alexametrics

Tong Sin Fu: Pencetak Generasi Emas, Ditolak Negeri Kelahiran (1)

1 Juli 2020, 12:15:22 WIB

JawaPos.com-Tong Sin Fu sudah pensiun sebagai pelatih pada 2010. Walau sudah satu dekade mundur dari bulu tangkis, namun kiprah dan metode kepelatihannya masih terus menginspirasi mantan anak didikannya.

Salah satunya adalah Indra Wijaya.

Saat ini, bekas pemain nasional Indonesia tersebut menjadi pelatih kepala tunggal putri Malaysia. Sejak masih remaja, Indra memang sangat dekat dengan Sin Fu.

“Saya ingin menjadi pelatih yang baik seperti mentor saya,” ucap Indra seperti dikutip dari surat kabar Malaysia, The Star.

Mentor yang dimaksud Indra tentu saja Tong Sin Fu.

Tong Sin Fu adalah nama yang diberikan orang tuanya saat dia lahir di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942.

Orang Tiongkok memanggil Sin Fu dengan nama Tang Hsien Hu. Pria 78 tahun itu juga memiliki ‘nama Indonesia’ yakni Fuad Nurhadi.

Menurut Indra, Sin Fu tak hanya mengajarkan teknik hebat dalam bermain bulu tangkis. Lebih dari itu, Sin Fu juga kerap memberikan nasihat kepada pemainnya untuk menjadi manusia yang baik di luar lapangan.

“Saya masih tetap berhubungan dengan dia. Saya juga mendapatkan beberapa masukan pembinaan dari dia secara teratur. Dia akan selalu menjadi guru saya,” tambah Indra.

Sin Fu mulai menggembleng Indra pada usia 13 tahun. Dia dan adik kandungnya, Candra Wijaya, mendapatkan sentuhan kepelatihan dari Sin Fu saat masih berada di klub Pelita Jaya.

Indra Wijaya (kiri) bersama Tong Sin Fu, dan Candra Wijaya. (Repro The Star).

Pada 1986, Sin Fu sempat bergabung di klub milik Aburizal Bakrie tersebut. Setahun kemudian, Sin Fu menjadi pelatih di pelatnas PP PBSI di Cipayung, Jakarta Timur.

Dari sanalah sejak 1987 sampai 1998, Sin Fu melahirkan generasi emas tunggal putra Indonesia yang mendominasi dunia.

Tangan dingin Sin Fu sukses memoles para pemain seperti Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi. Bintang terakhir yang mengkilat dari tangan Sin Fu adalah Hendrawan.

Pencapaian terdahsyat anak asuhan Sin Fu terjadi pada Olimpiade Barcelona 1992. Kali pertama bulu tangkis dipertandingkan di Olimpiade, tiga wakil tunggal putra Indonesia mendominasi total dengan menyapu bersih medali.

Alan dan Ardy meraih emas dan perak dengan menciptakan All Indonesian Final. Sementara itu Hermawan Susanto (bersama pemain Denmark Thomas Stuer-Lauridsen) meraih perunggu.

Alan Budikusuma saat menjadi juara Olimpiade Barcelona 1992. (Arberto Martin/AFP)

Pada awal 1990-an itu, tunggal putra Indonesia merajai total dengan menempati ranking 1 sampai 8 dunia dalam daftar peringkat yang dikeluarkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

*

Kepada Jawa Pos, Hariyanto Arbi mengakui sentuhan emas Sin Fu sebagai pelatih. Kelebihan Sin Fu, kata juara dunia 1995 itu, adalah kegilaannya pada detail.

Sin Fu adalah pelatih yang sangat teliti. Semua perkembangan para pemainnya dicatat dalam sebuah jurnal yang sangat rapi. Sin Fu dengan telaten selalu merekam latihan dan pertandingan pasukannya.

Kekurangan dan kelebihan para pemain Indonesia tidak pernah lolos dari mata tajam Sin Fu. “Setelah latihan pasti ada evaluasi berdasarkan video. Jadi dianalisis langsung saat itu juga,” ucap Hari, panggilannya.

Selain detail, Hari menambahkan bahwa kelebihan Sin Fu adalah dia sangat inovatif. Salah satu penemuan terbaik Sin Fu adalah latihan shadow di atas medan pasir. Tujuannya adalah untuk memperkuat kaki dan membuat gerakan para pemain semakin lincah.

Sampai saat ini, latihan peninggalan Sin Fu itu masih digunakan di pelatnas Cipayung.

Latihan ala Sin Fu memang sangat keras. Namun, para pemain bisa mengerti dan berusaha untuk menjalankan program-programnya hingga tuntas dan sebaik-baiknya.

Hariyanto Arbi bereuni dengan Tong Sin Fu di Tiongkok pada 2017. (Dok Hariyanto Arbi).

Itu terjadi karena Sin Fu selalu menanamkan kepercayaan yang kuat kepada para pemain. Jika Hari dkk menjalankan program latihan dengan sungguh-sungguh, maka ganjarannya akan sangat jelas: kemenangan.

Inilah yang membuat chemistry antara pemain dan pelatih terjalin. Pelatih percaya kepada kemampuan para pemainnya. Sedangkan pemain percaya pelatihnya mampu membantu mereka menjadi juara.

Walaupun sangat keras dalam latihan, Sin Fu juga memiliki sifat ngemong. Di luar lapangan, Sin Fu membantu para pemainnya untuk menjadi manusia dengan karakter kuat dan positif.

“Oom Tong itu punya sifat kebapakan. Latihannya keras. Disiplinnya juga keras. Kami harus maksa agar bisa menjalankan programnya sampai selesai. Namun, dia juga sangat ngemong kepada pemainnya,” kenang Hari.

Kehebatan lain Sin Fu sebagai pelatih adalah dia bisa mengenali karakter setiap pemainnya. Instingnya setajam pisau cukur. Dia bisa tahu metode latihan apa yang cocok dengan kemampuan para pemainnya secara individual. Jadi, setiap pemain bisa memaksimalkan potensi sesuai dengan ciri khas dan gaya permainannya. “Latihan tiap orang beda programnya,” kata Hari.

Latihan Sin Fu juga memudahkan para pemainnya untuk memancangkan target apa yang akan dicapai dalam sepekan latihan. Secara berkala, Sin Fu membeberkan program latihan dalam seminggu. Itu ditambah dengan keterangan yang jelas mengapa program itu harus dilakukan.

Bahkan saking melekatnya, walau telah puluhan tahun berlalu, Hari sampai detik ini masih ingat dengan detail program latihan Sin Fu.

Hari menceritakan, pada Senin pagi, Sin Fu melatih tunggal putra kekuatan kaki dan ketangguhan fisik. Lalu berlanjut dengan berlatih stroke dua lawan satu.

Senin sore, Sin Fu menginstruksikan para pemainnya untuk kembali memperkuat fisik dan meningkatkan endurance. Bentuknya adalah lari empat putaran mengelilingi lapangan dengan waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.

Berlanjut pada Selasa pagi, para pemain tunggal putra pelatnas mendapatkan materi latihan stroke dua lawan satu. Lalu pada sore hari, pemain berlatih shadow di atas lapangan pasir. Itu masih ditambah dengan latihan angkat beban.

Rabu, Sin Fu akan meningkatkan intensitas latihan dengan game melelahkan. Lalu pada sore harinya, pemain akan dibuat mandi keringat dengan melakukan drilling alias memukul ratusan bola secara presisi.

Kamis adalah hari santai bagi Hari, Ardy, Alan, dkk. Latihan hanya berlangsung setengah hari. Sore, Sin Fu membebaskan para pemainnya untuk bersantai sejenak. “Jadi, intensitas turun karena memang latihannya ringan,” ucap Hari.

Agak kendur di hari Kamis, Sin Fu kembali menggenjot pemain Indonesia dengan latihan keras pada Jumat. Pagi hari bermaterikan latihan game yang keras. Sedangkan sore harinya adalah masa interval berupa latihan kelincahan. Inipun sangat-sangat melelahkan.

Sabtu tetap menjadi hari yang bikin capek. Namun, Sin Fu memberikan program yang fleksibel. Kalau dekat pertandingan, dia bakal kembali membagikan program berupa game. Sedangkan kalau masih jauh dari jadwal turnamen, para pemain akan menjalani latihan penguatan fisik.

Hari tidak menyangkal bahwa latihan ala Sin Fu adalah rezim yang keras dan sangat disiplin. Namun, dia sama sekali tidak keberatan. Toh, Hari memetik hasilnya dengan manis.

Sekali menjadi juara dunia, Hari menjadi kampiun back-to-back All England pada 1993 dan 1994. Selain itu Hari menikmati statusnya sebagai pemain nomor satu dunia. Juga empat kali membantu Indonesia menjadi juara Piala Thomas.

“Latihan Oom Tong memang berat. Tapi kami sudah tahu tujuannya. Tujuannya adalah di sana, menjadi juara. Latihannya akan begini, latihannya begitu. Jadi, kami sebagai pemain harus menyesuaikan. Dalam konteks ini, tujuan atlet dan pelatih sama. Pelatih menyusun program yang bagus. Pemain bisa menjadi juara,” kata Hari.

*

Sayang, Tong Sin Fu akhirnya pergi dari Indonesia dengan hati sangat terluka pada 1998. Dengan terpaksa, di tengah ketidakpastian dan kegamangan, Sin Fu menerima pinangan sebuah klub lokal di provinsi Fujian, Tiongkok.

Kalau bisa memilih, hati Sin Fu sejatinya hanya untuk Indonesia. Keluarganya sudah mapan dan bahagia di tanah air. Sama dengan dia, dua anaknya juga lahir di Indonesia.

Namun, setiap malam Sin Fu selalu dihantui kegalauan. Berkali-kali mengajukan diri menjadi warga negara Indonesia, namun negeri ini seolah menolak keberadaannya.

Perasaan Sin Fu semakin perih sebab seorang aparat pemerintah menipunya. Sin Fu mengangsurkan uang antara Rp 30 sampai 50 juta agar permohonannya menjadi WNI diterima. Jumlah yang sangat besar untuk tahun 1990-an.

Tetapi, setiap kali maju ke imigrasi, Sin Fu selalu menghantam tembok. Dia diminta untuk mengulang prosesnya menjadi WNI sejak awal. Salah satu yang terberat adalah pemenuhan kewajiban sudah pernah tinggal di Indonesia selama lima tahun beruntun.

Padahal, Sin Fu lahir, besar, dan sudah memberikan banyak hal untuk Indonesia.

Sin Fu akhirnya menyerah. Dia mengaku tidak bisa kembali menjalani proses yang begitu ruwet, menyakitkan, dan sangat rasialis itu. “Har, sekarang kalau saya disuruh ngulang lagi dari awal, kalau ada apa-apa, keluarga saya bagaimana? Anak dan istri saya bagaimana?” keluh Sin Fu kepada Hariyanto Arbi.

Seorang teman Sin Fu, seorang pejabat tinggi di Fujian, mendengar kegalauan pria yang sempat menjadi pelatih Tiongkok pada 1982 sampai 1987 tersebut.

Kalau mau pindah dan melatih di Negeri Panda, sang kawan menjanjikan Sin Fu tidak hanya langsung punya status warga negara Tiongkok. Namun pemerintah negeri itu bersedia menjamin semua kebutuhan primer Sin Fu. Mulai rumah, kendaraaan, gaji besar, hingga fasilitas pensiun.

Awalnya cuma melatih klub provinsi, setahun kemudian Sin Fu ditarik untuk membesut tim nasional Tiongkok.

Petang sebelum Sin Fu hengkang, dia ngobrol hingga malam dengan Hari. Pada saat itu, mereka berada di kamar asrama yang sama di pelatnas Cipayung.

Kepindahan Sin Fu itu menjadi penanda awal merosotnya kualitas tunggal putra Indonesia dan bersinarnya para pemain Tiongkok.

Karya agung Sin Fu di Tiongkok adalah peraih emas Olimpiade Sydney 2000 Ji Xinpeng, juara dunia 2003 Xia Xuanxe, dan terutama sang fenomenal, peraih dua emas Olimpiade serta juara dunia lima kali, Lin Dan.

Tiga pemain yang pernah dilatih Tong Sin Fu, yakni Ji Xinpeng (tengah), Hendrawan, dan Xia Xuanze berdiri di podium Olimpiade Sydney 2000. (Robyn Beck/AFP).

Dalam lima Olimpiade terakhir, tunggal putra Tiongkok mendominasi dengan meraih empat emas. Final Sydney 2000 berlangsung mengesankan. Itu adalah pertemuan dua pemain yang dibesarkan oleh Sin Fu yakni Hendrawan dan Ji Xinpeng.

Pada akhirnya, Hendrawan yang menjadi unggulan kedua tumbang di tangan Xinpeng yang cuma menempati seeded ketujuh. Kemenangan Xinpeng sangat mengejutkan. Padahal dalam opini Hari, Xinpeng adalah pemain yang tidak terlalu istimewa.

Satu-satunya pemutus kedahsyatan Tiongkok di Olimpiade adalah pemain berbakat alam fenomenal asal Indonesia bernama Taufik Hidayat.

Taufik yang ‘beruntung’ tidak sekalipun bertemu dengan anak asuh Sin Fu, akhirnya bablas meraih emas Olimpiade Athena 2004. Di atas kertas, saat itu, Taufik harusnya bertemu Lin Dan di semifinal pool atas.

Namun kejutan besar terjadi.

Lin Dan yang menempati unggulan nomor satu, langsung tumbang pada babak pertama di tangan pemain Singapura kelahiran Indonesia, Ronald Susilo.

Dan pada saat Indonesia selama bertahun-tahun hanya mengandalkan Taufik, di Tiongkok Sin Fu sukses menciptakan sistem dan memproduksi banyak sekali tunggal putra elite dunia.

Tiongkok secara resmi menggantikan posisi Indonesia dengan meraih gelar Piala Thomas lima kali beruntun mulai 2004 sampai 2012.

Sebelumnya, Merah Putih berada di podium tertinggi turnamen beregu putra paling bergengsi di dunia itu, juga lima kali beruntun. Yakni pada 1996 sampai 2002.

“(Bagi Indonesia) kepergian Oom Tong adalah kehilangan besar, tapi organisasi (PP PBSI) tidak merasa kehilangan. Ya dilepas saja. Tetapi kan atletnya merasa kehilangan. Mungkin kita jemawa karena merasa sudah menang. Mungkin, organisasi merasa bahwa ini semua karena pemain. Jadi kepergian Oom Tong tidak ditahan,” kata Hari dengan nada prihatin.

“Padahal tidak seperti itu. Pemain bisa merasakan sendiri bagaimana andil Oom Tong kepada kami,” ucap pemain kelahiran Kudus itu.

Hari itu, pada 1998, sejumlah pemain top dunia asal Indonesia mengantarkan dan melepas Tong Sin Fu di Bandara Soekarno-Hatta. Itu adalah cara Hari, Alan, Hendrawan, Indra Wijaya, dkk untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kepada pelatih yang begitu mereka cintai. (*/bersambung)

Editor : Ainur Rohman



Close Ads