alexametrics

Evan Dimas dan Andik Vermansah, Kisah Cinta yang Tak Tepat Waktu

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
12 Januari 2020, 17:00:02 WIB

JawaPos.com – Cinta tidak salah. Tapi, mungkin waktunya saja yang tak tepat. Itulah yang dialami Evan Dimas dan Andik Vermansah dengan Persebaya Surabaya. Mereka selalu berharap pulang ke rumah. Bonek pun selalu dengan sukacita menyambut mereka.

Namun, cinta tak selalu berakhir di pelaminan bukan? Bahkan, yang pernah sampai ke pelaminan pun bisa cerai karena berbagai alasan. Seringkali saat cinta masih tersisa. Andik tak pernah membayangkan untuk berpisah dari Persebaya 1927. Klub yang mengorbitkan namanya. Yang dicintainya.

Masalahnya, klub kesayangannya itu dimatikan oleh PSSI. Pilihannya adalah, karirnya yang baru dimulai harus karam bersama Persebaya, atau dia mencari kapal baru. Karena tak ingin menyakiti Bonek, pilihannya adalah merantau ke negeri seberang.

Saat Andik merantau dan sesekali pulang untuk menengok klub kesayangan yang dihancurkan PSSI, Bonek terus berjuang agar Persebaya kembali ke kompetisi resmi. Syahdan, pada akhir 2016, Persebaya mendapatkan angin segar dari ketum PSSI Edy Rahmayadi.

Akhirnya, bersama Jawa Pos, Persebaya kembali ke kompetisi resmi, meski harus memulainya dari Liga 2. Bukan soal. Yang terpenting, Persebaya telah kembali dengan semangat berapi-api. Dan, Andik adalah pemain pertama yang didekati Persebaya. (Tambahan: Jacksen F Tiago, pelatih pertama yang didekati).

Saat itu, Andik masih di Selangor FA. Dia sempat berkunjung ke Graha Pena yang ketika itu jadi kantor Persebaya. Andik dalam fase pemulihan cedera dan kompetisi masih berjalan di Malaysia. Kontraknya juga tidak bisa begitu saja diputus di tengah jalan.

Saya masih ingat betul ketika dia berkunjung ke Graha Pena, yang tentunya kantor Jawa Pos. Karena Jawa Pos juga sedang getol-getolnya mempromosikan Jawa Pos Fit, salah satu halaman di Sportainment, yang membahas tentang lari, Andik pun sempat dimintai tolong berfoto memakai kaos biru tua Jawa Pos Fit.

Saat itu, para petinggi Persebaya, tentu saja masih Jawa Pos, sungguh berharap Andik bisa bergabung. Namun, kontrak masih terjalin dengan Selangor FA dan Persebaya hanya bermain di Liga 2. Janji tak tertulis pun terucap. Kembali lah musim depan saat Persebaya di Liga 1.

Musim berikutnya, Persebaya akhirnya promosi. Juara Liga 2. Dan, seperti yang kita ketahui bersama, negosiasi dengan Andik berjalan, tapi tak pernah tuntas. Berulang lagi pada musim berikutnya. Tak tuntas lagi. Andik terpaksa ke Madura United, tapi hatinya berada di seberang jembatan Suramadu.

Setidaknya, nasib Andik lebih baik ketimbang Evan. Andik pernah berkostum Persebaya. Evan belum. Bagi pemain yang dibina di SSB Mitra Surabaya, di bawah arahan almarhum Eko Prayogo dan Mursyid Effendi, tidak mungkin Evan tak bermimpi membela Persebaya.

Karir Evan dimulai pada waktu yang keliru dalam lini masa Persebaya. Ketika klub kebanggaan Kota Pahlawan itu sedang dirongrong melalui dualisme. Klub-klub internal pecah. Para pembina Mitra Surabaya kebingungan. Tentu, yang diinginkan adalah Evan gabung Persebaya, tapi yang mana?

Akhirnya, roda nasib memaksa anak muda itu bermain di Persebaya jadi-jadian. Lalu, Bhayangkara FC (masih klub yang sama, tapi beda nama). Begitu ada kesempatan pergi dari klub yang pernah ganti nama entah berapa kali itu, Persebaya jadi yang Evan inginkan.

Sayang, awal musim lalu, drama negosiasi tidak berujung teken kontrak, melainkan saling klarifikasi. Tidak ada yang salah dalam situasi itu. Cinta memang begitu. Terkadang bisa bertepuk sebelah tangan. Terkadang sempat bersatu, tapi tidak untuk selamanya. Tak ada yang bisa dipaksakan.

Saya yakin, ke manapun Evan dan Andik memilih klub musim ini, cinta kepada Green Force tetap tertanam di dada mereka. Dan, itu hak mereka. Sama seperti hak Persebaya untuk belum berjodoh dengan mereka. Mungkin, jalannya berliku dan suatu saat mereka pulang ke rumah.

Mungkin, kita hanya bisa bantu berdoa, agar mereka tak butuh waktu 21 tahun seperti Mustaqim untuk kembali ke pangkuan Persebaya. Amin.

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads