Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Desember 2019 | 01.39 WIB

Persik Kediri, Juara Liga Indonesia yang Kembali ke Strata Tertinggi

Suasana Persik Store yang menjual merchandise resmi  atribut Persik ramai dikunjungi Persik Mania.   TATAP LIGA 1: Persik Store di Kediri menjual merchandise resmi klub berjuluk Macan Putih itu, Jumat (29/11). Dite Surendra/Jawa Pos - Image

Suasana Persik Store yang menjual merchandise resmi atribut Persik ramai dikunjungi Persik Mania. TATAP LIGA 1: Persik Store di Kediri menjual merchandise resmi klub berjuluk Macan Putih itu, Jumat (29/11). Dite Surendra/Jawa Pos

Stadion Brawijaya harus banyak dibenahi kalau Persik ingin main di sana. Pemkot Kediri juga masih berkomunikasi dengan berbagai pihak yang dibidik sebagai sponsor. Tapi, untuk urusan teknis, mulai skuad muda sampai tim putri, mereka sudah siap.

MIFTAKHUL F.S., Kediri, Jawa Pos

---

KENYATAAN pahit itu masih terekam kuat dalam ingatan Subiyantoro. Juga selalu bergemuruh di dalam dadanya.

Di tahun pertamanya dipercaya ikut mengurus Persik Kediri, kesebelasan yang bermarkas di tepi Kali Brantas itu malah dieliminasi dari Indonesia Super League (ISL), kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada musim 2015.

Perjuangan berdarah-darah Persik, juara Liga Indonesia 2003 dan 2006, untuk kembali ke ”habitatnya” seakan terasa sia-sia. Padahal, jalan untuk kembali ke orbit tertinggi sepak bola nasional setelah terdegradasi di akhir musim 2009–2010 sangat berat. Butuh waktu tiga tahun.

”Sedih dan sakit sekali rasanya, tapi memang harus kami terima. Sebab, Persik memang bermasalah secara finansial,” ujar Toro, sapaan akrab Subiyantoro, yang kala itu menjadi sekretaris umum Persik.

Persik memang dieliminasi karena faktor finansial. Tim dari Kota Tahu itu tidak turun sendirian. Persik dieliminasi bersama Persiwa Wamena ketika itu. ”Sudah tidak punya uang, Persik memiliki utang hampir empat miliar rupiah pula,” ucap dia.

Tapi, berakit-rakit ke hulu, Persik akhirnya memang bersenang-senang kemudian. Pada 25 November lalu, Persik sukses menggondol titel juara Liga 2. Gelar yang sangat istimewa. Sebab, dua musim berturut-turut tim itu berhasil promosi dengan status juara. Setahun sebelumnya, Persik menjuarai Liga 3 dan berhak promosi ke Liga 2. Kini tim itu kembali ke kasta teratas dengan status juara Liga 2.

Pesta pun kembali tergelar di Kediri. Pada 25 dan 26 November lalu, masyarakat Kediri turun ke jalan. Merayakan kemenangan kesebelasan kebanggaannya.

Tapi, pesta itu kini telah usai. Dan lazimnya setelah pesta, si empunya ”rumah” harus berberes.

”Pengalaman musim 2015 menjadi pelajaran penting. Kami tak mau terlalu lama menikmati pesta kemenangan ini,” kata Toro yang kini menduduki kursi CEO Persik.

Masih banyak, lanjut Toro, pekerjaan rumah (PR) yang harus dibereskan. Apalagi, seperti disebutkan oleh Manajer Persik Beny Kurniawan, sejatinya Persik baru menargetkan naik ke Liga 1 pada musim 2022.

”Jadi, ini kami terlalu cepat dua tahun. Tapi, karena sudah telanjur, PR yang ada harus segera kami rampungkan,” ujarnya.

Toro, juga Beny, tak menutup mata bahwa PR itu begitu banyak. Dan yang paling besar menyangkut infrastruktur. PR Persik berserakan di sudut-sudut Stadion Brawijaya.

Ada begitu banyak kekurangan di stadion berkapasitas 15 ribu penonton tersebut. Lampu, pagar, tribun barat, bench pemain, toilet, juga akses menuju pintu utama stadion.

Lampu stadion, misalnya. Saat ini kekuatan penerangan Stadion Brawijaya hanya 550 lux. Padahal, operator liga mensyaratkan 1.200 lux. Pagar tribun stadion kebanggaan masyarakat Kediri itu juga terlalu ”ringkih”.

Dan, kekurangan yang ”khas” Stadion Brawijaya adalah tribun barat dan akses ke pintu utama. Tribun VIP Stadion Brawijaya sangat rendah. Pandangan penonton tertutup bangku pemain cadangan.

Akses ke pintu utama pun sangat sempit. Juga harus melewati gapura SMAN 8 Kediri terlebih dahulu sebelum masuk ke halaman depan stadion. ”Persik itu Kediri. Maka, Persik harus bermain di Kediri,” kata Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Abu, sapaan akrabnya, sadar betul bahwa Stadion Brawijaya menjadi tugas terbesar Persik sebelum kembali tampil di kasta teratas sepak bola nasional. Pemerintah Kota Kediri pun, papar dia, akan membantu menyelesaikan PR tersebut.

”Kami tunggu dulu hasil dari tim verifikasi. Apa yang kurang, itu yang akan kami perbaiki,” katanya.

Persik adalah tim di luar ibu kota provinsi kedua yang sukses menjuarai kasta teratas di era Liga Indonesia. Petrokimia Putra Gresik yang pertama. Tapi, Persik berhasil melakukannya dua kali saat strata tertinggi kompetisi di tanah air masih bernama Divisi Utama.

Yang perlu digarisbawahi, dua gelar itu diraih saat dana APBD masih diizinkan untuk pendanaan sepak bola. Tapi, sudah lebih dari satu dekade hal tersebut tak diperkenankan lagi.

Karena itu, selain soal infrastruktur, Persik, terang Abu, juga butuh tambahan sponsor. Sebab, pendanaan di Liga 1, yang pesertanya musim depan membentang dari Aceh sampai Papua, jauh lebih besar. Apalagi jika Piala Indonesia dihelat lagi.

Namun, untuk urusan teknis tim, Persik boleh menepuk dada. Sejak terdegradasi ke Liga 3 di akhir musim 2017, Persik langsung menyiapkan tim usia muda. Mereka bekerja sama dengan SMPN 2 Kediri.

Sepak bola putri setali tiga uang. ”Untuk Elite Pro Academy U-16 dan U-18, kami sudah memiliki tim,” kata Beny.

Di sepak bola putri pun, lanjut Beny, Persik punya Putri Kadiri. ”Badan hukum, kami sudah memiliki. PR kami memang di infrastruktur,” papar Beny.

Dan, seperti janjinya, manajemen Persik tidak bakal sendirian menyelesaikan PR tersebut. Pemerintah Kota Kediri akan berdiri di belakang mereka. Bahkan, Abu sudah menjalin komunikasi dengan beberapa pihak untuk menjadi sponsor Persik.

Gudang Garam, pabrik rokok besar yang berbasis di Kediri, menjadi tujuan pertama. ”Persik lahir di Kediri, Gudang Garam juga lahir di Kediri. Ini momentum yang tepat bagi mereka untuk berkolaborasi,” ujar Mas Abu.

Persik era sekarang dia sebut sebagai Persik yang memiliki integritas. Bermain sepak bola dengan cara yang sehat. ”Juga dijalankan dengan cara-cara yang sehat,” katanya.

Sebab, Persik tak mau mengalami lagi kenyataan pahit layaknya musim 2015. Kenyataan yang diyakini Toro bukan hanya masih melekat dalam ingatan pribadinya. Tapi juga menancap di ingatan masal semua yang mencintai Persik.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore