
Photo
JawaPos.com – Salah satu faktor yang dinilai membuat sepak bola Indonesia karut-marut adalah regulasi. Acap kali ditemukan regulasi yang ambigu. Sudah begitu, penerapannya tidak konsisten. Aturan yang sama bisa diterapkan berbeda ke setiap klub. Atau, kesalahan yang sama dihukum berbeda.
Masih di sesi pertama Diskusi PSSI Harus Baik Vol 2, Berubah atau Bubrah yang diadakan Rabu (23/10). Hukum dan penerapannya masih menjadi masalah serius dalam tata kelola sepak bola Indonesia. Sebab, hukum atau regulasi yang dibuat justru dilanggar atau ditabrak sendiri oleh federasi. Juga oleh pengelola kompetisi.
Jadinya, bukan ketertiban yang terbit, tetapi kekacauan demi kekacauan yang muncul. Ambil contoh soal penerapan hukuman atas tindak kekerasan yang muncul dalam suatu pertandingan. PSSI bisa dengan sangat tegas menjatuhkan hukuman. Entah itu kepada panpel, klub, atau suporter. Tetapi, saat hukuman belum sepenuhnya dijalankan, tiba-tiba federasi merevisi, atau memberikan keringanan.
Keputusan itu akhirnya tidak menimbulkan efek jera. Akibatnya, kekerasan yang sama atau bahkan lebih parah terulang. ’’Situasi ini harus diubah. Hukum di sepak bola Indonesia itu harus dibuat tegas. Begitu pula penerapannya,’’ kata salah seorang calon anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Ahmad Riyadh.
Pria yang juga memimpin Asprov PSSI Jawa Timur itu menyakini bahwa jika regulasi dibuat dengan jelas dan diterapkan secara tegas, semua yang terlibat di sepak bola Indonesia pasti mematuhinya. Riyadh mencontohkan, masyarakat Indonesia saat bepergian ke negara-negara yang aturannya ketat justru sangat patuh.
’’Orang Indonesia itu kalau ke Singapura pasti tidak berani merokok atau membuang sampah sembarangan. Sebab, aturannya ditegakkan dengan ketat. Tapi, begitu kembali ke Indonesia, ya kembali ke kebiasaan di sini,’’ papar Riyadh.
Hukum yang diterapkan dengan tegas, lanjut Riyadh, bisa membentuk budaya masyarakat. Begitu pula di sepak bola. ’’Jika hukum ditegakkan, saya percaya tata kelola dan kehidupan sepak bola Indonesia akan lebih baik,’’ ujar Riyadh.
Calon anggota exco lainnya, Viola Kurniawati, pun memiliki pandangan serupa. Selama ini federasi atau operator kompetisi sering tidak konsisten menerapkan aturan. Viola mencontohkan, pembukaan Liga 1 musim 2019. Musim ini liga dibuka dengan partai PSS Sleman melawan Arema Malang di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Hal itu berbeda dengan apa yang terjadi selama ini. Sebab, dari musim ke musim, Liga Indonesia selalu dibuka dengan pertandingan tim juara kompetisi musim sebelumnya. Karena berbeda, akhirnya berbagai alasan dibuat. Nah, budaya tersebut sering terjadi dalam kasus-kasus yang lain. Hal itu pun membudaya dan membuat tata kelola sepak bola Indonesia tidak sehat. ’’Ketegasan dari federasi memang hal yang penting. Ketegasan ini untuk semua hal agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan,’’ kata Viola. (bagian dua-bersambung)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
