
Selebrasi striker Persebaya David da Silva usai menjebol gawang tim Persela pada pertandingan Liga 1 di Stadion Surajaya, Lamongan, akhir Maret lalu.
JawaPos.com - Rivalitas paling sengit, sekaligus paling getir, biasanya melibatkan orang-orang dekat. Ingat kisah Qabil dan Habil? Dari kitab suci kita mengenal rivalitas, juga pertumpahan darah pertama di dunia, terjadi di antara saudara.
Kisah-kisah rakyat tentang jatuh bangunnya kerajaan, asal usul suku dan desa, berawal dari perseteruan kerabat dekat Di film dan novel silat, alur cerita digerakkan persaingan dua saudara seperguruan. Sehari-hari kita pun mendengar persaingan sengit antarsepupu....
Dalam khazanah sepak bola, kita mengenal istilah derby (derbi), El Clasico, Der Klassiker, atau Match of Eternal Enemies. Perseteruan paling keras hampir selalu melibatkan tim yang lahir dan berasal dari kota, bahkan berbagi stadion, yang sama.
Sebagai provinsi sepak bola, Jawa Timur pun memiliki rivalitasnya sendiri. Hari ini Persebaya Surabaya dan Arema FC menyeret publik sepak bola ke dalam pusaran persaingan.
Seperti rivalitas klasik lain, kita tidak akan pernah menemukan cerita tunggal tentang bagaimana dan mengapa rivalitas itu terbentuk. Ada yang bilang insiden tawuran anak-anak muda Malang dan Surabaya di konser musik yang jadi pemicu.
Ada yang menyebut arogansi tokoh-tokoh sepak bola di salah satu dari dua kota itu sebagai biangnya. Satu versi menyebut ketidakseimbangan pemberitaan media massa. Versi lain mengaitkan rivalitas tersebut dengan perpindahan pelatih dan pemain.
Masing-masing punya pembenaran dan kebenarannya sendiri. Barangkali tak penting mencari mana yang lebih sahih. Yang pasti, rivalitas Persebaya dan Arema belum begitu lama. Rivalitas itu bahkan, pada awalnya, tidak bisa dikatakan sebagai derby. Persebaya dan Arema bukan "saudara dalam sepak bola". Persebaya lahir 60 tahun lebih tua daripada Arema. Kedua klub lahir dari rahim kompetisi yang berbeda dan tumbuh di masa yang berbeda pula. Yang satu di kompetisi Perserikatan, yang lain di era Galatama.
Keduanya punya sejarah rivalitas, meskipun barangkali tidak terlalu sengit, justru dengan klub lainnya. Di sepanjang dekade 1980-an kita mendengar permusuhan Persebaya vs Persema. Sementara di akhir 1980-an dan awal 1990-an kita menyaksikan persaingan Arema dengan Niac Mitra.
Adanya rivalitas Persebaya vs Persema dan Niac Mitra vs Arema sebelum Persebaya vs Arema menunjukkan sesuatu yang lain. Yakni persaingan yang lebih laten, lama dan besar: rivalitas dua kota dari subkultur yang sama. Rivalitas Persebaya vs Arema adalah manifestasi kontemporernya.
---
Surabaya dan Malang adalah dua kota yang menjadi anak kandung subkultur Jawa Timuran yang paling Jawa Timur. Dua kota tersebut tidak begitu terpengaruh budaya Madura dan Islam -seperti halnya kota-kota di kawasan Tapal Kuda. Keduanya juga nyaris tidak mendapatkan penetrasi budaya Mataram -seperti kota-kota di bagian baratnya.
Dua kota itu lantas mengembangkan subkulturnya sendiri. Terletak di pesisir, Surabaya menjadi kota dagang dan industri manufaktur yang ramai. Sementara Malang, berada di pedalaman dan diberkahi keindahan alam, identik dengan kota wisata, pertanian, dan pendidikan.
Keduanya memiliki keunikan, dari bahasa sampai makanan. Surabaya menghasilkan ludruk; Malang menemukan bahasa walikan. Surabaya punya Basman dan Kartolo, sedangkan Malang bangga dengan Ian Antono. Surabaya menemukan rujak cingur dan lontong kupang. Malang menciptakan bakso dan angsle.
Dua kota itu juga mengembangkan versi Jawa yang lebih egaliter dan terbuka. Dikelilingi pabrik dan toko-toko, penduduk Surabaya identik dengan kelas pekerja yang dibekali tekad kuat, rasa setia kawan, dan keberanian. Sementara itu, dengan kesejukan iklimnya, orang Malang membanggakan daya kreativitas dalam usahanya.
Dua kota tersebut, pada dasarnya, juga dekat dan saling membutuhkan. Orang Surabaya butuh hasil bumi dan udara segar dari Malang. Orang Malang perlu barang pabrikan dan layanan finansial dari Surabaya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
