
Kegagalan Timnas di Piala AFF lebih karena PSSI yang selalu berpikir instan.
JawaPos.com - Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF menambah panjang keterpurukan tim senior di ajang internasional. Sejak masih bernama Pialal Tiger, turnamen antarnegara ASEAN ini belum pernah direngkuh Tim Garuda. Lima kali tampil di final, lima kali pula gagal juara.
Tahun ini, menjadi kegagalan keempat Timnas lolos ke babak berikutnya. Kontan, kegagalan ini mendapat perhatian dari para legenda Timnas. Mereka prihatin dengan ketidakseriusan PSSI dalam mengembangkan pasukan Timnas. Bima Sakti pun jadi korban ketidakberesan pengurus PSSI saat ini.
”Kasihan Bima Sakti, jadi korban. Masih muda minim pengalaman,’’ kata Ferril Raymond Hattu, kapten Timnas Indonesia saat merebut emas SEA Games 1991. Menurut dia, pelatih dan pemain sudah bekerja keras, tapi kebijakan PSSI yang merusak segalanya.
’’Harapan ketika dipegang Luis Milla itu bagus. Lihat Asian Games 2018 lalu, bagaimana Indonesia bermain. Luar biasa,’’ tegasnya.
Akan tetapi, PSSI malah tidak memperpanjang kontrak Milla. Dihiasi drama saat PSSI mendapat tekanan netizen untuk memperpanjang kontrak sang pelatih. PSSI justru kemudian menunjuk Bima Sakti yang dirasa ilmunya sudah sama dengan Milla karena jadi asistennya selama dua tahun.
Faktanya, Bima Sakti gagal total. Bima Sakti gagal melanjutkan permainan atraktif skuad Garuda di Asian Games 2018. Hanya mampu menang atas tim lemah Timor Leste dan kalah dari Singapura juga Thailand.
’’Ketuanya (Ketua PSSI Edy Rahmayadi, Red) sibuk dengan kerjaan barunya sebagai gubernur. Bagaimana bisa fokus, bagaimana bisa meraih prestasi. Semua harus berbenah. PSSI itu harus diisi orang-orang yang mengerti bola, bukan seperti sekarang yang mikirnya komersil saja,’’ ungkapnya.
Legenda Timnas lainnya, Rochy Putiray, mengaku tidak terlalu kecewa dengan kegagalan kali ini. Sebab, dia sudah memprediksi sejak awal bahwa Hansamu Yama dkk tidak akan memberi gelar apapun kepada rakyat Indonesia di Piala AFF 2018. ’’Tidak lolos itu maunya pengurus (PSSI). Memang maunya seperti itu,’’ sebut sosok yang dikenal nyentrik ini.
Sementara itu, mantan pemain Timnas Indonesia asal Surabaya Uston Nawawi berharap masyarakat tidak menghujat staf, pelatih, maupun pemain Tim Garuda. ’’Semua butuh proses. Pelatih sekelas Milla saja baru bisa menemukan permainan terbaik Timnas selama dua tahun. Bima juga tidak mengajukan diri jadi pelatih, dia ditunjuk,’’ jelasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
