
Suasana Jakarta International Stadium (JIS) di Papango,Tanjung priok, Jakarta, Kamis (21/4/2022). Stadion tersebut berkapasitas 82.000 penonton. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS
Menyoroti Tragedi Kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan dari Sisi Kesehatan Mental
Kepiluan pascalaga Persebaya versus Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada 1 Oktober lalu dipicu man-made disaster. Seharusnya, sebelum sibuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mencari siapa yang salah, kepentingan korban menjadi prioritas. Berempatilah!
---
”BENCANA tidak bisa hanya diukur dari luka secara fisik. Yang sembuhnya paling lama justru luka batin,” papar psikiater Nalini Muhdi saat berbincang dengan Jawa Pos kemarin (8/10). Karena itu, di negara-negara maju, setiap terjadi bencana, pemerintah menerjunkan tim lengkap yang mencakup petugas penanganan fisik, sosial, dan mental. Diharapkan, trauma fisik dan mental bisa diatasi berbarengan.
Nalini menyampaikan, sebenarnya ada langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah luka batin itu meradang. ”Empati,” tegasnya. Korban membutuhkan banyak empati untuk mengatasi traumanya. Dan, empati yang kontribusinya paling besar adalah empati dari para pemimpin negeri. Setelah itu, diikuti dengan empati dari masyarakat.
Mengapa demikian? Korban yang dirundung duka dan lara membutuhkan pengakuan. Ketika para pemimpin berempati lewat permintaan maaf dan sikap bertanggung jawab, korban akan mendapatkan validasi atas beban emosinya. Korban pun bisa menerima fakta dan kemudian melangkah ke tahap pemulihan luka batin.
Menurut Nalini, selama satu bulan seusai kejadian, para korban masih sangat membutuhkan pendampingan. Karena itu, dia menyambut baik upaya pemerintah, khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), yang langsung menjangkau para korban dan mempersiapkan tim pendamping. Khususnya untuk perempuan dan anak-anak. ”Yang biasanya terdeteksi cepat adalah acute stress disorder. Semakin cepat diketahui akan semakin cepat pula diatasi. Mudah-mudahan tidak sampai terjadi post-traumatic stress disorder,” terangnya.
Konsultan psikiatri yang menjadi rujukan banyak psikiater itu menyesalkan ”manajemen kebakaran” yang lagi-lagi dipertontonkan pemerintah. ”Kalau sudah ada ’kebakaran’, sudah ada kejadian, baru kemudian sibuk membentuk ’panitia’. Yang seperti ini seharusnya disudahi. Tidak perlu diulang-ulang terus,” tuturnya.
Nalini menegaskan, ada begitu banyak hal yang sebenarnya bisa diterapkan untuk mencegah ”kebakaran” itu. Mitigasi stadion, misalnya. ”Saya rasa aturannya sudah ada dan jelas. Tapi, dalam praktiknya memang perlu ada sosialisasi, perlu ada edukasi. Dan, itu butuh waktu,” ungkap Nalini.
Jika pramugari di pesawat bisa menyita perhatian kita dengan paparan yang sangat menarik soal mitigasi, para pengelola stadion bisa melakukan hal yang sama. Itu bukan hal yang sulit, tetapi belum dilakukan di Indonesia. Padahal, dalam regulasi FIFA aturan tentang mitigasi itu juga dicantumkan.
”Rumah saya ini dekat dengan Stadion Sultan Agung. Lokasi stadion tidak jauh dari episentrum gempa Jogja pada 2006. Itu seharusnya menggugah kepedulian kita pada mitigasi. Namun, saya tidak pernah mendengar announcer mengumumkan mitigasi setiap ada laga di sana,” ungkap Fajar Junaedi pada Rabu (5/10). Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pemerhati sepak bola itu berharap tragedi Kanjuruhan bisa membuat semua orang lebih peduli pada hal-hal detail soal mitigasi.
Photo
KAPASITAS BESAR: Suasana di Jakarta International Stadium (JIS) saat grand launching tadi malam (24/7). (HARITSAH ALMUDATISR/JAWA POS)
RANGKAIAN
Merujuk pada aturan FIFA, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pun telah menguraikan mitigasi dalam regulasi tertulis soal stadion. Sayangnya, teori itu tidak dipraktikkan sebagaimana mestinya. Karena itu, Fajar maupun Nalini mengingatkan kembali kepada semua pihak agar menyeriusi regulasi tentang keamanan dan keselamatan bagi penonton.
Dalam pernyataan resminya, Menteri PPPA Bintang Puspayoga juga mendesak lahirnya stadion yang ramah perempuan dan anak-anak. Sebab, perempuan dan anak-anak juga menjadi korban dalam tragedi Kanjuruhan. Data terakhir menyebutkan bahwa 42 perempuan dan 37 anak meninggal dalam kericuhan yang dipicu tembakan gas air mata tersebut.
”Semestinya pertandingan sepak bola menjadi tontonan yang menghibur, menyenangkan, dan aman bagi penontonnya. Juga, jauh dari tindak kekerasan. Wajar jika perempuan dan anak-anak juga tertarik menonton sepak bola,” ungkap Bintang pada Senin (3/10).
Karena tidak mungkin melarang perempuan dan anak-anak datang ke stadion, yang harus dilakukan adalah menjadikan stadion sebagai lokasi yang ramah perempuan dan anak-anak. Juga, ramah bagi kelompok rentan lainnya. Misalnya, para penyandang disabilitas.
”Menyampaikan mitigasi bencana sebelum pertandingan dimulai bisa menjadi langkah awal menuju perbaikan tata kelola stadion. Jika hari itu ada dua kali laga, ya berarti pengumuman tentang mitigasi itu disampaikan dua kali. Lama-lama, jika dibiasakan, masyarakat akan aware secara kognitif. Itu juga akan meningkatkan nilai keamanan dan kenyamanan di stadion,” papar Nalini.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
