Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Oktober 2019 | 00.00 WIB

Pentingnya Ketegasan, Eh Malah Federasi Sering Tabrak Aturan Sendiri

Photo - Image

Photo

JawaPos.com – Salah satu faktor yang dinilai membuat sepak bola Indonesia karut-marut adalah regulasi. Acap kali ditemukan regulasi yang ambigu. Sudah begitu, penerapannya tidak konsisten. Aturan yang sama bisa diterapkan berbeda ke setiap klub. Atau, kesalahan yang sama dihukum berbeda.

Masih di sesi pertama Diskusi PSSI Harus Baik Vol 2, Berubah atau Bubrah yang diadakan Rabu (23/10). Hukum dan penerapannya masih menjadi masalah serius dalam tata kelola sepak bola Indonesia. Sebab, hukum atau regulasi yang dibuat justru dilanggar atau ditabrak sendiri oleh federasi. Juga oleh pengelola kompetisi.

Jadinya, bukan ketertiban yang terbit, tetapi kekacauan demi kekacauan yang muncul. Ambil contoh soal penerapan hukuman atas tindak kekerasan yang muncul dalam suatu pertandingan. PSSI bisa dengan sangat tegas menjatuhkan hukuman. Entah itu kepada panpel, klub, atau suporter. Tetapi, saat hukuman belum sepenuhnya dijalankan, tiba-tiba federasi merevisi, atau memberikan keringanan.

Keputusan itu akhirnya tidak menimbulkan efek jera. Akibatnya, kekerasan yang sama atau bahkan lebih parah terulang. ’’Situasi ini harus diubah. Hukum di sepak bola Indonesia itu harus dibuat tegas. Begitu pula penerapannya,’’ kata salah seorang calon anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Ahmad Riyadh.

Pria yang juga memimpin Asprov PSSI Jawa Timur itu menyakini bahwa jika regulasi dibuat dengan jelas dan diterapkan secara tegas, semua yang terlibat di sepak bola Indonesia pasti mematuhinya. Riyadh mencontohkan, masyarakat Indonesia saat bepergian ke negara-negara yang aturannya ketat justru sangat patuh.

’’Orang Indonesia itu kalau ke Singapura pasti tidak berani merokok atau membuang sampah sembarangan. Sebab, aturannya ditegakkan dengan ketat. Tapi, begitu kembali ke Indonesia, ya kembali ke kebiasaan di sini,’’ papar Riyadh.

Hukum yang diterapkan dengan tegas, lanjut Riyadh, bisa membentuk budaya masyarakat. Begitu pula di sepak bola. ’’Jika hukum ditegakkan, saya percaya tata kelola dan kehidupan sepak bola Indonesia akan lebih baik,’’ ujar Riyadh.

Calon anggota exco lainnya, Viola Kurniawati, pun memiliki pandangan serupa. Selama ini federasi atau operator kompetisi sering tidak konsisten menerapkan aturan. Viola mencontohkan, pembukaan Liga 1 musim 2019. Musim ini liga dibuka dengan partai PSS Sleman melawan Arema Malang di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Hal itu berbeda dengan apa yang terjadi selama ini. Sebab, dari musim ke musim, Liga Indonesia selalu dibuka dengan pertandingan tim juara kompetisi musim sebelumnya. Karena berbeda, akhirnya berbagai alasan dibuat. Nah, budaya tersebut sering terjadi dalam kasus-kasus yang lain. Hal itu pun membudaya dan membuat tata kelola sepak bola Indonesia tidak sehat. ’’Ketegasan dari federasi memang hal yang penting. Ketegasan ini untuk semua hal agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan,’’ kata Viola. (bagian dua-bersambung)

Editor: Mohammad Ilham
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore