Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 November 2020 | 02.37 WIB

Kompetisi Tak Jelas, Serangan Masalah Keuangan, Tarkam Jadi Ancaman

Hariono (kanan), pemain klub Bali United FC saat bergabung berlatih dengan 81 FC di Lapangan Sukodono, Sidoarjo. FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos - Image

Hariono (kanan), pemain klub Bali United FC saat bergabung berlatih dengan 81 FC di Lapangan Sukodono, Sidoarjo. FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos

JawaPos.com – Ketidakjelasan kompetisi, baik Liga 1 maupun Liga 2, membuat semangat bertanding para pemain drop. Belum lagi masalah keuangan.

Di mana gaji mereka di klub dipangkas habis-habisan karena tidak ada pertandingan. Pemain tentu membutuhkan tambahan dana agar dapur tetap mengepul sambil menunggu kejelasan kompetisi yang katanya bergulir Februari tahun depan.

Salah satu cara mencari tambahan pemasukan adalah ikut turnamen-turnamen antarkampung alias tarkam. Walau bayaran yang didapat tidak sama dengan di klub, paling tidak mereka masih bisa mendapatkan income. Plus fisiknya tetap terjaga selama kompetisi vakum.


Hal itu direspons berbeda oleh beberapa klub di Indonesia. Ada yang memperbolehkan pemainnya ikut tarkam, ada yang melarang. Salah satu yang memperbolehkan adalah Persita Tangerang.

Walau tidak secara gamblang, Manajer Persita I Nyoman Suryanthara memperbolehkan pemainnya main tarkam. Tapi, bukan karena alasan cari pemasukan lain, tapi untuk menjaga kondisi dan mengisi waktu luang. ’’Kalau lihat aturan, pemain sudah terikat kontrak. Di sana ada tata tertibnya. Pemain tidak boleh main di luar jadwal Persita,’’ paparnya.

Namun, dia ingin lebih fleksibel. Manajemen pun memberi keringanan pemain boleh ikut tarkam untuk menjaga kondisi. Nyoman sendiri mengaku ada banyak keuntungan memperbolehkan para pemain ikut tarkam selama belum ada kejelasan kompetisi.

’’Mereka nanti tidak lama sentuh bola. Kalau latihan virtual efektivitas kami tinggi, tapi mereka kan juga butuh merasakan atmosfer pertandingan dan lapangan sepak bola,’’ tuturnya.

Jika penggawa skuad Laskar Pendekar Cisadane mendapat izin main tarkam, klub Liga 1 lainnya seperti Barito Putera melarang tegas. Manajer Barito Putera Mundari Karya menyatakan tidak memberikan izin sedikit pun untuk para pemain ikut tarkam. Tujuannya, pemain terhindar dari cedera. ’’Ini buat keselamatan mereka,’’ tuturnya.

Namun, bukan berarti tidak boleh main bola. Mundari mengaku tetap mengizinkan pemainnya bermain bola di lapangan. Asalkan dengan komunitas yang juga pesepak bola. Komunitas yang benar-benar mengerti bagaimana menjaga tubuh jelang kompetisi.

Selain itu, syarat lainnya adalah lapangan tempat bermain. Barito Putera tidak mau para pemain bermain bola di lapangan yang buruk. ’’Lapangannya harus bagus. Jadi, bisa meminimalkan cedera,’’ terangnya.

Sama halnya dengan Barito Putera, Persib Bandung memberlakukan peraturan ketat soal tarkam selama libur kompetisi kepada pemainnya. Seperti yang dikatakan

Direktur Operasional PT Persib Bandung Bermartabat Teddy Tjahyono. Menurut dia, jika ada pemain yang ketahuan main tarkam atau ajang tak resmi lainnya, pihaknya akan menegur keras sang pemain. ’’Seperti Zulham tuh, kemarin saat pandemi dia main di mana, kami tegur juga,’’ tuturnya.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore