
Chef Rudy Choirudin. (Dok. Rudy Choirudin)
Lebih dari 35 tahun lamanya chef Rudy berkecimpung di dunia kuliner. Selain menulis sederet buku resep, dia membawakan beberapa program memasak di televisi, salah satunya Selera Nusantara. Pria kelahiran Surabaya bernama lengkap Rudy Choirudin itu pun memiliki penggemar turun-temurun. Berikut perbincangan dengan chef Rudy di sela-sela kesibukannya.
Halo Chef Rudy, apa racikan eksis hingga puluhan tahun di kuliner?
Halo. Iya, tepatnya 24 Juli 2024 itu saya 35 tahun di TV membawakan program kuliner. Yang masih berjalan sekarang Simple Rudy di MNC TV. Selain syuting, demo memasak atau jadi bintang tamu. Resep yang dibawakan harus di-test food dulu sampai takarannya tepat biar orang sekali coba langsung berhasil. Kalau saat dicoba tidak berhasil, biasanya kapok, terus ninggalin. Tes dan riset itu yang selalu saya lakukan dari dulu sampai saat ini. Baik untuk tayang di TV ataupun media sosial (YouTube, Instagram, TikTok, dan Facebook).
Masih rutin menulis resep?
Kalau menulis itu setiap hari, untuk skrip TV dan media sosial. Kalau untuk buku resep, tinggal ambil dari yang sudah tayang. Tapi, saat ini saya belum mengeluarkan buku lagi karena orang masih lebih tertarik melihat di media sosial atau TV.
Memiliki penggemar dari era dulu hingga sekarang, seperti apa?
Penggemar saya itu penggemar yang agak susah lepas atau fanatik ya. Di awal saya keluar, penggemar yang lebih tua dari saya itu memanggil nama. Ada juga yang memanggil Mas Rudy. Kemudian, ada kelompok (penggemar) yang memanggil Om Rudy. Itu dari tiga generasi berbeda. Dari nenek, anak, sampai cucunya. Di era sekarang, dapat penggemar yang baru lagi dengan adanya media sosial.
Pengalaman berkesan dengan penggemar?
Penggemar saya rata-rata ibu rumah tangga atau pengusaha UMKM atau orang yang senang masak. Saya inget ada fans fanatik yang dulunya nonton sama anaknya masih umur 5 tahun. Sekarang si anak tersebut sudah punya anak dan diajak nonton demo masak saya di Bekasi. Hahaha.
Ada hobi lain di luar bidang kuliner?
Saya hobi merawat binatang. Ada ikan koi, kucing, dan ayam. Ikan koi ini akhirnya jadi bisnis juga, awalnya hobi sampai ke breeding.
Bagaimana melihat program atau konten memasak saat ini?
Di media sosial, program kuliner bertambah banyak, ya. Tapi, saya berpesan, buatlah konten yang bagus dengan sumber yang bagus. Kalau mau modifikasi (masakan), jangan sampai menghilangkan nama masakan induknya. Itu warisan budaya. Prinsip saya, tidak pernah merasa punya pesaing. Meskipun ada tiga juta atau empat juta orang yang ahli masak di Indonesia, resep masih bisa digali. Nggak akan habis.
Saat ini berpartisipasi dalam Desa Kuliner, apa tujuan program itu?
Desa Kuliner adalah wadah untuk membimbing keterampilan memasak. Itu pelatihan. Mulai bahan baku awal, proses mengolah, sampai kemudian siap dimasak. Selanjutnya, bagaimana cara pengemasan, penjualan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
