
Hanifan saat memeluk Jokowi dan Prabowo di Asian Games 2018 (Chandra Satwika/Jawa Pos)
JawaPos.com-Pencak silat meraih prestasi fantastis di Asian Games 2018. Dari 18 kelas yang dipertandingkan, skuad Merah Putih memborong 16 emas. Tetapi, kenangan manis tersebut tidak lantas membuat timnas pencak silat berani memancang target tinggi di SEA Games 2019.
PB IPSI hanya berani menjanjikan tiga emas dari cabor bela diri asli Indonesia tersebut.
Di Filipina, hanya ada sembilan kelas yang dipertandingkan. Sembilan emas diperebutkan sembilan negara. ’’Kelas yang dipertandingkan ada seni dan tanding. Nah, nomor seni itu sangat subjektif penilaiannya,’’ jelas Indro Catur, pelatih kepala pelatnas pencak silat. ’’Anak-anak secara kualitas di atas lawan. Tetapi bisa kalah karena subjektivitas,’’ lanjut dia.
Karena itu, sapu bersih emas adalah hal yang sulit diwujudkan di SEA Games kali ini. Indonesia sama sekali tidak menargetkan bisa meraih emas dari nomor seni. Mereka mengincar medali dari nomor tanding. ’’Kalau bisa lebih dari tiga emas, itu bonus. Di Filipina nanti harus jadi juara umum,’’ tegas Indro.
Selain persoalan subjektivitas, mayoritas skuad pencak silat yang dibawa ke Filipina adalah wajah baru. Tidak ada Sarah Tria Monita, Wewey Wita, ataupun Abdul Malik. Veteran Asian Games yang berangkat hanya Hanifan Yudani Kusumah. Tahun lalu dia menyumbang emas dari nomor tanding kelas C. Di SEA Games kali ini, dia turun di kelas D.
Meski begitu, sebelas pesilat lain yang diberangkatkan tetap diyakini menjadi ancaman di Filipina. Mereka melakukan persiapan sejak Maret. ’’Secara peluang, bagus semua. Tidak ada yang lebih diunggulkan. Semuanya sama. Kalau SEA Games di Jakarta, peluang medali di Asian Games bisa terulang,’’ ucap Indro.
Dari peta persaingan, tuan rumah bukan kendala utama. Meskipun hampir pasti mereka kebagian medali dari nomor seni. Tapi, pesaing utama kita adalah Vietnam dan Thailand. Juga Malaysia yang merupakan juara umum SEA Games edisi 2017. Saat itu mereka (sebagai tuan rumah) menyapu sepuluh emas sekaligus. Tiga di antaranya berasal dari nomor seni. Sementara itu, Indonesia hanya mengais dua emas.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
