
Djarot Sulistyo Wisnubroto. (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
SOSOK Djarot Sulistyo Wisnubroto begitu identik dengan nuklir. Maklum, dia pernah enam tahun menjadi kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Selama kepemimpinannya, Batan menghasilkan beragam inovasi berbasis tenaga nuklir. Apa aktivitasnya sekarang ?
Setelah tidak memimpin lembaga riset, apakah menjadi lebih sibuk?
Batan sekarang sudah dilebur bersama lembaga riset lain menjadi BRIN. Saya kembali sebagai peneliti di BRIN. Sedikit berubah cara berpikirnya. Kalau dulu saya mengelola orang. Sekarang mengelola diri sendiri. Tetapi aslinya saya peneliti.
Contoh kesibukan sekarang?
Kami punya Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia, saya dewan pendirinya. Sering pertemuan untuk promosi dan sosialisasi nuklir. Sosialisasinya melalui webinar rutin setiap kamis. Kemudian mengajar di sejumlah universitas. Serta menjadi semacam konsultan di beberapa private sector di bidang nuklir.
Sosialisasi rutin yang baru-baru ini diselenggarakan bertema apa?
Kamis ini tentang pemanfaatan nuklir untuk uji tak rusak. Misalnya badan pesawat terbang dicurigai ada keretakan halus, bisa menggunakan semacam radiasi untuk memastikan ada keretakannya apa tidak. Jadi tanpa harus membongkarnya. Itu salah satu tema saja. Intinya promosi ke masyarakat, ini lho nuklir itu bukan hanya soal PLTN dan senjata saja.
Kalau untuk aktivitas penelitiannya, sekarang sedang menggarap apa?
Saya di bagian radioaktif. Kami meneliti misalnya, bagaimana jika ditemukan kasus kontaminasi. Seperti pernah terjadi di Perumahan Batan Indah beberapa tahun lalu. Penelitian saya mencari solusi bagaimana menangani tanah yang sudah terkontaminasi zat radioaktif.
Urgensi penelitian itu apa?
Kelak Indonesia punya PLTN. Bahkan Presiden Prabowo Subianto sudah melempar keinginan Indonesia untuk mempunyai PLTN. Jika kelak kita punya PLTN, limbahnya mau disimpan atau dibuang ke mana. Ini perlu sebuah riset dan inovasi. Jadi sebuah riset penanganan limbah radioaktif. Meskipun sekarang PLTN benerannya belum ada, tetapi di BRIN ada fasilitas reaktor nuklir serba guna, yang prinsipnya sama seperti PLTN. Ada di Bandung, Jogja, dan Serpong. Reaktor ini bisa menjadi simulasi ketika kelak Indonesia punya PLTN.
Sekarang Batan sudah dilebur menjadi BRIN. Bagaimana nasib riset-riset di bidang tenaga nunklir?
Menurut pandangan pribadi saya, BRIN sekarang lebih fokus ke penelitian nuklir yang agak dasar. Sehingga penelitian terkait pemanfaatan nuklir yang dulu sudah jalan, seperti benih unggul, produksi radioisotope untuk kesehatan, agak berkurang. Nah itu menjadi catatan sendiri. Sekarang BRIN nyaris tidak melakukan promosi tentang nuklir.
Promosi tentang nuklir masih perlu ya untuk saat ini?
Karena Pak Prabowo ingin membangun PLTN, promosi atau sosialisasi tentang nuklir harus digencarkan. Termasuk ketika nanti ada pro dan kontra, siapa yang harus memberikan penjelasan ke publik. Sementara sekarang BRIN berfokus pada risetnya. Jadi menurut saya, situasinya ada yang kosong terkait promosi nuklir. Idealnya dihidupnya kembali, misalnya dengan pembentukan pembentukan badan pelaksana ketenaganukliran.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
