Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Januari 2024 | 08.23 WIB

Identik dengan Tahun Baru, Kembang Api Ternyata Turut Pengaruhi Krisis Iklim

Ilustrasi kembang api saat tahun baru. (Sumber: greenglobaltravel.com) - Image

Ilustrasi kembang api saat tahun baru. (Sumber: greenglobaltravel.com)

JawaPos.com–Pada setiap perayaan tahun baru, kembang api selalu hadir menemani malam-malam dengan pancaran cahaya warna-warni yang indah. Kembang api menjadi sangat identik dengan tahun baru, atau hari-hari perayaan besar di seluruh dunia, menjadikan sebuah momentum semakin semarak.

Namun di balik keindahan magis warna-warni, kembang api ternyata memberikan efek buruk bagi krisis iklim. Sehingga, para aktivis lingkungan semakin menyoroti penggunaan kembang api.

Dilansir dari Forbes pada Minggu (31/12), kembang api menghasilkan gas toksik dan polusi yang mencemari udara, air, dan tanah, yang pada giliran selanjutnya akan meracuni burung, hewan, termasuk manusia.

Pada dasarnya, kembang api adalah rudal piroteknik kecil yang meledak dengan cara yang sangat spesifik, kemudian menghasilkan suara letupan keras dan semburan cahaya berwarna-warni. Nah, ledakan berwarna cerah itu adalah tempat masalahnya dimulai.

Kembang api mengandung berbagai senyawa logam berat dan bahan peledak kimia. Jika dipanaskan akan menghasilkan ledakan dan warna-warni kembang api.

Perubahan kimia zat-zat yang dikandung kembang api ketika mengalami pembakaran dengan bergabung dengan oksigen, akan melepaskan berbagai jenis gas rumah kaca ke atmosfer. Gas rumah kaca yang dilepaskan berupa karbon dioksida, karbon monoksida, dan nitrogen, merupakan gas penyumbang terbesar penyebab krisis iklim dan pemanasan global, sebagaimana yang dikatakan PBB.

Jika jangka panjang kembang api turut menyebabkan krisis iklim, dalam jangka pendek kembang api menyebabkan polusi udara, yang akan memperburuk kesehatan manusia dan hewan.

Dilansir dari newsmedical.net pada Minggu (31/12), ledakan kembang api menghasilkan partikel PM2.5, sebuah debu polusi berukuran 2,5 mikrometer (setipis rambut). Partikel itu berbahaya jika terhirup lalu masuk ke paru-paru, menyebabkan diare, muntah, hingga penyakit ginjal, serta berbagai jenis kanker.

Berdasar riset yang pernah dilakukan peneliti dari Universitas California, kembang api secara langsung memengaruhi kualitas udara di tempat kembang api itu dinyalakan. Kualitas udara bisa diamati dengan membandingkan kualitas udara sebelum dan sesudah perayaan kembang api menggunakan sistem Air Quality Index. Jika index berada di angka 401 artinya kualitas udara parah.

Pada riset Universitas California, peneliti menganalisis perbandingan kualitas udara beberapa negara bagian Amerika pada 2019 dan 2020 ketika sedang musim libur, di mana banyak masyarakat membakar kembang api.

Riset itu menemukan bahwa Los Angeles mengalami tingkat PM2.5 tertinggi sekitar musim liburan pada 2019 dan 2020, di mana sejumlah besar penduduk Los Angeles menembakkan kembang api di lingkungan sekitar mereka.

Selain itu, saat masa lockdown Covid-19, peneliti mendeteksi konsentrasi PM2.5 pada 4 dan 5 Juli 2020 rata-rata 50 persen lebih tinggi daripada 2019, karena peningkatan penggunaan kembang api selama lockdown.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore