Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Maret 2020 | 23.51 WIB

Angan Juara Dunia Tercepat dalam Sejarah Indonesia, Tampil di Vegas

Ongen Saknosiwi vs Marco Demecillo - Image

Ongen Saknosiwi vs Marco Demecillo

JawaPos.com-Adanya wabah virus korona alias covid-19 membuyarkan banyak agenda olahraga dunia. Termasuk di Indonesia.

Laga-laga tinju yang seharusnya digelar tahun ini, terpaksa ditinjau lagi. Promotor maupun manajemen, terpaksa membuat jadwal ulang. Hal ini yang dirasakan juara dunia kelas bulu IBA Ongen Saknosiwi.

“Rencana yang sudah disusun tahun lalu, batal semua. Kami juga sudah ngobrol dengan team Mahkota Promotion. Lalu akan dirilis pertandingan dan jadwal tanding yang baru tapi belum tahu kapan hingga virus korona berakhir. Untuk lawan dan tempat tanding belum dirilis,” kata Ongen saat dihubungi JawaPos.com.

Namun, meskipun pertarungan dibatalkan, Ongen tetap beraktivitas dan latihan setiap pagi dan sore di sasana Dirgantara Boxing Camp TNI AU, Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Meskipun petinju asal Ambon itu adalah seorang prajurit, namun Ongen tetap profesional dalam membagi waktu.

“Saya tetap jaga kondisi dengan berlatih. Saya latihan setiap hari, pagi jam 06.00 sampai selesai. Setelah itu jam 10.00 dinas ke kantor. Pulang kantor jam 02.00 siang lanjut latihan sore jam 03.00. Tapi, jika saya training camp di Bali, saya dapat rekomendasi khusus untuk berlatih di luar kedinasan,” ucap Ongen.

Petinju kelahiran Pulau Buru, Maluku, 15 Juli 1994 itu bercerita, saat berusia 17 tahun, dia sudah meninggalkan kampung halamannya untuk mencoba peruntungannya di dunia tinju.

Sebab sejak kecil, dia selalu diajari tinju oleh orang tuannya. Namun, karena tidak ada sasana, terpaksa dia merantau. Mantan petinju nasional, mendiang Wiem Sapulette melihat bakat Ongen. Kemudian, dia mengajak Ongen ke sasananya di Tangerang.

Di sasana Wiem, Ongen berlatih dari 2011 hingga 2104. Pada 2014, dia memutuskan untuk vakum di dunia tinju karena dia masih ragu. Apakah terjun ke tinju bisa membawa kesuksesan atau tidak.

Rencananya, pada tahun ini, dia mau pulang kampung. Namun nasib berkata lain. Ada orang yang menyuruh dia daftar masuk ke TNI AU.

Setelah menjadi prajurit, Ongen mendapat tawaran untuk mengembangkan potensinya di olahraga tinju. Dengan dukungan penuh, dia akhirnya meraih prestasi di dunia internasional.

“Saya sempat ragu memilih tinju. Lalu daftar masuk TNI AU diterima. Di sasana Dirgantara Boxing Camp saya bisa berkembang dan bisa juara dunia kelas bulu. Karena bagi saya, no boxing no life,” jelasnya.

“Kedua orang tua saya, TNI AU, pelatih pertama saya di Ambon, Pak Simon Nahumury, almarhum Pak Wiem Sapulette dan keluarga, mungkin merekalah yang berjasa pada karier tinju saya,” tambahnya.

Namun, ada keinginan besar yang dicapai di dalam karier bertinjunya. "Masih terlalu banyak yang ingin diraih. Saya ingin bermain di Las Vegas, MGM (Grand Garden Arena) dan menang. Amin. Semua orang kan berhak bermimpi,” ucapnya.

Pada 17 November lalu di Batu, Jawa Timur, Ongen mencatat sejarah baru bagi dunia tinju nasional. Dia membuat rekor sebagai juara dunia tinju asal Indonesia tercepat. Yakni ketika Ongen angka atas petinju Filipina, Marco Demecillo.

Dia adalah petinju Indonesia pertama yang menjadi juara dunia di bawah 10 pertarungan. Pada sembilan pertarungan sebelumnya, Ongen selalu menang KO.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore