alexametrics

Bonek = Bondo, Nekat, dan Kreatif

21 Maret 2017, 20:10:38 WIB

JawaPos.com – Bonek merupakan akronim bondo nekat. Itu dulu. Itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang Bonek adalah bondo, nekat, dan kreatif. Suporter setia Persebaya Surabaya tersebut telah berubah. Penegasan wajah baru itu tersaji dalam laga persahabatan bertajuk Homecoming Game antara Persebaya kontra PSIS Semarang di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (19/3).

Diawali dari kata bondo. Kapasitas 55 ribu penonton di Gelora Bung Tomo yang penuh tanpa celah menjadi buktinya. Mereka semuanya bertiket. Sebab, tiket pertandingan terjual habis. Harga untuk kategori fans atau kita biasa mengenalnya dengan tiket tribun ekonomi mencapai Rp 35 ribu. Tiket superfans atau VIP dijual seharga Rp 200 ribu.

Mau bukti lainnya. Penjualan jersey pramusim Persebaya dan atribut lainnya adalah contoh lain. Jersey pramusim tim berjuluk Green Force itu diburu banyak penggemar Persebaya. Mereka juga antusias membeli merchandise yang dikeluarkan manajemen Persebaya. Bayangkan, pada pembukaan Kamis (16/3), barang yang dijual ludes terbeli hanya dalam kurun waktu empat jam. Bonek tidak pernah segan merogoh kocek untuk kesebelasan kebanggaannya.

Bonek = Bondo, Nekat, dan Kreatif
Ratusan suporter Persebaya Surabaya atau bonek menyalakan flare saat pertandingan berjalan antara Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang pada Friendly Match di Stadion GBT, Minggu (19/3) (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

Lalu, nekat. Bonek membuktikan diri rela melakukan apa pun demi Persebaya. Yang paling romantis tentu saja mereka setia kepada Persebaya sekalipun kesebelasan yang dibelanya tidak berkompetisi. Tidak cukup setia, Bonek juga tidak pernah lelah berjuang mengembalikan hak Persebaya. Kurang nekat apa coba?

Saat Persebaya bertanding, mereka berbondong-bondong ke stadion. Apa pun halangan dan rintangannya mereka hadapi. Segala cara asal positif mereka jalankan. Misalnya, Bonek dari luar Kota Surabaya. Banyak di antara mereka yang urunan menyewa kendaraan demi bisa sampai stadion.

Nah, yang terakhir soal kreatif. Mereka kini hadir dengan beragam kreativitas. Tidak sekadar memasang spanduk dukungan untuk menggelorakan semangat para pemain. Mereka juga tidak lelah untuk terus bernyanyi. Lagu-lagu yang disuarakan jauh dari kata rasial. Bonek juga membuat koreografi. Ketika laga Persebaya versus PSIS, suporter di tribun selatan membentangkan bendera raksasa. Bendera itu bergambar logo wong mangap dengan latar warna hijau dan putih. Bendera tersebut digerakkan dari tribun bagian bawah ke atas, lalu kembali ke bawah.

Tribun utara atau biasa dikenal Green Nord 27 menampilkan koreografi dari ribuan kertas warna hijau dan putih. Koreo itu membentuk huruf V yang berarti victory dengan tambahan logo Persebaya di bagian tengah atas. Koreo tersebut menegaskan makna tentang kejayaan, kemenangan, dan perjuangan tanpa lelah.

”Saya tidak pernah melihat antusiasme luar biasa seperti ini di tempat lain. Bonek benar-benar hebat,” tutur salah seorang warga Jepang yang menonton di tribun VIP, Kota Yoshida. ”Jika ada waktu lagi, saya akan datang untuk melihat aksi mereka kembali,” lanjut pria 26 tahun yang tinggal di Surabaya setahun belakang karena urusan kerja tersebut.

Pujian yang sama datang dari Kompol Edy Kresno. Wakasatintel Polrestabes Surabaya itu menyatakan, Bonek telah membuktikan diri bahwa stigma negatif yang melekat selama ini telah luntur. ”Siapa pun yang datang ke stadion pasti merinding. Bonek benar-benar berubah dan mudah-mudahan akan makin lebih baik lagi,” ujarnya.

Pujian yang tidak berlebihan. Memang belum semua Bonek berubah. Tetapi, mayoritas mengubur segala hal negatif yang melekat pada masa lalu Bonek. Mereka kembali meneguhkan arti suporter yang sesungguhnya: mendukung, bukan membebani klub yang dibelanya.

Tengok saja cara mereka untuk membuat koreo. Bonek menolak bantuan pihak luar. Mereka memilih urunan setiap acara kopi darat. Biasanya saat acara sharing sebuah kota diputar keliling.

Masing-masing yang datang biasanya paham bahwa kotak itu diisi uang. Berapa pun. Hasilnya lantas dibelikan berbagai alat untuk mendukung kreativitas mereka. Misalnya, membeli perangkat drum, membuat long banner, giant flag, dan seperangkat sound system. Juga membeli kertas untuk koreografi. 

”Semua untuk Persebaya. Kami ingin mandiri, berdiri di kaki sendiri untuk mendukung dan menghidupi Persebaya,” tegas Syaiful Antoni, dirigen Bonek tribun utara. (rid/c14/fim)

 

Editor : Thomas Kukuh

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads
Bonek = Bondo, Nekat, dan Kreatif