahu dengan marah-marah lho. Sebagai senior, saya berusaha untuk sabar dan positif. Saya sebisa mungkin untuk tidak tidak terlalu menekan dia jika dia melakukan kesalahan.

Yang nyebelin, dia itu kadang slengean. Kalau ngomong itu tidak dipikir dulu, ha..ha..ha…Yang ini bercanda. Tetapi kadang memang dia nyebelin banget. Saya sering berpikir, ''Duh kok ada orang yang nyebelin begini ya?"

Karena kalau sudah bercanda, kadang sering kebablasan. Tapi ya sudah. Kami sering berbicara dari hati ke hati. Kami ambil positifnya saja dan jelas harus lebih sabar.

Apa Owi pernah protes kalau misalnya tidak sreg dengan kamu? Baik dalam latihan atau pertandingan? Berbicara langsung begitu?
Hmmm... seingat saya tidak pernah sih ya. Owi seringnya berbicara dengan Kak Icad (Richard Mainaky, pelatih kepala ganda campuran) kalau dirasakan ada yang tidak enak dengan saya. Jadi Kak Icad berfungsi sebagai penengah, semacam orang yang menetralisir lah. Lalu Kak Icad yang menyampaikan ke saya. Jadi kita berbicara lagi, berkomunikasi lagi, kalau-kalau ada yang kurang.

Bersama Nova, kamu bisa dua kali menjadi juara dunia. Tapi sayangnya, kalah di final Olimpiade 2008. Padahal ketika itu kamu adalah unggulan pertama dan nomor satu dunia. Sesakit apa perasaanmu ketika itu?
Wah ya, sakit banget lah. Sudah nggak bisa dibayangkan sakitnya seperti apa. Sampai saat ini, bahkan sebelum saya berangkat ke Rio, saya masih menyesali permainan ketika itu. Kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu. Saya sempat cerita ke Debby (Susanto, Red), kenapa saya tidak bermain bagus ya?

Waktu di Beijing itu, kami sebetulnya sangat mengantisipasi pasangan Tiongkok (Zheng Bo/Gao Ling dan He Hanbin/Yu Yang) sebagai saingan terberat.

Eh, tiba-tiba ada Lee Yong-dae (dan Lee Hyo-jung) yang nongol begitu saja ke final. Melawan mereka, kami sebelumnya banyak menangnya. Tapi lalu waktu final Olimpiade kami kalah. Rasanya luar biasa sekali sakitnya.

Saya berhari-hari tidak bisa tidur. Tetapi akhirnya, saya berpikir, ya sudahlah mungkin ini memang bukan rezeki saya. Dan akhirnya ternyata saya bisa mendapatkan rezeki tahun ini.

Photo

Nova Widianto dan Liliyana Natsir saat melawan pasangan Tiongkok He Hanbin/Yu Yang pada semifinal Olimpiade Beijing 2008. (Indranil Mukherjee/AFP)

Sepanjang 2015 Owi/Butet gagal mendapatkan gelar superseries. Tapi bisa juara Badminton Asia dan Indonesia Masters yang berlabel grand prix gold. Banyak juga yang meragukan kalian untuk meraih emas Olimpiade. Bagaimana menanggapi hal ini?
Memang sempat down sih ya. Kok turnamen selevel superseries saja saya tidak bisa berprestasi lagi. Tetapi, saya buang jauh-jauh pikiran itu. Pokoknya saya hilangkan keraguan-raguan untuk menuju Olimpiade ini. Yang terpenting adalah mempersiapakan diri sebaik-baiknya saja.

Dalam perjalanan enam tahun berpasangan dengan Owi, ada momen spesifik yang membuat kamu berada di titik terendah?
Ada. Salah satunya ketika kami kalah di kejuaraan dunia tahun 2015 (melawan Zhang Nan/Zhao Yunlei di semifinal). Saat itu kami main di rumah sendiri (Istora Senayan, Jakarta) dan hampir saja menang. Tinggal satu angka saja, tetapi kok sulitnya minta ampun. Nggak bisa-bisa rasanya.

Lalu akhirnya kami kalah dan sepanjang 2015 itu, kami gagal dapat gelar bergengsi. Saya jadi berpikir, apa ya bisa saya juara di Olimpiade kalau seperti ini. Lalu pada April 2016, kami sempat juara di Malaysia Superseries Premier. Dan itulah momen kebangkitan kami. Kami jadi optimistis lagi.

Photo

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir merayakan keberhasilan mereka mengalahkan Zhang Nan/Zhao Yunlei pada semifinal Olimpiade Rio 2016. (Jim Watson/AFP)

Bagaimana ketegangan yang kamu rasakan menghadapi Olimpiade 2016, mengingat kegagalan di Beijing dan London?
Wah ya tegang sekali. Setelah gagal di Beijing bersama Nova, saya berharap bisa mendapatkan emas di London dengan Owi. Ketika itu kan sudah digadang-gadang banget. Harapannya bisa. Lalu kami kalah di semifinal (rubber game melawan psangan Tiongkok Xu Chen/Ma Jin). Itu juga menyakitkan.

Waktu perebutan perunggu melawan Denmark (Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen) semua orang juga bisa melihat kalau kami sudah down banget, jadi sudah tidak fokus.

Sebelum bertanding di Rio, saya juga sebetulnya sangat tegang. Makan tidak enak, tidur selalu tidak nyenyak. Bukan karena makanannya tidak enak ya, tetapi perasaannya saya yang tidak enak. Gagal di Beijing dan London itu rasanya sangat tidak nyaman. Pikiran ini tidak nikmat, sampai tertawa saja tidak bebas. Di Brasil ini, berat badan saya sampai turun 4 kilo loh. Oh, begini ya susahnya juara Olimpiade. Ternyata memang luar biasa susah.

Dan setelah juara Olimpiade?
Wah ya bebas, lega sekali. Mau ngapa-ngapain juga enak banget. Mau guling-guling juga bebas saja. Istilahnya begitu. Apalagi, kemenangan ini pas dengan hari kemerdekaan Indonesia, jadi kami bisa memberikan kado yang spesial. Kalau sebelum Olimpiade, jalan saja rasanya harus hati-hati banget, takut keseleo. Iya, sampai seperti itu rasanya.

Sepanjang Olimpiade ini, Butet dan Owi selalu menang straight game. Melawan ganda Malaysia juga enak sekali mainnya. Saya melihatnya kok kalian bisa menang segampang itu di final ya?
Wah ya tidak, tidak ada yang mudah di final. Pada awalnya ya saya tegang juga, namun setelah itu bisa mengontrol dan akhirnya bisa menang. Di bulu tangkis itu, saya kira kekuatan semua setara, semua sudah bisa saling mengalahkan. Meskipun kami sempat unggul jauh, tetapi tetap fokus angka demi angka saja. Sama sekali tidak berpikir menang dulu.

Photo

Butet dan Owi berselebrasi setelah mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying pada final Olimpiade Rio 2016. (Gih Chai Hin/AFP)

Sekarang, Butet sudah meraih segalanya. September nanti, usia juga sudah 31 tahun. Rencana habis ini mau apa?
Saya kira, ini adalah Olimpiade terakhir saya. Jadi, memang, saya berusaha untuk memberikan segala yang saya bisa untuk menjadi juara. Soal berhenti, saya masih belum berpikir kapan waktunya. Sekarang, dinikmati dulu sajalah. (*)

Catatan: Versi lebih pendek dari wawancara ini, terbit di Jawa Pos, 19 Agustus 2016.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore